Archive for the ‘jerman’ Category

waktu

Posted: 5 Juni 2009 in cerita, jerman

Sejak bulan Maret lalu, di Jerman sini sudah terhitung Musim Semi. Semuanya sudah hijau. Bunga-bunga di mana. Sama sekali tidak ada jejak yang menunjukkan bekas Musim Dingin. Pohon-pohon yang meranggas pada waktu Musim Gugur dan Musim Dingin pun hanya dalam hitungan hari langsung rimbun, hijau kembali.

Perubahan lainnya yang sangat terasa adalah malam yang semakin pendek. Pada waktu saya melakukan praktikum di Hannover (pas musim dingin), waktu Maghrib adalah 17.30 sementara waktu subuh adalah 06.30. Tapi sekarang, waktu Maghrib adalah jam 21.30, Isya’ jam 23.30, dan Subuh jam 03.00. Jam 04.00, Matahari sudah terbit 😦 .

Dengan pengaturan waktu yang seperti itu, lumayan juga tuh akhirnya, mengatur waktu sholat. Benar-benar perjuangan. Seringnya, yang dilakukan adalah tidur setelah Isya’ (tengah malam), bangun untuk subuh, kemudian tidur lagi 😀 sampai jam 8-an.

Hari ini saya mencoba begadang, tidak tidur semalaman (sempat ilang sekitar 10 menit-an sih 😛 ). Kira-kira akan bertahan sampai jam berapakah saya nanti? 🙄

januari – mei

Posted: 3 Juni 2009 in cerita, jerman, narsis

Enam bulan sudah berlalu sejak saya melakukan update terakhir di blog ini. Ada banyak hal yang saya alami dalam kurun waktu itu. Ada yang menyenangkan, ada yang menyedihkan, ada yang membuat saya bangga bukan main, dan ada pula yang tidak ingin saya ingat.

Momen-momen besar yang saya alami selama kurun waktu antara Januari s.d. Juni ini adalah sebagai berikut; (lebih…)

InWEnt (1)

Posted: 11 Desember 2008 in cerita, jerman, pendidikan, serius

InWEnt — Internationale Weiterbildung und Entwicklung gGmbH — adalah nama organisasi yang menyelenggarakan dan mendanai pelatihan yang saya ikuti saat ini. Sesuai dengan namanya, InWEnt adalah sebuah organisasi non-profit Internasional yang bergerak dalam bidang pengembangan SDM, training tingkat lanjut, dan dialog. Organisasi ini disponsori oleh Pemerintah Federal Jerman, Sektor Bisnis Jerman, dan Pemerintah Negara Bagian (Länder) Jerman.

Situs resmi InWEnt menjelaskan banyak hal tentang organisasi itu sendiri. Ada versi Bahasa Inggrisnya kok… Dan, saya rasa, sudah cukup lengkap. Nanti saja, kalau ada program baru dari InWEnt, saya tuliskan di sini. Sekarang, saya tak cerita tentang pengalaman saya bersama InWEnt…

(lebih…)

Eine Reise am Wochenende…

Posted: 5 Desember 2008 in hobby, iseng, jalan-jalan, jerman

Judul di atas itu, kalau diterjemahkan secara bebas, artinya adalah Perjalanan Di Akhir Pekan.

Di Jerman sini, serba mahal. Yang namanya tiket S-Bahn (kereta trem) itu bisa sampai 2,10 Euro sekali jalan. Kalau di-rupiah-kan, jadi lebih dari 30 ribu tuh… (dengan kurs 1 Euro = 15.000). Bandingkan dengan busway yang sekali naik cukup bayar 3.500 (?). Jauh banget kan, bedanya? Itu pun, kalau ganti kereta ya harus membayar lagi… Pokoknya, mahal deh… 😦

Karena itu, orang-orang Jerman sendiri jarang banget jalan-jalan. Tapi, sekalinya jalan-jalan, langsung ke luar negeri :mrgreen:

Kami, para penerima beasiswa, juga terkena imbasnya. Kami jadi susah kalau mau jalan-jalan ke kota lain (selain ekskursi yang diprogramkan oleh InWEnt). Bisanya hanya di akhir pekan, karena setiap akhir pekan ada penawaran istimewa dari Perusahaan Kereta. Schönes Wochenende Ticket.

Dengan satu tiket seharga 35 Euro, 1-5 orang dapat bepergian kemana saja di seluruh Jerman pada akhir pekan. Dengan catatan, hanya dapat menumpang kereta tipe RB, RE, S-Bahn, dan Bus saja. Itupun di kelas 2. Tidak boleh di kelas 1. Apalagi ICE (kereta peluru), IC (kelasnya sedikit lebih rendah daripada ICE), dan EC… sangat dilarang keras… verboten!

Das ist OK… Bagi kami yang dananya terbatas. Lagipula, dengan perjuangan keras, sebuah perjalanan akan terasa lebih berarti kan? 😀

Nah, begitulah… Hari Sabtu kemarin, 29 Nopember 2008, saya bersama 6 orang kawan lain (total 7 orang) melakukan perjalanan nekat menuju München dengan memanfaatkan Schönes Wochenende Ticket. Saya katakan nekat, karena awalnya kami hanya berencana untuk kembali ke Heidelberg. Tapi kemudian, tiba-tiba muncullah ide itu. Yang disetujui oleh semua. Walaupun ada juga yang sedikit menggerutu dan mengeluh… 😛

starting the journey

starting the journey

Jam 10 pagi kami berangkat dari Mannheim Hauptbahnhof. Tapi tidak langsung ke München. Tidak ada kereta RE atau RB yang langsung jalan ke München dari Mannheim. Kami harus pergi ke Bad Friedrichhalls dulu, kemudian ganti kereta ke Wurzburg. Di Wurzburg, ganti kereta lagi ke Nürnberg. Dari Nürnberg, barulah kami bisa menuju München. Maklum, kereta ekonomi 😀

Karena harus beberapa kali ganti kereta itu, kami baru sampai di München saat matahari sudah menghilang di balik cakrawala dan lampu kota mulai dinyalakan. Jam 16.58 (musim dingin, siang hari lebih pendek dari malam hari 😀 )…

Yang pertama kali dilakukan, sudah pasti… Mencari tempat makan dan toilet 😆 Setelah itu, merencanakan perjalanan pulang di mesin penjual tiket terdekat. Lalu, barulah dapat menikmati suasana München di malam hari.

Orang-orang Jerman bagian selatan ternyata lebih ramah daripada yang tinggal di bagian utara. Beberapa orang yang kami temui dan tanyai (tentang arah), menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan ramah dan memberikan petunjuk yang jelas. Bahkan, saat kami kesasar, seorang Ibu tua membantu kami tanpa dimintai bantuan. Waktu itu, kami kesasar ke Pasing Marienplatz (namanya mirip dengan Marienplatz, pusat kota München). Ibu itu menyapa kami yang sedang kebingungan dengan Bahasa Inggris yang fasih… “Excuse me, can I help you?” begitu katanya. Alhamdulillah… Orang baik itu ada di mana-mana… 🙂

di depan Rathaus

di depan Rathaus

Tapi di München itu, kami hanya dapat berkunjung ke Marienplatz yang penuh orang karena sedang ada Jahrmarkt (pasar tahunan menyambut Natal). Waktu yang sedikit itu langsung kami manfaatkan untuk foto-foto di sekitar Rathaus.

Rame banget euy...

Rame banget euy...

Belum puas foto-foto, kami harus kembali ke Hauptbahnhof, karena kereta yang akan membawa kami ke Memmingen akan segera berangkat. Kami harus lari-lari di stasiun seperti di pilem-pilem roman jaman dahulu kala… 

Saya dan Pak Ari

Saya dan Pak Ari

Dari Memmingen, kami ganti kereta ke Stuttgart. Sepanjang perjalanan, salju tebal menghiasi pemandangan di luar kereta. Di daerah selatan, saljunya lebih banyak daripada daerah tengah tempat saya berada sekarang (di Mannheim, salju hanya datang selama 2 hari T__T ).

Di Stuttgart, kami beli makan lagi (hawa dingin membuat perut cepat terasa lapar 😀 ). Kemudian lari lagi mengejar kereta yang menuju Karlsruhe… Begitu sampai di dalam, langsung naik ke lantai 2, dan menemukan tempat kosong yang pas. Kami langsung duduk di situ. Eh, kok ndilalah ternyata di dekat kami itu juga duduk rombongan suporter sepakbola dari Karlsruhe yang sedang mabuk  (perjalanan jadi tidak nyaman karena para suporter itu terus teriak-teriak dan nyanyi-nyanyi dak karuan). Untung saja, mereka turun di stasiun berikutnya. Alhamdulillah…

Kami turun di Karlsruhe-Durlach. Di sini, kami harus menunggu kereta yang menuju ke Heidelberg selama 2 jam lebih… Dingiiiin banget (termometer menunjukkan -2 derajat Celcius), sementara kami hanya memakai jaket dan sepatu yang seadanya saja. Jadi deh… Ngelakuin hal-hal aneh di stasiun yang, untungnya, sepi itu. Mulai dari yang Poco-poco, sampai merencanakan perjalanan ke Roma, Italia. Pokoknya, asal gerak! 😀

Kedinginan tapi tetep narsis

Kedinginan tapi tetep narsis

Di stasiun itu, kami juga memperbarui tiket kami karena Schönes Wochenende Ticket hanya berlaku sampai jam 03.00 dini hari. Sementara, kereta yang ke Heidelberg baru datang jam 03.37… Jadilah kami membeli 2 set tiket baru. Setelah mendapatkan tiket baru itu, sempat terlintas ide untuk tidak langsung pulang ke Mannheim pagi itu, tapi jalan-jalan dulu ke Mainz. Tapi, rencana itu dibatalkan setelah melihat termometer dan membayangkan kehangatan kamar 

Jam 03.37, kereta yang menuju Heidelberg datang. Kami langsung melompat masuk kereta yang kosong itu. Rencana tidur di kereta tidak dapat dilakukan karena takut kebablasan…

Turun di Heidelberg, kami pindah ke Bus yang membawa kami langsung menuju Mannheim Hauptbahnhof. Di situ temperatur sudah lumayan lebih baik (pas 0 derajat 😀 ). Dari Hauptbahnhof kami naik S-Bahn nomor 3 dan turun di halte dekat asrama InWEnt.

Herr Schaala (resepsionis) terlihat sedikit kaget saat melihat kami yang pulang dengan muka kusut dan lelah namun puas itu. Ugh… hangat banget… Alhamdulillah…

Kami memutuskan tidak langsung tidur, tapi masak mi rebus dulu (untuk sarapan dan menghangatkan badan) kemudian makan bersama.

Setelah Subuh (06.10), saya memasang tanda do not disturb di pintu kamar, dan langsung berangkat lagi ke Malang, menjemput Lies untuk pergi bareng ke Situbondo 😀

curhat… T__T

Posted: 19 November 2008 in cerita, curhat, jerman, sedih

Hidup sebagai mahluk sosial itu… tidak mudah. Adaaa saja, hal-hal yang membuat hubungan antar-individu dalam masyarakat itu jadi kacau.

Le, kamu harus bisa membawa diri dalam bergaul dengan orang lain… Sebelum melakukan sesuatu, pikirkan dulu bener-bener… Apakah itu akan menyinggung perasaan orang lain atau tidak…

Begitu pesan dari orang tua saya dulu. Dan, saya selalu berusaha menjalankannya. Kapanpun dan dimanapun saya berada. Dan, alhamdulillah, selama ini saya selalu bertemu dengan orang-orang yang juga menjalankan pesan yang sama dari orang tua mereka. Sehingga akhirnya saya beranggapan bahwa prinsip itu adalah hal yang berlaku umum di setiap bangsa, setiap negara…

Karena itu, saya jadi terkaget-kaget saat bertemu dengan orang-orang yang tidak menerapkan prinsip itu. Yang selalu menuntut agar haknya dipenuhi, tanpa peduli dengan kebutuhan, perasaan, dan bahkan hak orang lain. Saya mengalami Culture Shock… 😯

Sebenarnya, sebelum berangkat, saya sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan orang-orang yang seperti itu (setelah mendapatkan cerita dari teman-teman yang sudah pernah ke LN sebelumnya). Namun, yang membuat saya terkaget-kaget, saya tidak menemukan sifat yang seperti itu dari orang Jerman! 😯

Setiap orang Jerman yang saya temui sampai saat ini selalu ramah dan baik hati. Alhamdulillah…

Saya menemukan orang-orang yang memiliki sifat ingin menang sendiri dan kekanakan itu justru dari sesama orang Asia!!! Asianya sudah di barat sih, yang banyak padang pasirnya, dan tempat turunnya banyak nabi itu… 😦

Jadi tidak habis pikir saya… Kok bisa lho, mereka itu menyerobot antrian untuk mengambil makan (kami semua makan di kantin, dijatah, seperti di penjara gitu 🙄 ) … Ngobrol keras-keras di kelas dalam bahasanya sendiri, padahal sedang waktunya pelajaran Bahasa Jerman… Dan, menanyakan setiap kata yang diucapkan oleh guru, padahal kata yang sama baruuuuuuuuu saja ditanyakan artinya oleh teman sekelas yang lain…

Dan, yang paling membuat terkejut, adalah saat saya minta untuk menunggu giliran… Lha wong sang guru sedang menjelaskan tentang satu topik, eh, kok ya bertanya tentang hal lain yang sama sekali berbeda… Dan, waktu diminta untuk menunggu giliran… dia itu kok ya ‘meledak’… Langsung membanting buku dan alat tulisnya, kemudian teriak-teriak… I have a right to ask a question!! I don’t care with the others!!! I want my right!!!! 😯

Bisa membayangkan???

Kok sampai segitunya ya? Kayak anak kecil banget, kan? 😐

…..

…..

Yah, sudahlah… Lumayan, ada tambahan ilmu… Ilmu hidup bersama anak-anak yang bukan anak-anak… 🙂

SEMANGAT!!!

ngiming ngimingi…

Posted: 21 Oktober 2008 in jerman, pendidikan, serius

Sudah hampir dua bulan saya di negeri orang. Tapi, kok masih aja sering terkaget-kaget saat bangun pagi dan melihat pemandangan di luar jendela ya? Bukan hanya itu. Sering sekali terjadi, saat jalan-jalan ke Stadt (bener-bener jalan-jalan, bukan naik bus atau S-Bahn 😐 ), saya tersadar…

Iya ya, aku sekarang ada di Jerman

Itu kalimat yang sering tiba-tiba terlintas di benak, saat melihat orang-orang di sekeliling saya yang bule semua. Atau saat angin dingin mulai bertiup menggugurkan dedaunan. Atau saat mencicipi masakan di kantin yang ekstrim (terlalu asin atau hambar sama sekali T___T ).

Bukan… Saya tidak bermaksud pamer atau bagaimana dengan menuliskan hal ini. Saya hanya ingin berbagi cerita. Bahwa ternyata, pergi ke luar negeri itu tidak terlalu berat. Bahwa ternyata, di sini pun saya sering merasa bahwa saya masih ada di Indonesia.

Oke. Harus saya akui bahwa perasaan masih di kampung sendiri itu dikarenakan saya masih berkumpul dengan teman-teman satu grup ILT 2008 (20 orang) plus grup ILT 2007 (10-an orang) dari Indonesia. Dan, saya menyadari bahwa nanti pada saat kami harus berpisah (jika menjalani praktikum di Firma berbeda) dan tinggal di kota yang berbeda-beda, mungkin saya akan merasakan kesepian. Namun, untuk saat ini, alhamdulillah saya tidak merasakan kesepian itu dan dapat enjoy dalam menjalani hari-hari di negeri orang.

Walaupun, teteup, saya sering juga merasakan yang namanya “kangen”. Tapi, yah, it’s still managable

Tidak… Saya tidak akan membahas tentang bagaimana cara mengatasi kangen pada saat jauh dari orang-orang tersayang. Tidak pula tentang tips hidup bahagia di negeri orang. Saya hanya ingin ngiming-ngimingi teman-teman, saudara-saudara, dan murid-murid saya (merekalah target utama dari tulisan ini), agar mereka ‘tergoda’ untuk merantau keluar kampung halaman.

Jangan lah kalian (murid-murid) menolak bekerja di luar kota dengan alasan yang tidak dapat saya terima itu. Masak dengan alasan; jauh dari rumah, Pak… kalian tidak mau berangkat ke Surabaya? Jangan sampai kalian mengatakan itu di depan saya. Awas saja kalau berani (ngancam.com)… Ingat, murid harus lebih baik dari gurunya. Jadi, kalau saya sudah ke Eropa, kalian nanti harus menjelajahi Eropa dan Afrika. Kalau saya sudah sampai di Eropa dan Afrika, kalian nanti harus menjelajahi Eropa, Afrika, dan Amerika. Dan seterusnya. Kalian bisa melakukan itu. Saya yakin. Dimana ada niat, di situ ada jalan… 🙂

Ah iya, satu lagi. Tahun depan, rencananya ada program ILT lagi. Tapi, saya masih belum mendapat info lengkapnya. Temanya, saya juga masih kurang jelas. Tapi, para partisipan direncanakan sudah sampai di Saarbrücken pada bulan Juli. Artinya, kemungkinan besar (berdasarkan pengalaman saya sendiri), proses rekrutmen dan pelatihan bahasa di Indonesia sudah akan dimulai pada akhir tahun ini (proses mulai pendaftaran sampai keberangkatan dulu memakan waktu 6 bulan-an). Karena itu, bagi teman-teman yang tertarik, sebaiknya sering-sering membuka situs InWEnt.

Mungkin, hal yang paling memberatkan adalah biaya tiket Indonesia-Jerman pp. yang harus dibayar sendiri (atau oleh instansi tempat bekerja). Tapi jangan khawatir. Es gibt immer einen Weg nach Rom. Selalu ada jalan ke Roma. Iya, kan? 😉

Terus, mana tulisan ngiming-ngiminginya?

Mungkin ada yang bertanya seperti itu. Jawabnya, tuh, lihat tulisan saya yang lainnya, tentang kota-kota yang sudah saya kunjungi dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan.. 😛 Kalian (murid-murid saya) dak pengen tah, berkunjung ke kota-kota itu juga? 😉