Arsip untuk Februari, 2008

OH ITB (versi gambar)

Posted: 26 Februari 2008 in iseng, serius
tampilan game SAtampilan luar simulatorinterior simulatortampilan AR ADwajah yang di AR-kanwajah aslinyobapresentasi

Setelah diseleksi, inilah foto-foto yang dapat saya tampilkan, karena yang lain terlalu riskan untuk dilihat orang lain. Yah, walaupun saya punya perasaan kalau tetap saja bakal ada yang mentertawakan saya 😐

Namun, sebelumnya, saya perlu minta maaf karena kualitas gambarnya kurang bagus. Maklum lah, foto-foto itu diambil dengan kamera HP 2 MP. Oke… berikut ini adalah keterangan gambarnya (dari kiri ke kanan).

  1. Gambar 1 adalah hasil pekerjaan tim Advance Game, yaitu Game RTS Sultan Agung versi alpha. Gameplay sudah berjalan dengan baik, namun bentuk karakter dan bangunan masih kurang cocok dengan setting jaman di masa hidupnya Sultan Agung Hanyokrokusumo.
  2. Itu adalah gambar tampak luar dari multi-purpose simulator platform yang dibuat oleh tim simulator. Banyak yang terkagum-kagum mengetahui kemampuan dari platform tersebut, yang dapat bergerak sesuai dengan gerakan mesin dalam game. Jadi, kalau pesawatnya banking ke kiri, platform-nya juga akan miring ke kiri. Walau begitu, tetap saja ada yang bilang kalau bentuknya agak aneh lah… kayak bemo lah… yah, hal-hal semacam itu, yang meruntuhkan mental πŸ˜•
  3. Tampilan dalam platform simulator terdiri dari sebuah dudukan monitor, kursi tempat duduk pengguna, dan controller. Karena multi-purpose, maka ada dua jenis kontroler. Satu untuk driving, dan satu lagi untuk flight. Tank simulator akan menggunakan keduanya. Satu untuk mengendalikan jalannya tank (pakai yang wheel), dan satu lagi untuk menggerakkan (yang berupa stick) senjatanya.
  4. Tampilan AR AD di platform marker table yang nantinya akan digunakan oleh 3 tim AR. Platform ini terdiri dari meja yang dilapisi dengan marker pattern, sebuah mechanical arm yang dilengkapi dengan monitor dan kamera sebagai visualization device. Yang mejeng di latar belakang, pakai jilbab item, adalah bosnya tim AR Volcano. Jadi perawan di sarang penyamun tuh, dianya… :mrgreen:
  5. Nah, gambar yang ini adalah tampilan aplikasi magic hat, sebuah game untuk mengganti wajah dari orang yang berada di depan komputer yang menjalankan aplikasi tersebut. Aplikasi ini dibuat mendadak dan baru ditampilkan pada hari kedua OH ITB, namun sukses menarik banyak pengunjung terutama anak-anak kecil yang antri ingin mencoba. Hasilnya, pada hari pertama dikenalkannya aplikasi ini (hari kedua open house), topi yang digunakan jadi error (baunya minta ampun, sampai pemiliknya protes) πŸ˜€ . Di hari terakhir open house, topi itu tidak dipakai lagi dan digantikan dengan ikat kepala dari kertas yang disposable.
  6. Ini adalah wajah asli dari donald yang tampil di gambar 5. Cakep, keren, tidak seperti bapak-bapak (masih muda gitu loh!!!), dan terkenal πŸ˜† (hidup narsis!!!)
  7. Ini gambar waktu seorang anak ingin mencoba magic hat. Sayangnya, waktu itu hat-nya masih belum ada, sehingga Ucup (yang pakai baju kuning) harus bersedia memegang marker dan meletakkannya di kepala anak kecil yang kegirangan.
  8. Cukup banyak yang berminat pada AR, termasuk siswi-siswi SMA ini. Mereka bertanya-tanya tentang AR AD, yang pada saat itu sedang digawangi oleh Khamdi yang menjelaskan dengan sabar. Pertanyaannya, pada dasarnya mirip. “Kok bisa gitu ya?” Dan, selama dua setengah hari, saya dan teman-teman bergantian menjelaskan hal yang sama sampai suara serak. Tapi kami senang, kok. Karena hasil kerjaan kami banyak diminati. πŸ˜€

Pada ajang OH ITB tersebut, saya juga bertemu dengan dua orang blogger, sehingga ajang tersebut jadi semacam kopdar. Ngobrolnya lama banget. Kata teman-teman, sampai 3 jam-an πŸ˜€ . Yang dibahas macem-macem. Mulai dari game technology sampai ke Sigmund Freud (ternyata begitu ya, kalau blogger ketemu dengan blogger) πŸ˜† . Mereka adalah adistei dan spitod. Yah, lumayan lah…

Pada waktu penutupan di hari ketiga,Β  kami pun membereskan semua peralatan dan perlengkapan. Saya tidak sempat banyak keliling ke stand yang lain, sehingga tidak dapat banyak bercerita tentang itu. Paling cuma ke stand-nya FTI (kebetulan ada teman yang mejeng di situ), stand-nya pusat mitigasi bencana ITB, dan stand-nya Kemahasiswaan ITB (buat minta kalender gratis :mrgreen: )

OH ITB…

Posted: 24 Februari 2008 in serius

OH ITB, adalah singkatan dari open house ITB… Merupakan sebuah ajang promosi untuk memperkenalkan ITB kepada masyarakat umum dan agar mahasiswa dapat lebih mengenal jurusan, fakultas, sekolah, dan program-program studi yang ada di ITB. Program S2 Game Technology (program yang sedang saya jalani sekarang), diminta untuk ikut berpartisipasi. Dari 9 tim kecil yang dibentuk (di angkatan saya), 8 tim diperintahkan untuk menampilkan hasil yang telah dicapai dalam pengerjaan thesis.

Seluruh tim AR (AR Hydro, AR Volcano, AR Tsunami, dan AR Architectural Design) diminta tampil bersama seluruh tim simulator (Flight, Driving, dan Tank) serta tim Advance Game. Kami diberi jatah 3 tempat di stan STEI yang berlokasi di Aula Timur ITB.

Tim Advance Game menampilkan game RTS (real time strategy) yang telah mencapai versi alpha. Game ini diberi judul Sultan Agung, dan bercerita tentang perjuangan yang ditempuh Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram. Pada versi alpha ini, obyek dan karakter yang ada masih berupa tampilan default dari engine yang digunakan. Kata mereka (anggota tim advance game), mereka memilih menggarap modul networking dan game play-nya terlebih dahulu. Nanti, setelah kedua modul itu beres, barulah mereka akan menggarap tampilan karakter dan obyek-obyek yang ada dalam game world mereka. Banyak pengunjung yang mencoba memainkan game tersebut secara jaringan (sementara, baru 2 orang sekali main karena komputer yang tersedia hanya sejumlah itu).

Tim simulator menampilkan platform multi-purpose simulator yang mereka bangun. Platform ini dirancang untuk memberikan efek yang nyata pada saat pengguna memainkan game-game simulator. Terutama untuk driving simulator yang dirancang sebagai sebuah sarana pelatihan menyetir. Ketiga tim yang termasuk dalam kelompok simulator juga membuat game-game simulator mereka sendiri, namun masih belum dapat ditampilkan karena belum mencapai versi alpha. Beberapa pengunjung sempat mencoba masuk ke dalam platform tersebut, dan memainkan beberapa game berupa NFS :mrgreen:

Kelompok AR (augmented reality) menampilkan platform berupa meja yang dilengkapi dengan marker pattern yang merupakan faktor penting dalam sebuah sistem AR dan mechanical arm untuk menggerakkan monitor. Tiga tim (AR Hydro, AR AD, dan AR Tsunami) akan menggunakan platform meja ini. Sementara tim AR Volcano memilih menggunakan metoda magic book, berupa sebuah buku yang setiap halamannya berisi marker pattern yang berbeda, untuk menampilkan cerita-cerita tentang sebuah gunung berapi (proses di dalamnya, dsb). Pengunjung juga banyak yang mendatangi lokasi kelompok AR dan bertanya segala macam, termasuk mencoba magic hat yang kami buat secara mendadak dan baru ditampilkan pada hari kedua.

Perwakilan lain dari STEI adalah kelompok Sangkuriang yang menampilkan karyanya, Nusantara Online, sebuah game MMORPG. Namun saya belum sempat melihat-lihat, karena sibuk menjawab berbagai pertanyaan dari pengunjung yang penasaran dengan sistem AR.

Penasaran? Datang saja ke ITB. Hari ini (Minggu, 24 Pebruari) masih buka kok…

ps:

foto-foto menyusul…

disclaimer : cerita ini adalah fiksi yang dipadukan dengan beberapa fakta… selamat menebak bagian mana yang fiksi, dan mana yang fakta… πŸ˜†

Aku duduk sendiri di atas batu besar yang ada di puncak bukit di selatan kota, tempat kami sering menghabiskan waktu berdua. Bercerita tentang masa lalu yang penuh warna dan merajut mimpi masa depan yang mesti bahagia. Menatap langit yang begitu dekat, sehingga seolah dapat diraih dengan kedua tangan. Sering kami berdiri di atas batu ini sambil berteriak pada langit.

“Langit… Lihatlah kami… Anak-anakmu…”

Yup… Kami selalu menganggap diri ini sebagai anak-anak langit yang sedang menjalani masa pelatihan di bumi dan suatu saat nanti, kami akan kembali ke sana. Ke tempat asal kami. Kampung sejati kami…

Aku berdiri. Angin yang kering menghembus pelan, mengacau rambutku yang sudah panjang. Dari sini, aku dapat melihat hampir keseluruhan kota kami yang kecil. Jauh di utara, bayangan kapal-kapal besar yang membuang sauh di pelabuhan terlihat samar, seolah monster-monster raksasa yang muncul dari dalam laut, hendak menghancurkan kota. Di timur, berdiri Gunung Baluran, sendirian, seolah sebuah pulau yang muncul di tengah lautan hijau kekuningan persawahan. Di selatan, bayangan gelap Gunung Raung dan Gunung Argopuro berdiri angkuh, tinggi, seolah mengingatkanku bahwa di atas yang tinggi masih ada yang lebih tinggi lagi. Di barat sana, barisan Gunung Ringgit, Gunung Agung, dan barisan perbukitan membentuk bayangan seorang putri yang sedang tidur dengan rambutnya yang panjang tergerai lepas sampai ke batas laut.

Dulu, dia sering bercerita tentang sang putri… Suatu hari, dari dalam laut, akan muncul raksasa yang merupakan kekasih sang putri yang sedang tidur itu. Begitu sang raksasa mendekatinya, sang putri akan bangun, dan kemudian mereka akan pergi ke laut, tempat segalanya berasal. Saat itu, kota kami yang tua dan kecil itu akan mengalami perubahan besar yang diakibatkan oleh bangunnya sang putri. Kota kami akan terangkat dan bumi akan merekah. Berbagai macam material berharga akan keluar dari perut bumi. Hadiah dari sang putri atas kesetiaan kota kami dalam menjaganya yang tertidur saat sedang menunggu sang raksasa, kekasihnya…

Kemudian kami akan tertawa… Mentertawakan khayalan kami yang kelewat tinggi…

Aku menatap matahari yang mulai turun. Sudah jam empat sore. Lembah yang ada di bawah sana mulai gelap, dan beberapa orang yang menggarap ladang di tempat itu mulai berkemas untuk pulang. Wajar saja, karena saat matahari benar-benar telah hilang di cakrawala, tonggeret mulai bernyanyi, dan adzan maghrib berkumandang bersahutan, maka wilayah perbukitan ini beralih penguasa. Manusia yang terlambat masuk ke kawasan permukiman harus melewatkan malam di atas pohon yang tinggi atau menumpang tidur di gardu penjaga antena komunikasi di puncak bukit kedua yang dilindungi pagar kawat yang tinggi dan dialiri listrik. Itu karena pada malam hari, daerah ini merupakan arena perburuan gerombolan anjing liar yang bersarang di gua-gua yang banyak terdapat di wilayah ini. Anjing-anjing yang setiap kelompoknya itu berjumlah puluhan, akan memburu mahluk apapun yang berkeliaran di wilayah mereka. Sudah banyak orang yang menemui celaka gara-gara meremehkan kebuasan anjing-anjing itu. Aku merasa, kalau sekarang belum waktunya bagiku untuk kembali ke langit. Karenanya, aku beranjak pergi meninggalkan bukit itu.

Malam itu, aku melangkah sendirian menyusuri trotoar kota yang telah mengalami beberapa kali pembangunan ulang karena bolak-balik hancur diterjang banjir bandang. Tidak banyak orang yang berpapasan denganku. Rata-rata warga kota ini sudah mulai malas berjalan kaki, sejak konsep kredit murah sepeda motor tanpa uang muka dan jaminan itu diperkenalkan. Bahkan, jumlah sepeda kayuh pun sudah jauh menyusut dibandingkan masa-masa waktu aku masih sekolah di tingkat dasar dan menengah. Akibatnya, mulai banyak warga kota yang memiliki masalah dengan berat badan. Yah, harga dari sebuah kenyamanan transportasi adalah ketidaknyamanan di bidang kesehatan.

Dulu, dia selalu bersikeras untuk berjalan kaki dari rumahnya ke sekolah. Padahal, tetangga-tetangganya banyak yang menodong orang tua mereka untuk membelikan sepeda motor atau memiliki tukang becak langganan yang selalu stand by di depan gerbang masuk kompleks tempat tinggalnya itu. Dia tinggal di sana, di kompleks perumahan dinas yang disediakan oleh instansi tempat bapaknya bertugas. Padahal, orang tuanya akan dengan entengnya memberikan apapun yang diinginkannya. Karena dia adalah anak gadis satu-satunya di keluarga itu, bungsu pula, sehingga agak cenderung dimanja oleh ayah dan kakak-kakaknya. Untung ada ibunya, yang selalu tegas, cenderung keras, dalam mendidik dia. Waktu aku dipaksa berdiri selama setengah jam sambil mendengarkan petuah panjang lebar ibunya saat aku menjemput dia jam setengah tujuh malam untuk pergi ke alun-alun di malam minggu, saat itulah aku tahu asal muasal sifat keras kepalanya itu.

Tanpa kusadari, tiba-tiba aku telah berada di alun-alun kota yang, karena bukan malam minggu, sepi dan sedikit gelap. Aku menuju ke pusat alun-alun. Dulu, di situ berdiri sebatang pohon beringin besar yang tubuhnya penuh goresan nama-nama. Namaku dan namanya juga ada di sana. Aku ingat persis lokasinya. Di sisi sebelah barat, di bawah, dekat dengan bagian akar. Tapi, berbeda dengan goresan pasangan nama lainnya, yang dihiasi dengan simbol daun waru yang tertembus panah, goresan nama kami itu tanpa hiasan apapun. Hanya dua nama yang digoreskan berdekatan. Itu saja. Namun, goresan itu sangat berharga karena setelahnya kami harus berlari keluar masuk gang kecil sejauh tiga kilometer dalam rangka menghindari kejaran petugas satpol PP.

Waktu sudah memastikan bahwa para petugas itu tidak mengejar lagi, kami mengaso di sebuah gardu siskamling di pinggir sungai. Dan kemudian kami tertawa… Menertawakan kekonyolan yang baru saja kami lakukan…

Pohon beringin itu sudah tidak ada lagi. Menjadi salah satu korban dalam euforia gerakan reformasi. Pohon itu dianggap sebagai simbol dari kekuasaan salah satu partai dan massa yang mengklaim diri sebagai reformis kemudian merobohkan pohon yang sudah berdiri sejak aku masih kecil itu. Padahal, pohon itu sudah banyak berjasa menaungi orang-orang yang setiap pagi berolah raga di alun-alun. Padahal, pohon itu sudah menjadi saksi kelahiran ratusan generasi berbagai jenis burung yang menjadikannya sebagai sarang. Padahal, pohon itu menyimpan sekian banyak kenangan dari entah berapa ratus pasangan yang mengikat janji di bawah naungan daun-daunnya. Semua harus hilang karena manipulasi politik murahan. Sejak itu, alun-alun kota tidak pernah sama lagi. Bagiku, setidaknya.

Aku menatap monumen pengganti pohon itu. Sebuah perahu yang berada di atas gunung. Entah apa filosofi yang mendasari perancangan monumen ini. Aku tidak pernah bisa mengerti. Perahu di atas gunung, kalau menurutku, bukanlah simbol kemakmuran. Justru itu merupakan simbol dari sesuatu yang tidak berada pada tempat yang semestinya. Perahu kan, mestinya ada di laut. Percaya atau tidak, sejak monumen ini berdiri, kota kami jadi kacau. Pejabat yang tidak kompeten di posnya. Tata pemerintahan yang justru semakin jelas penuh KKN. Terbaginya masyarakat menjadi dua kelompok (Barat dan Timur) yang masing-masing berafiliasi kepada pesantren berbeda yang saling bertentangan karena pimpinannya sama-sama ingin mengendalikan pemerintahan kota dengan menempatkan orang pilihannya sendiri sebagai kepala daerah. Lebih ironis lagi, Gunung Sampan (Gunung Perahu dalam bahasa madura) adalah nama sebuah kompleks lokalisasi terbesar di kota ini…

Waktu kami mengetahui fakta itu, robohnya pohon kenangan dan monumen pengganti yang janggal, dia menatapku lama. Ada kekhawatiran di mata itu. Yah, dia memang sangat mempercayai bahasa simbol. Salah satu permainan yang paling digemarinya di waktu senggang adalah memecahkan kode rahasia yang kubuat. Dan, aku tahu pasti, kalau kejadian itu merupakan sebuah simbol jelek baginya. A bad omen. Aku tidak pernah becus dalam usaha menghilangkan kekhawatiran. Dan, saat itu pun tidak berbeda. Kekhawatiran itu tetap ada di matanya saat kami berpisah.

Setamat SMA, aku pergi ke Surabaya, dan dia pergi ke Malang. Kami hanya sempat bertemu sekali. Pada lebaran pertama yang kujalani sebagai mahasiswa. Saat pulang kampung, aku mendapat undangan untuk menghadiri halal bihalal di rumah salah satu teman sekelas di kelas 3. Di sana aku bertemu dengannya. Masih dengan dandanan yang sama. Rambut potong pendek, wajah tanpa make up kecuali bedak, dan busana yang praktis. Namun dia tidak berhenti lama. Turun dari motor pun tidak, karena dia harus segera pulang ke rumahnya. Tanpa sempat bertukar alamat atau nomor telepon, dia memacu motornya pergi bersama seorang teman sekelasku yang kuliah di kampus yang sama dengannya.

Aku tak pernah bertemu dengannya lagi… Dia hilang begitu saja dari lingkaran kecil hidupku…

Aku merapatkan jaket. Hawa malam ini terasa agak dingin. Musim kemarau di kota ini selalu begitu. Di siang hari, panasnya begitu menyengat dan di malam hari dinginnya begitu menusuk. Sudah jam setengah sembilan. Aku mengambil HP dan menelpon adikku. Dia berjanji akan menjemputku di bagian selatan alun-alun. Di warung bakso yang buka persis di depan kantor dinas sospol. Aku nggak tahu apa nama kantor itu sekarang, tapi kami tetap menyebutnya warung bakso sospol. Aku mengakhiri panggilan telepon dan kemudian melangkah menyeberangi lapangan berumput menuju tempat perjanjian itu.

ps:

I know that I should not doing this at the moment… but, I can’t help it. This blog has made me addicted :mrgreen:

hiks…hiks…hiks…

Posted: 17 Februari 2008 in cerita, renungan

Minggu pagi, jam 07.30…

Saya sedang berbincang dengan ibu pemilik kontrakan. Waktunya bayar tuh… Lancar, tidak ada masalah. Uangnya pun sudah tersedia sejak beberapa hari yang lalu (bongkar tabungan T_T). Tiba-tiba beliau bertanya…

“Sudah punya anak berapa?” 😯

Dengan agak malu, saya pun menjawab…

“Saya belum menikah, Bu…” 😳

Sejenak, beliau terlihat kaget. Katanya, beliau diberitahu kalau saya sudah menikah (siapa sih, teman kos yang kurang kerjaan itu? *nyiapin peluru* πŸ‘Ώ )

Oke, masalah saya anggap selesai. Saya lalu mandi (dua jam kemudian, sih… :mrgreen: ) kemudian berangkat ke kampus. Mau cari data dan file-file yang mungkin berguna dalam pembuatan game nanti.

Jam 12.30, waktu saya sedang asik-asiknya men-download file-file sound effect, tiba-tiba seorang gadis kecil (maksimal SMP deh) yang aneh muncul. Dia langsung berakrab-akrab gitu, membuat saya sedikit curiga (I know, I mustn’t do that, but… it’s a basic instinct πŸ˜€ ). Sepertinya, dia kabur dari orang tuanya tuh… (conspiracy theory nih πŸ˜€ ).

Okelah. Tiba-tiba dia bertanya…

“Sudah berkeluarga ya? Punya anak berapa?” 😯 Aaagh… Tidaaak… *sok histeris*

Anak kecil ini kok ikut-ikut Ibu kos sih? Saya pun memberanikan diri bertanya…

“Emangnya saya ini kelihatan sudah seperti bapak-bapak gitu? Kelihatan seperti orang yang punya anak, begitukah?” πŸ‘Ώ

“Iya…” jawab gadis kecil ituΒ dengan enteng dan tanpa berdosa… 😦

πŸ˜₯

*nangis di pojokan*

efek komunikasi…

Posted: 16 Februari 2008 in iseng, renungan

Pernah nggak, Anda menyadari… Betapa menakjubkannya efek dari komunikasi? Sebuah SMS pendek berisi sapaan dan sebuah pertanyaan iseng dapat menghadirkan senyuman di wajah yang sudah hampir lupa bagaimana caranya tersenyum. Senyuman di wajah itu akan memancing senyuman di hati, yang pada gilirannya akan membuat indera manusia jadi begitu sensitif sehingga mampu mendengarkan musik yang mengalun di semesta, membuat jiwa jadi tenang dan hati jadi tenteram serta K2 di Himalaya pun terlihat seperti gundukan pasir di halaman depan rumah (oke, ini terlalu hiperbolistis… tapi, gak pa-pa lah, sesekali :mrgreen: ).

Apalagi jika pertukaran kabar lewat SMS itu diikuti dengan panggilan telepon. Wuaah… rasanya… undefinable (bener gak, bahasa inggrisnya? πŸ˜€ ). Tidak peduli walaupun panggilan telepon itu dibuka dengan makian dan gerutu, tetap saja senyum yang membayang di wajah itu akan ber-evolusi menjadi sebuah tawa, seolah baru saja meminum ramuan Elixir to Induce Euphoria [1] yang dibuat sesuai petunjuk dari Half-Blood Prince [2] dan dicampur dengan Felix Felicis [3] (kira-kira, kalau dicampur seperti itu, efeknya akan tetap sama atau malah bakal jadi racun ya? πŸ˜€ ). Tawa itu akan menjadi pondasi bagi sebuah semangat baru, yang nantinya akan menjadi sumber energi dalam menjalani hidup (mengerjakan tesis, contohnya…)

Namun, tidak ada yang tipe komunikasi yang dapat mengalahkan komunikasi langsung, tanpa dihalangi oleh batasan yang dimiliki oleh alat komunikasi yang digunakan. Dalam komunikasi langsung, setiap kalimat yang terucap didukung oleh gerak bahasa tubuh, sehingga efeknya meningkat beberapa kali lipat. Apalagi, jika ada emosi yang terlibat dalam komunikasi itu. Sebuah kalimat sederhana yang terdiri dari 3 kata dapat membuat seseorang merasa seperti terbang di antara awan dan bintang (tapi, ndak sampai melewati Van Allen Belt [4] :mrgreen: ). Wuaaah… komunikasi… @___@

Oke, yang saya tuliskan di atas itu, adalah kalau komunikasi itu dilandasi dengan perasaan sayang. Nah, kalau komunikasi itu terjadi di antara orang-orang yang saling membenci? Tetap sama. Efeknya tetap menakjubkan…

Sebuah SMS pendek berisi sapaan dan sebuah pertanyaan iseng akan memancing ratusan pertanyaan dalam benak si penerima. Pertanyaan-pertanyaan itu, akan memancing hadirnya kecurigaan, yang kemudian akan mengundang datangnya pikiran buruk. Pikiran-pikiran buruk yang ada, kemudian akan berkolaborasi untuk merumuskan rencana-rencana. Bisa saja terjadi, sebuah SMS memicu terjadinya perang antara dua negara.

Jika komunikasi SMS tersebut ditindaklanjuti dengan sebuah panggilan telepon, curiga yang sudah hadir dalam hati akan membuat setiap kalimat yang terucap jadi terdengar seperti sebuah cemoohan, hinaan, ejekan, dan umpatan. Sapaan ‘halo’ akan terdengar seperti ‘crucio‘ [5] dan semakin lama panggilan telepon itu berlangsung, hawa akan terasa semakin dingin, angin berhembus kencang membawa awan gelap yang dihiasi dengan kilatan halilintar, dan sosok-sosok hitam berjubah beterbangan di sekitar, menyedot habis semua kebahagiaan yang ada [6]. Pada akhir panggilan telepon, yang tersisa adalah kemarahan… dan pikiran-pikiran buruk yang merumuskan rencana-rencana…

Dan, komunikasi langsung antara dua orang yang bermusuhan juga dapat mengundang bencana yang sangat dahsyat. Pertemuan antara Hannibal [7] dan Gaius Terentius Varro yang ditemani oleh Lucius Aemilius Paullus [8] di Cannae pada suatu pagi di musim semi tahun 216 SM, membuat lebih dari 80.000 orang terbaring tak bernyawa mandi darah pada sore harinya, membuat Battle of Cannae menjadi sangat terkenal dan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu greatest tactical feats in military history. Padahal, kunjungan Hannibal ke Cannae itu adalah untuk mencari bahan makanan untuk anak buahnya 😦 . Itulah… komunikasi… @___@

Jadi, berhati-hatilah dengan komunikasi…

keterangan:

[1]. Salah satu jenis ramuan yang dibuat oleh Harry Potter dalam buku keenam.

[2]. Salah satu tokoh dalam buku Harry Potter.

[3]. Ramuan yang berkhasiat untuk membuat seseorang jadi sangat beruntung.

[4]. Sebuah wilayah di luar atmosfer Bumi, penuh radiasi tingkat tinggi.

[5]. Salah satu dari 3 Unforgivable Curses.

[6]. Efek yang terasa kalau ada Dementor berkeliaran.

[7]. Salah satu Jenderal terhebat dalam sejarah, memimpin pasukan Carthago melintasi Alpen untuk menaklukkan Roma.

[8]. Dua konsul Roma pada tahun 216 SM. Paullus tewas di Cannae, bersama 80 orang anggota senat.

ngaco…

Posted: 14 Februari 2008 in narsis, tesis

Sebenarnya, saya berencana untuk libur nulis di blog, istirahat dari blogwalking, menyepi sejenak, menata kembali rencana yang kacau balau berantakan dan membangun ulang semangat yang rontok…

Namun, kok dak bisa ya?

Setiap malam, saya tetap saja berkunjung ke tempat-tempat para sodara blogger mengapresiasikan diri (walaupun sukses dalam menahan diri untuk tidak meninggalkan komentar)…

Setiap pagi, situs yang pertama saya kunjungi adalah blog ini sendiri, dan Padepokannya Pak Budi…

Sedikit menjelang siang, saya selalu memutuskan untuk istirahat sebentar dari mengerjakan dokumen tesis dan membuat model 3D serta mengatur sound effect yang merupakan bagian kerjaan saya dalam pembuatan sistem AR Hydro…

Sore hari, hal yang sama terjadi lagi…

Yeah, sepertinya saya memang sudah addicted nih… 😐  Karena itu, hanya bisa bertahan kurang dari seminggu untuk menghindari dunia blog…

Pebruari sudah mencapai pertengahan. Sebelas hari lagi, seminar tesis 1 akan dilangsungkan. Mohon doanya agar semua berjalan sukses dan lancar… Agar dapat diwisuda bulan Juli 2008. Amin. *berdoa serius*

Kebetulan, hari ini adalah tanggal 14 Pebruari. Hari Kasih Sayang, katanya… Saya nggak akan mempermasalahkan soal hari ini. Nggak. Kebetulan saja, saya memutuskan untuk membuat tulisan baru pada hari ini…

Bencana banjir di kampung halaman saya itu ternyata berhasil mengusik pikiran saya. Ingin pulang, tapi dak bisa… Hasilnya, insomnia deh. Apalagi, didukung dengan suhu Bandung yang jadi agak dingin akhir-akhir ini. Plus, kepikiran prototipe yang belum selesai juga sampai saat ini, padahal waktu seminar sudah harus operasional. Sukses deh, tidur jam 5 pagi, bangun jam 8 kemudian duduk manis kembali di depan leptop. Mencari ide bentuk yang pas untuk model rumah dan sebagainya…

Beberapa masalah berkaitan dengan ‘perasaan’ juga masih mendera jiwa. Menambah lelah saja… Dan, karena kebodohan saya sendiri, tidak ada yang bersedia mendengarkan curhat saya terkait masalah ini…

😦

ps:

  • tentu saja, ada juga hal menyenangkan yang saya temukan minggu ini… namun, tidak terlalu signifikan untuk mengistirahatkan jiwa dan badan
  • kenapa kok saya merasa kalau seorang rekan itu semakin menarik ya?
  • pengen libur…

banjir…

Posted: 9 Februari 2008 in serius

Bukannya saya mau latah atau bagaimana… Yang jelas, hingga saat saya menulis posting ini (Sabtu, 09 Pebruari, jam 17.20 WIB), di beberapa sudut kota Situbondo, kampung halaman saya, masih ada air yang menggenang dan di sudut lainnya ada endapan lumpur tebal yang membuat beberapa kelompok warga terisolir. Warga juga mengalami kesulitan menemukan makanan. Berita ini saya peroleh dari sms dengan keluarga, teman-teman, dan dari detik news.

Kejadiannya hampir sama dengan banjir pada tahun 2002 yang lalu, namun dengan intensitas yang lebih besar, sehingga kerugian diperkirakan juga lebih besar… 😦

Yah, walaupun ini merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari, apalagi jika sudah menjadi sebuah siklus… Banjir dengan intensitas yang lebih besar akan datang lagi pada 5-6 tahun yang akan datang… 😦

Alasan yang diberikan adalah karena bendungan Sampeyan Baru tidak dapat menampung air dari 200 anak sungai yang mengalir di sekitarnya… Oke, mungkin saja waduk itu telah mengalami pendangkalan, tapi pada tahun 90-an, semuanya oke tuh… Mungkin justru karena anak sungai – anak sungai itu yang mengalami peningkatan debit sehingga volumenya menjadi tidak tertampung lagi. Dan, peningkatan debit itu diakibatkan oleh gundulnya bukit-bukit yang ada di sekitar anak sungai – anak sungai tersebut.

Kenapa gundul? Lha wong masyarakatnya dengan seenaknya membabat habis hutan tersebut dan menggantinya dengan tanaman jagung… Lha wong beberapa kontraktor membangun banyak perumahan di lereng-lereng bukit itu (untung saja perumahan itu tidak longsor πŸ‘Ώ )… Lha wong masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dengan seenaknya membuang sampah ke sungai sehingga badan sungai jadi menyusut dan mengalami pendangkalan yang parah…

Apakah tidak ada usaha reboisasi selama 5 tahun ini? Ada kok… Ilustrasinya seperti ini. Dana yang tersedia dapat digunakan untuk menanami 15 bukit, tapi hanya digunakan untuk menghijaukan 1 bukit, di sebuah tempat di dekat muara, yang sudah tidak terlalu signifikan dalam usaha mengurangi volume air yang mengalir ke sungai jika terjadi hujan, namun dipilih karena dapat dikunjungi oleh pejabat Pemkab pada saat seremoni pencanangan gerakan penghijauan. πŸ‘Ώ

Apakah tidak ada usaha membangun sarana pertahanan terhadap banjir? Ada… Sebuah pintu air baru telah selesai dibangun pada tahun 2003-2004, namun sudah cacat pada tahun 2005-2006. Entah apakah sekarang jebol lagi atau ndak… πŸ‘Ώ

Aaarghh… Mau marah tapi ndak bisa…

Mending ketawa aja deh… πŸ˜†Β  πŸ˜†Β Β πŸ˜†

πŸ˜₯

ps:

Sungguh sebuah ironi… Saat ini kan saya sedang berusaha menyelesaikan game untuk mengajarkan mahalnya kerugian yang diakibatkan oleh banjir, eh… banjirnya keburu datang… πŸ˜₯