Arsip untuk November, 2007

beri kepastian dong…

Posted: 30 November 2007 in Uncategorized

Seorang perempuan (selanjutnya disebut P) berbicara dengan seorang lelaki (selanjutnya disebut L) lewat saluran telepon seluler yang menyediakan layanan free talk. Mereka sudah tidak pernah bertemu untuk beberapa waktu, dan telepon menjadi satu-satunya sarana komunikasi antara mereka…

P : “Bagaimana kabarmu di sana?”

L : “Aku? Baik-baik saja kok…”

P : “Kenapa sms-ku kemarin tidak dibalas?”

L : “Eh? Kamu sms toh?”

P : “Kamu kok jadi gitu sih?”

L : “Gitu gimana? Perasaan… Aku ya seperti ini dari dulu…”

P : “Kamu berubah…”

L : “Oh ya? Wah, jadi lebih baik atau lebih jelek nih?”

P : “…”

L : “Haloo…”

P : “Sebenarnya, perasaanmu padaku itu gimana sih?”

L : “Heh? Perasaanku? Kenapa kamu menanyakan itu?”

P : “Aku butuh kepastian…”

L : “Kepastian tentang apa?”

P : “Tentang… Kita…”

L : “Kita?”

P : “Ya… Jadi, tolong jawab sekarang…”

L : “Haruskah aku menjawab itu sekarang?”

P : “Ya!”

L : “Apa tadi pertanyaannya?”

P : “Kamu masih suka padaku apa nggak?”

L : “Aku nggak tahu…”

P : “Kenapa kamu selalu menggantung orang lain, sih?”

L : “Karena ada beberapa hal yang nggak bisa kujawab langsung…”

P : “Ya sudah! Assalamualaikum!”

L : “Waalaikumsalam…”

Si perempuan menutup telepon…

ayo…

Posted: 30 November 2007 in Uncategorized

Kata Mbak Ira, hari ini (1 Desember) selalu diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Dan, tema kampanye untuk tahun ini adalah Keep the Promise – Leadership

Ingat AIDS, saya jadi teringat pada dua film yang pernah saya tonton. Film lawas. Saya lupa judulnya. Satu dibintangi oleh Andy Lau, yang menjadi polisi khusus dari masa depan dan datang ke masa sekarang (tahun 90-an) bersama kawan-kawannya, yang semuanya memiliki kemampuan khusus seperti para petarung dalam Street Fighter [1] untuk mengejar penjahat terbesar sepanjang masa. Film kedua dibintangi Sylvester Stallone, yang menjadi polisi yang melakukan kesalahan besar sehingga dia kemudian dibekukan untuk dihidupkan kembali di masa depan saat musuh bebuyutannya (yang dibekukan juga) hidup kembali dan membuat kekacauan lagi.

Ada yang sama dalam kedua film itu. Dalam keduanya, sama-sama ada scene yang bercerita tentang tata kehidupan dunia di masa depan terkait dengan AIDS. Dalam film Andy Lau, dijelaskan bahwa AIDS telah menyebar begitu luas sehingga merenggut nyawa jutaan orang sehingga akhirnya hubungan seksual dilarang dan manusia di masa depan itu dilahirkan di sebuah ‘pabrik’. Dalam dunia itu, manusia hanya boleh melakukan hubungan seksual secara digital dalam console game ala Mario [2]. Tentu saja, adegan seksualnya tidak diperlihatkan karena film ini diperuntukkan mereka yang berusia 13 tahun ke atas. Dalam film yang dibintangi Sylvester Stallone juga sama. AIDS telah merajalela, sehingga hubungan seksual hanya boleh dilakukan oleh mereka yang terikat dalam pernikahan. Untuk mengakomodir hobi mereka (Amerika masa depan), hubungan seksual pra-nikah, manusia masa depan menciptakan sistem yang memungkinkan terjadinya hubungan itu menggunakan teknologi virtual reality [3].

Bagaimana? Lucu? Khayalannya terlalu tinggi?

Tapi, itu mungkin saja terjadi lho… Dengan tingkat pertumbuhan jumlah penderita saat ini, kondisi yang diceritakan di atas itu dapat saja terjadi.

Terus bagaimana?

Orang bilang, pencegahan lebih baik daripada pengobatan… Jadi, ya, jangan pernah mendekati narkoba, jangan melakukan aktivitas seksual sebelum nikah, dan berhati-hatilah saat melakukan transfusi darah *pesannya standar banget, ya?*

Ah iya… Sebelum lupa… Banyak orang yang mengatakan bahwa moral memegang peranan penting dalam upaya pencegahan ini. Karena itu, pendidikan moral harus diaktifkan kembali (pendidikan moral, bukan pendidikan moral pancasila lho ya… 😉 ). Saya setuju dengan hal itu. Namun, sebagai guru, saya juga ingin menyampaikan sesuatu yang sudah pernah saya sampaikan dalam tulisan lain. Guru juga manusia. Kami punya keterbatasan. Pendidikan moral ini merupakan tanggung jawab KITA semua. Saya, Anda… Semuanya… 🙂

Jadi, ayo kerja! (memperbaiki moral bangsa ini, maksudnya…)

[1]. Sebuah game pertarungan legendaris buatan Capcom.

[2]. Game legendaris juga, hanya saja ber-genre adventure.

[3]. Teknologi yang memungkinkan user berinteraksi dengan sebuah dunia yang disimulasikan komputer.

lanjutan dari bagian 2 : 5 liter itu…

Sebelum masuk ke cerita, saya harus menyampaikan hal berikut terlebih dahulu: cerita ini bersifat inspired by true story! Artinya, cerita ini bukan true story yang terjadi di masa silam… Oke. Beres. Masuk ke cerita…

*****************

Aku dan dia duduk bersandar pada carrier masing-masing di bagian depan kapal. Sudah malam, saat Pottre Koneng [1] memulai pelayaran singkat menyeberangi laut yang gelap menuju Surabaya. Waktunya kembali ke kehidupan normal. Waktunya bagiku untuk kembali berkutat dengan berbagai eksperimen dan dokumentasi tugas akhir. Mengejar target wisuda bulan Maret…

“Mau coklat?” tanyanya sambil menyodorkan sebatang, sisa logistik. Di tangannya yang lain, kulihat ada sebatang coklat yang tinggal separuh.

“Terima kasih…” kuterima dan kumakan. Manis. Lumayan, buat nambah energi supaya tidak tidur sebelum sampai di pondokan.

Aku menghela nafas berat… Yang ternyata tidak luput dari perhatiannya.

“Kenapa kamu?” tanyanya.

“Dak kenapa-kenapa… Cuma merasa agak beraaat aja untuk balik ke kampus…”

“Belum cukup nih, seminggu di pulau terpencil kayak Sepudi [2] ?”

“Ya belum cukup lah… Kamu sih enak, dak perlu mikir TA lagi…”

Dia tersenyum dan menghabiskan coklatnya. “Kerjaanku itu juga berat ya… Dak segampang yang dipikirkan orang-orang…”

“Berat apanya? Kan tinggal masuk kelas, kemudian menjelaskan materi hari itu? Kemudian, masuk sesi tanya-jawab… Sudah. Apanya yang berat?”

“Yang kamu jelaskan barusan itu, kerjaan dosen. Mahasiswa yang wajib berusaha sekeras mungkin untuk memahami… Kalau di SD, lain cerita. Aku juga harus memperhatikan kondisi anak-anakku. Bener-bener paham, pura-pura paham, atau nggak paham sama sekali… Sebelum masuk kelas, malamnya aku harus menyiapkan skenario dulu. Kemudian mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menyampaikan materi. Ada peragaan apa ndak? Sering sekali aku baru tidur jam 10 malam gara-gara nyiapin hal-hal remeh tapi penting itu…”

“Jam 10? Masih sore tuh…”

“Iya, bagi kamu yang sudah hampir sama dengan kalong… Tapi, bagiku sudah malem banget. Soalnya aku harus bangun jam 3 pagi…”

“Jam 3? Ngapain? Kamu kan dak sholat malem?”

“Jam 3 itu kugunakan untuk mengerjakan urusan rumah tangga… Masak, nyuci, nyeterika… Semuanya harus selesai jam 5. Karena jam 6, aku sudah harus berangkat biar ndak telat…”

“Wah, sudah latihan untuk menjadi calon ibu yang baik nih…”

“Ya iya lah… Kudu siap dari sekarang… Kalau nggak, bisa kedandapan nanti…”

“Eh? Jangan-jangan, sudah ada rencana untuk menikah nih… Kapan? Hayo… ”

“Bulan Desember…” jawabnya dengan tenang.

“Wah, selamat… Selamat ya… Dapat orang mana? Kok diem-dieman aja sih…” aku mengulurkan tangan, hendak menyalaminya.

“…tapi belum tahu kapan tahunnya dan siapa pasangannya…” [3] katanya, masih dengan ketenangan yang sama, membuat gerakan tanganku terhenti di tengah jalan. Dia menyambut tanganku dan tersenyum. Semakin lama semakin lebar, dan akhirnya meledak dalam tawa sampai matanya ilang. “Hahahahahaha…”

Pottre Koneng terus melaju membelah air yang gelap. Menuju kota yang dipenuhi cahaya di seberang sana. Jalesveva Jayamahe [4] berdiri tegak di bawah bulan sabit yang menggantung di langit.

bersambung ke bagian selanjutnya…

******************

[1]. Salah satu feri yang melayani penyeberangan Surabaya – Madura. Namanya diambil dari nama seorang putri dari Sumenep.
[2]. Sebuah pulau di bagian timur Madura. Menurut cerita, pulau ini merupakan tempat Adipoday (ayah dari Joko Tole) menempa diri.
[3]. Yang buat joke ini pertama kali siapa sih? Saya mengetahuinya dari sobat saya yang sekarang ada di Lampung itu…
[4]. Sebuah patung berbentuk perwira angkatan laut yang sedang berdiri. Ada di daerah Tanjung Perak…

bagian 2 : 5 liter itu…

Posted: 28 November 2007 in cerita

lanjutan dari dia yang seperti bintang nih… 

Pagi itu, aku bertemu dengannya untuk pertama kali. Dandanan yang aneh, itu komentar pertamaku saat melihatnya. Jelas sekali bahwa dia memiliki obsesi atas bintang. Betapa tidak… Berbagai macam bentuk bintang bertaburan di pakaian, rambut, dan tas yang disandangnya. Terlalu gemerlap jika dipakai untuk menyepi ke pedalaman seperti yang kami lakukan sekarang ini.

Malam itu, sambil menghirup coklat hangat di dekat api unggun, aku bertanya kepadanya. “Kenapa bintang?”

“Karena aku suka…” jawabnya santai. Matanya lekat memandangi purnama yang merajai langit malam.

“Heh?”

Dia tersenyum dan kemudian menatapku. “Seseorang pernah bercerita padaku tentang matahari, bulan, dan bintang. Mereka itu adalah simbol dari diri kita. Matahari melambangkan kekuatan fisik dan akal, bulan melambangkan kebeningan hati, sementara bintang menunjukkan jalan untuk menjadi matahari atau bulan…”

“Bagaimana bisa?”

“Kalau ndak salah, dalam agamamu ada anjuran untuk bangun tengah malam dan kemudian berdoa kepada Tuhan, bukan? Sama dengan bintang… Dia beraktivitas di malam hari. Belajar untuk melatih akal dan berdoa untuk menjaga kebeningan hati. Tahajjud itu selalu ditemani oleh bintang, kata orang itu. Karena itu lah, dia mengatakan kalau bintang menunjukkan jalan… Selain itu, bukankah orang-orang telah menggunakan bintang sebagai penunjuk arah sejak jaman baheula?”

Aku manggut-manggut mendengar ceritanya itu. “Lalu, kenapa kamu menyukai bintang?”

Dia tertawa. “Aku tidak mungkin menjadi matahari. Bebannya terlalu berat. Menjadi matahari, berarti aku harus dapat menjadi pusat kehidupan bagi keluargaku. Matahari itu, laki-laki banget! Kalau bulan, memang identik dengan perempuan… seorang ibu, tepatnya… Dan, aku belum menjadi seorang ibu. Karena itu lah, aku memilih sang penunjuk jalan saja…”

“Jadi, kamu menyukai bintang karena tidak ada pilihan lain? Dengan kata lain, terpaksa?”

Dia diam. Menghirup habis coklatnya sebelum menatapku kembali. “Tidak juga… Aku memilih bintang karena aku melihat kalau peran sebagai penunjuk jalan itu keren banget! Heheheh…”

“Hah?”

“Sudah malam nih, aku ngantuk…”

Dia melangkah menuju tenda. Aku menatap langit… Tidak ada bintang di sana, setidaknya di sekitar sang bulan. Pancaran sinar mereka terkalahkan oleh bulan yang menampakkan bentuk sempurnanya. Bunder sesser, kata orang-orang tua di kampungku.

“Hei..!” panggilnya. Aku menoleh ke arah datangnya suara itu. “…kau harus bertanggung jawab…”

“Heh? Kenapa?”

“Kau telah membuatku mengingat orang itu… Aku nggak bakalan bisa tidur nyenyak malam ini… Karena itu, besok aku bakalan capek…”

“Heh? Tapi…”

“Karena itu…” dia memotong kalimatku. “…besok kamu harus membawakan jatah airku yang 5 liter itu!”

“Tapi…”

“Met tidur…” Tanpa mempedulikan aku lagi, dia langsung masuk tenda. Dan, tinggallah aku nggremeng sendirian…

“Cewek aneh…”

bersambung ke bagian 3…

the pursuit of happiness: the movie

Posted: 28 November 2007 in cerita, mimpi

Belum beli bukunya, tapi dah nonton filmnya…

  • tokoh utama : Will Smith sebagai Chris Gardner
  • genre : drama

Pertama, film ini terasa terlalu lambat (bagi saya) dalam bertutur. Separuh awal film, saya agak ngantuk, sehingga langsung seret pointer ke bagian tengah, ke bagian konflik :mrgreen:

Ceritanya berkutat seputar kehidupan Chris Gardner…

Awalnya, Chris Gardner ini adalah seorang salesman scanner medis model baru. Penjualannya dak terlalu sukses, sementara tuntutan kehidupan semakin tinggi. Puncaknya adalah saat dimana istrinya meninggalkan apartemen tempat mereka tinggal, kemudian mereka (Chris dan anaknya) diusir dari apartemen. Yup, Chris dan anaknya jadi gelandangan…

Kehidupan Chris mulai berubah saat dia berjalan melewati sebuah bursa saham. Dia melihat seorang lelaki mengendarai mobil ferrari merah mengkilap. Dia bertanya 2 hal pada orang itu… “Apa pekerjaanmu dan bagaimana kamu melakukannya?” Orang itu menjawab… “Aku menjadi pialang saham”…

Chris kemudian melamar menjadi seorang trainee di sebuah perusahaan investasi. Dia diterima, namun selama 6 bulan masa training itu, dia tidak akan menerima gaji sepeserpun! Jadi, selama 6 bulan dia harus berusaha membiayai hidupnya dari penjualan scanner saja… *kebayang kan, susahnya?* Untungnya, pada saat dia diusir dari apartemen, stok scanner-nya sudah habis terjual.

Menariknya dari film ini, selama masa kesusahan itu… Chris tidak mau berpisah dari anaknya. Dan dia selalu berusaha membahagiakan anaknya. Contohnya, saat uang di dompetnya tinggal 200-an dolar, dia mengajak anaknya tidur di hotel untuk semalam. Namun, karena mereka sudah terbiasa tinggal di tempat penampungan, mereka malah tidur di kursi depan tipi… 😀

Akhirnya, setelah 6 bulan, Chris diterima kerja di perusahaan itu. Dan, dia menyebut perioda hidup itu sebagai ‘happiness’

Intinya… Bagi mereka yang sedang berjuang memenuhi target, mereka yang sedang dirundung kesusahan, dan mereka yang sedang merajut mimpi, film ini layak ditonton… Kalau perlu, beli bukunya juga… Harganya sekitar 50 ribu-an (lupa angka pastinya) 😛

dia yang seperti bintang…

Posted: 26 November 2007 in cerita

tak ada bintang_makanya pakai bunga

Ini cerita bersambung… Met baca… ^_^

Aku duduk sendiri di dekat api unggun. Teman-teman yang lain telah pulas di kantong tidur masing-masing. Angin yang berhembus di pegunungan memang selalu membuat orang tidur cepat. Namun entah kenapa, aku tidak ingin tidur. Aku masih ingin memandangi bintang-bintang. Seperti yang dulu sering kami lakukan…

Suatu malam, di bawah bintang yang sama, di tempat yang berbeda, dia memintaku untuk menunjuk satu bintang. “Kenapa?” tanyaku tak mengerti.

“Sebagai simbol tujuan hidupmu!” jawabnya dengan mata yang berbinar, memantulkan cahaya temaram api unggun. “Ingin jadi apa kamu? Bintang Senja, yang menjadi pioneer, pembuka jalan? Bintang Selatan yang menunjukkan jalan dalam mencapai tujuan? Atau Bintang Pagi yang bersinar terang sendirian di saat bintang lain telah menghilang?”

Malam agak larut saat dia menunjuk sebuah gugusan bintang. “Itu bintangku…” katanya. “…sama seperti Orion yang memberikan harapan akan datangnya hujan di tengah musim kemarau, aku ingin menjadi orang yang dapat memberikan harapan baru saat semua jalan terlihat buntu…”

Aku menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Orion juga ada di sana. Apakah dia telah berhasil menjadi Orion? aku bertanya kepada angin yang membelaiku dengan kehangatannya. Tak ada jawaban…

Di waktu yang lain, di bawah bintang yang sama, di tempat ini, aku bertanya kepadanya. “Bagaimana jika kita harus menempuh jalan yang berbeda?”

Dia tidak menjawab, tapi rangkulannya di lenganku terasa semakin erat. “Jangan tanyakan tentang masa depan. Jalani saja hidup ini… Di sini… Saat ini… Kita bersama… Itu sudah cukup bagiku…”

Dan sekarang, di tempat ini, dia tidak ada di sini… Karena jalan yang kami tempuh berbeda…

bersambung ke bagian selanjutnya…

cinta antara guru dan murid…

Posted: 23 November 2007 in cerita

another curhat…

Menjadi seorang guru muda, bujang (single and available), dan berpenampilan menarik (seperti saya, gitu loh… 😳 )di sebuah sekolah menengah atas memiliki nilai plus dan minus. Perbedaan usia yang tidak terlalu jauh, membuat sang guru dapat menjalin hubungan yang lebih dekat dengan anak-anaknya. Sang guru akan lebih mudah memahami jalan pikiran anak-anak, sehingga dapat menerapkan metoda pembelajaran yang lebih menarik dan membuat anak-anak memahami sepenuhnya apa yang hendak disampaikan oleh sang guru. Faktor perbedaan usia yang sama akan membuat anak-anak tidak terlalu merasakan hambatan mental yang besar saat hendak curhat tentang masalah yang mereka alami, sehingga masalah itu akan lebih cepat terpecahkan dan membuat mereka dapat lebih fokus pada pelajaran.

Oke, itu adalah nilai plus-nya. Terus, nilai minus-nya apa?

Nilai minus akan muncul pada saat salah satu di antara kedua pihak yang terlibat dalam hubungan itu salah mengartikan hubungan mereka… Agar lebih jelas, saya akan coba mengilustrasikan nilai plus dan minus menjadi seorang guru muda, bujang (single and available), dan berpenampilan menarik (seperti saya 😀 ) di sebuah sekolah menengah atas dalam cerita berikut …

***
Alkisah, di sebuah kota kecil yang terletak di sebuah lembah nan subur yang dikelilingi oleh pegunungan namun tidak terkucil dari wilayah luar sehingga pertukaran informasi dan budaya serta perdagangan berlangsung lancar, berdirilah sebuah sekolah menengah kejuruan yang sebagian besar siswanya berjenis kelamin perempuan. Sekolah tersebut merupakan sebuah sekolah yang terkenal karena merupakan sekolah kejuruan pertama dan terbesar yang ada di kota kecil itu. Lulusannya menguasai banyak sektor kehidupan kelas menengah ke bawah di kota kecil itu. Cobalah bertanya pada seorang penjaga toko secara acak, tentang sekolahnya. Ada 80 persen kemungkinan sang penjaga toko akan menjawab bahwa dia merupakan alumni dari sekolah kejuruan yang kampusnya terletak di daerah pinggiran itu. Demikianlah keadaannya…

Waktu itu, tahun pelajaran baru dimulai. Seorang pemuda lulusan sebuah sekolah tinggi terkemuka di Indonesia memutuskan untuk menjadi seorang guru di sekolah kejuruan yang masih terus berkembang tersebut. Dengan penuh semangat, sang guru muda menyapa anak-anaknya, berkenalan dengan mereka, dan kemudian mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk membimbing anak-anak itu, mendorong mereka untuk membangun mimpi-mimpi yang belum pernah terbayang sebelumnya, membangkitkan motivasi mereka untuk berjuang keras agar dapat mewujudkan mimpi-mimpi itu, dan mempersiapkan mereka untuk meninggalkan kota kecil itu dalam rangka mewujudkan mimpi-mimpi indah itu.

Para siswa sekolah kecil itu menyambut sang guru muda dengan baik. Anak-anak itu belajar dengan sungguh-sungguh. Mereka rela bermandi keringat dan air mata demi menguasai ilmu serta keterampilan yang diajarkan oleh sang guru muda. Mereka mati-matian mengatur waktu yang mereka miliki agar dapat mengikuti sesi tambahan di luar jam sekolah namun tetap dapat membantu orang tua mereka dalam menjalani hidup yang tidak mudah. Mereka mulai berani bermimpi, sesuatu yang sebelumnya mereka anggap hanya menjadi hak bagi para siswa sekolah umum saja. Dan, beberapa di antara mereka telah siap untuk meninggalkan kota kecil tempat kelahiran mereka dalam rangka mewujudkan mimpi-mimpi yang telah mereka jalin di benak masing-masing.

Allah berfirman bahwa sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan dan di dalam kemudahan itu ada kesulitan. Demikianlah yang terjadi di sekolah kejuruan di kota kecil itu. Setelah kerja kerasnya mulai menampakkan hasil, sang guru muda dihadapkan pada sebuah masalah yang tidak kecil. Tidak semua anak-anaknya memiliki pemahaman yang sama akan cinta yang telah diberikannya kepada mereka. Sang guru muda menganggap bahwa cinta yang diberikannya kepada anak-anak itu adalah seperti cintanya pohon kepada burung-burung yang memberikan perlindungan dan penghidupan tanpa mengharap balasan agar burung-burung itu dapat terus mewarnai langit. Namun, beberapa di antara anak-anaknya itu mengartikan cinta yang tumbuh di antara mereka dan sang guru muda sebagai cinta antara sepasang merpati.

Sang guru muda jadi bingung menghadapi masalah ini. Jika dia, sebagai seorang guru, menerima cinta (ala merpati) yang diberikan beberapa anaknya itu, maka hubungannya dengan anak-anak yang lain akan jadi bermasalah. Dia akan kehilangan wibawanya di dalam kelas. Namun, jika dia dengan tegas menolak cinta (ala merpati), maka anak (yang ditolak)-nya itu akan patah hati dan level hubungan mereka akan kembali ke masa awal tahun pelajaran, padahal saat kelulusan sudah sedemikian dekat.

***

Bagaimana? Dapat melihat gambaran nilai plus dan minus dari menjadi seorang guru muda, bujang (single and available), dan berpenampilan menarik (seperti saya :mrgreen: ) di sebuah sekolah menengah atas? Kejadian dalam cerita itu dapat terjadi pada siapapun… termasuk saya juga -_- . Tidak, bukannya saya menyatakan bahwa cinta ala merpati yang terjalin antara guru dan murid (bahkan sampai berlanjut ke level yang lebih tinggi) itu adalah sesuatu yang salah. Sama sekali tidak. Saya menghormati pilihan banyak rekan guru yang melanjutkan mendidik anak muridnya untuk seterusnya. Mereka telah membuat pilihan, dan itu adalah sesuatu yang harus dihargai. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah pengaruhnya terhadap proses belajar mengajar.

Seperti yang menjadi bahan pertimbangan sang guru muda… Jika seorang guru menjalin cinta ala sepasang merpati dengan salah seorang anaknya (saya tidak menyebutkan gender karena hal ini dapat terjadi pada guru lelaki dan guru perempuan), maka kewibawaannya di kelas akan terganggu. Anak-anak akan cenderung tidak menganggap sang guru sebagai seorang guru. Apalagi jika sang guru menjalin cinta ala sepasang merpati itu dengan primadona kelas atau primadona sekolah. Kemungkinan terjadinya aksi ‘balas dendam’ dari mereka yang patah hati sangatlah besar…

Saya tidak punya data riil tentang hal ini, *ada yang punya?* namun saya pernah mewawancarai beberapa anak saya dalam beberapa kesempatan santai. Hasilnya, mereka cenderung lebih menyukai guru-guru yang tidak menjalin hubungan cinta ala sepasang merpati dengan anaknya. Bagaimana jika sudah lulus? tanya saya lagi. “Itu lain cerita, Pak” begitu jawab mereka dengan kompaknya.

Semua yang saya sampaikan di atas 🙄 merupakan pemikiran pribadi saya sendiri. Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi panjang dengan seorang rekan yang juga masih melajang, padahal usianya sudah hampir 30 tahun, namun teguh berpendirian untuk tidak menikah dengan salah satu dari anak-anak kami. “Mereka itu anak-anak kita, Pak…” demikian katanya saat saya bertanya kenapa beliau tidak memilih salah satu dari 1000-an lebih siswi sekolah tempat kami mengajar. “… masak saya akan tega melakukan hal itu…” lanjutnya. Menariknya, pendirian beliau itu sama dengan pendirian kedua orang tua saya.

Yah, begitu lah… Ini merupakan pendapat pribadi. Namun, membuat sebuah pilihan adalah hak masing-masing individu. Dan, saya juga tidak setuju jika nanti ada aturan (tertulis) bahwa seorang guru tidak boleh menjalin cinta ala sepasang merpati dengan muridnya. Karena, sekali lagi, itu adalah hak asasi…

SEMANGAT!!!