Arsip untuk Juli, 2007

Akhir-akhir ini, saya tidak mempunyai banyak waktu untuk menulis atau sekedar blogwalking. Bukan, bukan karena kerinduan saya itu membuat saya frustasi lalu pergi sambil membawa buntalan untuk mencari matahari. Bukan… Namun kesibukan sebagai seorang mahasiswa lah yang menyita banyak waktu saya. Tugas, praktikum, dan ujian. Sampai-sampai, saya baru mengetahui ada sebuah pertanyaan di sini.

Oke… Saya ingin membantu memberikan informasi banyak tentang pembuatan film. Namun ada beberapa hal yang ‘sedikit’ mengganjal. Pertama; pengalaman saya dalam pembuatan film itu masih sangat sedikit. Jumlah film yang pernah saya buat masih sangat sedikit (belum melebihi jumlah jari di satu tangan). Kedua; saya tidak tahu masalah teknis bagaimana yang ingin diketahui oleh mas Hang Ceking. Perlu diketahui bahwa permasalahan teknis dalam pembuatan film itu mencakup banyak teknik.  Ada wikibook yang membahas tentang hal ini secara lengkap. Lumayan bagus tuh…

Karena itu, yang akan saya lakukan hanyalah berbagi pengalaman (utamanya sih, permasalahan yang ditemui) pada saat membuat film dengan bujet terbatas (indie). Jadi begini…

Permasalahan utama yang akan dihadapi adalah pendanaan. Pendanaan ini akan mempengaruhi alat yang dapat disediakan. Alat yang tersedia akan mempengaruhi kualitas (gambar, suara, dan hal teknis lainnya) dari film. Yang tidak terpengaruh oleh pendanaan adalah kualitas cerita yang disampaikan dan excitement yang dirasakan oleh pembuat film dalam proses produksi. Yup, hanya dua hal itu saja.

Cerita adalah kekuatan utama dari sebuah film indie. Karena itu, cerita yang dikembangkan harus benar-benar menarik. Kekuatan cerita itu akan didukung oleh angle pengambilan gambar dan musik yang mengiringi. Coba bayangkan sebuah adegan tentara berbaris menuju medan perang dengan diiringi musik Bengawan Solo. Cocok nggak? Berdasarkan hal ini, maka teknik penguasaan kamera dan sense of music perlu dikuasai benar.

Bukan berarti sebuah film indie tidak boleh mengangkat tema-tema besar nan berat semacam film perang ala We Were Soldiers atau A Night at the Museum. Bukan. Di sinilah seninya membuat film indie. Bagaimana menggunakan dana minim yang tersedia sehingga dapat menghasilkan sebuah film bagus semacam A Passion of the Christ. Sekedar informasi, salah satu studio independen terbesar adalah Lucasfilm, yang pernah memproduksi Star Wars.

Kreatifitas dan improvisasi adalah kuncinya. Ingat, film itu adalah kumpulan tipuan yang dikemas sedemikian rupa sehingga para penontonnya tidak sadar telah ditipu habis-habisan. Bahkan justru bahagia. Lihat saja antrian di depan bioskop yang memutar film Harry Potter and the Order of the Phoenix atau Ada Apa Dengan Cinta beberapa waktu yang lalu. Padahal mereka itu ditipu lho… Makanya saya lebih suka menonton film yang sudah dialihkan ke VCD atau DVD (sebenarnya sih, karena harga tiket biskop itu mahal banget… sulit terjangkau anak kos seperti saya ini 😀 )

Menurut saya, seorang pembuat film itu juga harus memiliki kemampuan manajerial. Bukan hanya me-manage uang, namun juga me-manage manusia, para kerabat kerja (istilah kerennya, kru produksi). Menumbuhkan excitement dalam proses produksi, dan menjaga semangat agar tetap tinggi.

Jadi, seperti itu… Saya ndak tahu apakah ini akan banyak membantu. Untuk masalah teknis, di link yang saya sertakan di atas itu 🙄 sudah tersedia banyak. Versi Bahasa Inggris sih… Ndak masalah kan? Sebenarnya saya ingin membuat tulisan yang lebih panjang, namun ada beberapa tugas yang harus dikumpulkan besok padahal baru dikerjakan < 30%. Sambung lain kali saja ya. Ingat… SEMANGAT!!!

Iklan

aku rindu matahari…

Posted: 21 Juli 2007 in Uncategorized

Aku rindu matahari pagi yang dengan gagah mengusir kegelapan malam dan menghadirkan cahaya ke dunia…

Aku rindu matahari siang yang dengan perkasa memberikan semangat kepada segenap mahluk untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keajaiban ini…

Aku rindu matahari senja yang begitu tegar mewarnai dunia dengan semburan darahnya…

Aku rindu matahari yang dengan setia dan penuh keikhlasan membantu bulan mengarungi malam-malam yang gelap…

Aku rindu matahari yang merelakan dirinya tertutup awan mendung, agar hujan dapat menyiram bunga-bunga yang disukainya…

Aku rindu matahari yang tidak pernah kehilangan semangat untuk menjalani hidup, walaupun usianya sudah semakin tua…

Aku rindu matahari yang tidak pernah kesepian, walaupun terpisah dengan bulan, pasangan sejatinya…

Aku rindu matahari yang tidak menjadi sombong, biarpun laksaan mahluk menggantungkan hidup pada keberadaannya…

Aku rindu matahari…

Dapatkah aku menjadi matahari?

 

Di balik kata magister

Posted: 18 Juli 2007 in pendidikan

Saya dihajar!

Apa sih maknanya S2 itu? Kenapa dia diberi gelar magister/master? Apa bedanya dengan S1 atau level sarjana? Apa pula yang membedakan dengan tingkatan S3 atau doktor? Kenapa Anda bersedia susah-susah belajar lagi, jadi mahasiswa lagi, jadi anak kos lagi? Padahal dengan gelar sarjana pun Anda sudah mendapatkan penghasilan yang cukup untuk mewujudkan impian-impian Anda?

Saya jadi terdiam agak lama… Bingung harus menjawab bagaimana. Tapi pertanyaan demi pertanyaan terus menghambur dari Bapak itu, seperti rentetan senapan mesin Browning M2 .50 cal.

Apa Anda sudah merasa pantas menyandang gelar sarjana sehingga dengan sombongnya PD-nya datang ke tempat ini untuk memperoleh gelar magister?

Berkunang-kunang rasanya, mata ini… Emosi mulai naik, tapi masih bisa ditahan walaupun harus mengerahkan segenap daya upaya. Sampai pada suatu titik, dimana suara Bapak itu tidak lagi terdengar. Waktu seolah berhenti (bukti kebenaran teori Einstein simultaneous relativity). Gemuruh mesin otak yang sedang bekerja keras begitu jelas terdengar (hiperbola nih, tidak usah dipercaya :mrgreen: ). Kesadaran pun datang menyapa (ini juga hiperbola).

Bapak itu tidak sedang ingin berantem. Lha iya lah… Kalau beliau memang ingin berantem, bakal hancur dia dihajar 32 pasang tangan-tangan kokoh nan kuat yang sekarang terkepal itu. Beliau ingin memberikan sebuah pencerahan kepada saya kami.

Sarjana itu, adalah orang yang mampu melakukan pemecahan masalah menggunakan suatu metoda. Analisa dari suatu kasus, yang diwujudkan dalam bentuk skripsi atau TA atau apapun itu namanya. Itulah yang dilakukan oleh seorang sarjana. Jadi, tidak masuk akal jika seorang sarjana tidak memahami prinsip-prinsip analisa!!

Saya diam saja. Entah kenapa kok mulut ini seperti terkunci…

Magister itu, semestinya berada di level yang lebih tinggi dari seorang sarjana. Metoda pemecahan masalah yang dipahami dan dikuasai, tidak hanya satu. Seorang magister mampu mengetahui dengan cepat, metoda mana yang lebih baik untuk memecahkan suatu masalah. Magister memahami alasan apa yang membuat metoda A lebih baik daripada metoda B. Nah! Itu adalah ciri seorang magister!

Nah! Kalau doktor, mereka adalah orang-orang yang mampu mengembangkan metodanya sendiri, dan mampu menunjukkan perbedaan serta keunggulan dari metoda itu. Bagaimana doktor mampu mengembangkan dan mempertahankan metodanya sendiri? Ya dengan mempelajari metoda-metoda lain yang sudah ada lebih dulu! Apa keunggulannya… Apa kelemahannya…

Saya masih terdiam mendengar penjelasan beliau. Tapi tangan ini sudah tidak terkepal lagi (entah dengan 31 pasang tangan yang lain). Api yang menyala dalam dada tadi sudah mengecil… Keinginan untuk berdebat sudah hampir hilang.

Saya tidak akan mempermasalahkan alasan Anda datang ke tempat ini… Itu adalah urusan pribadi masing-masing. Yang saya inginkan adalah Anda semua memahami bahwa yang tadi saya sampaikan itu adalah mind set yang harus terpatri dalam alam pikiran Anda semua… bla… bla….

Fiuh… Tanpa sadar, pada akhir kuliah itu, baju saya basah oleh keringat. Bukan… Bukan karena dihajar sama Bapak itu, tapi karena AC di ruangan tersebut mati, dan waktu itu Bandung sedang panas, dalam artian sebenarnya. Sumuk! Sebenarnya, masih banyak yang disampaikan oleh Bapak itu, dan layak untuk diangkat jadi bahan posting di lain kesempatan. Tapi untuk sekarang, saya merasa apa yang beliau sampaikan sudah cukup ‘berat’ (bagi saya setidaknya). Karena itu, supaya tidak menular kepada yang lain, saya cukupkan sampai di sini dulu cerita tentang beliau…

Mendapatkan tambahan magister di belakang nama (ada nggak ya, gelar S2 yang diletakkan di depan?)… Ternyata tidak semudah apa yang saya bayangkan selama ini. Oke, mungkin ada yang menertawakan. Yah, pak guru ini gimana sih? Ngambil S2 kok ndak paham konsekuensinya… 😆 . Dak pa-pa, saya terima kok diketawain karena itu *sok sabar, padahal sudah nyiapkan senapan sniper Magnum di dekat meja komputer* 👿

Yang pasti, setelah dihajar habis-habisan begini, saya harus berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kriteria sarjana dan magister yang sebenarnya. SEMANGAT!!!

ps: sebenarnya, kata SEMANGAT itu ingin diucapkan keras-keras sambil mengepalkan tangan dengan penjiwaan penuh, tapi gak jadi karena ada beberapa akhwat di dalam ruangan tempat saya menulis posting ini. Sungkan nih… :mrgreen:

Nikmati!

Posted: 16 Juli 2007 in cerita, renungan

Saat kita melakukan sesuatu yang lain daripada yang biasa kita lakukan, maka ada kemungkinan kita akan mendapati sesuatu yang penting, yang biasanya tersembunyi. Karena itu, banyak orang yang menyediakan waktu untuk berlibur ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya. Juga ada banyak orang yang melakukan pencarian jati diri dengan jalan masuk hutan, naik gunung, spelunking, base jumping, dan paragliding. Semua itu bertujuan untuk melakukan sesuatu yang berbeda, untuk menemukan sesuatu yang penting, yang tersembunyi…

Sabtu kemarin, saya mengalaminya. Dengan melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan, saya menemukan sesuatu yang penting. Yang sangat bermakna. Saya menghadiri resepsi pernikahan seorang sahabat, salah satu yang terbaik yang pernah saya miliki. Lokasinya di Menes, Pandeglang.

Pagi sekali, sekitar jam 05.20, saya sudah mandi. Dan dalam dinginnya Bandung di pagi hari (14 derajat tuh), jam 06.00 saya sudah mejeng di Gerbang Ganesha, menunggu seorang teman (cowok, bujang juga) yang juga ingin menghadiri pernikahan sahabat saya itu. Jam 09.00, bus yang kami naiki baru meninggalkan terminal Leuwipanjang menuju Serang. Jam 11.15, sampai di Serang dan kemudian ganti bus yang menuju Menes.

Ada kejadian yang tidak mengenakkan juga, sih… Kami ditinggalkan oleh teman-teman yang berjanji akan menunggu di Serang! Alasannya sih, karena mereka takut tidak keburu ketemu dengan pasangan manten karena perjalanan ke Menes masih jauh.

Kami berdua tiba di tempat resepsi sekitar 13.45 WIB. Sudah sepi. Teman-teman yang meninggalkan kami di Serang itu, langsung menyambut kami…

“Sori, lho ya… Tadi takut terlambat nih. Soalnya aku juga baru sekarang ini ke tempat ini… Jadi sama-sama gak tahu” sambut Gatut dengan gugup.

“Wei… Yo opo kabare, Rek? Apik wae to?” kata Ayis riang.

“Eh, Dit… Ayo, langsung mangan ae!” sapa Arif, yang pernah berbagi kamar kost.

“Loh, sido teko toh?” tanya kakak ipar kami semua, Irawan, sok lugu.

Setelah berbasa-basi, saya langsung menuju podium. Menuju sahabat saya yang dari tadi terus tersenyum itu, melupakan prinsip wajah rambo hati romeo-nya. Pinter juga dia milih pasangan hidup… Imut, manis, dan sepertinya lebih ‘gaul’ daripada sahabat saya itu 🙂 . Kemudian foto-foto bersama manten. Sampai beberapa session, lho… Maklum, yang datang kan selebritis :mrgreen: .

Kemudian saya bergabung dengan teman-teman yang membentuk kelompok sendiri sambil bernostalgia. Saling menanyakan tempat kerja sekarang… Saling menanyakan kapan akan menyusul menggenapkan agama… Saling bertukar informasi tentang kawan-kawan satu angkatan… Yah, hal-hal yang standar itu lah… Pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada teman yang telah sekian tahun tidak bertemu. Bahkan sampai pada pembahasan rencana untuk mengadakan reuni tahun depan.

Saya jadi tahu kabar sobat yang dekat karena kopi itu… Dia menikah minggu kemarin T_T… Saya juga mendapatkan info bahwa ada teman yang sekarang berada di Korea… Ada info tentang seorang teman lain yang menikah 2 minggu yang lalu. Jadi, dalam 3 minggu berturut-turut, setiap hari Sabtu, ada seorang teman yang mengakhiri masa lajang. Hebat kan… 😀

Selain berbagai informasi itu, kami juga mengomentari penampilan masing-masing yang -secara mengejutkan- tidak banyak berubah. Hanya Arif yang kelihatan bener kalau melakukan perawatan wajah. Jadi cowok metrosexual. Maklum, ada info yang menyebutkan bahwa dia punya banyak pacar :mrgreen: .

Tentu saja kami juga mengomentari pasangan manten yang terus senyum *apa nggak capek ya?* sambil melihat kami yang sesekali tertawa lepas tanpa bisa ditahan. Pertanyaan yang paling tidak bisa dijawab adalah.. “Kenapa teman yang paling tidak ‘gaul’, gak bisa ngomong dengan cewek, dan paling kejam kepada para praktikan itu bisa menikah lebih dulu daripada Arif yang punya banyak pilihan, yang menjadi favorit adik-adik angkatan, yang dapat membuat gadis segarang Mbak Anita (senior paling sangar sekaligus paling manis) jadi tersipu malu…”

“Yah, itu sudah jalan yang ditentukan atas diri kami…” Itulah kesimpulan yang bisa kami tarik dari perbincangan singkat namun seru itu. Kalau bukan begitu, apalagi yang menjadi penyebabnya? Manusia berencana, Tuhan berkuasa…

Topik terakhir yang kami bincangkan adalah kenangan. Masa-masa saat kami belajar bersama, saat tertawa bersama, saat misuh-misuh bareng waktu praktikum fisis… Malam-malam yang hangat di lab, makan sego pe wonokromo bareng-bareng, saat wisuda… Yah, topik-topik macam begitu itu lah…

Melihat ekspresi teman-teman itu, saya jadi tersadar. Every moment is the precious ones. Jadi, nikmatilah setiap perioda waktu yang kita jalani. Yang sedang mengerjakan TA/skripsi, nikmati! Yang baru menjadi mahasiswa, nikmati! Yang sedang kasmaran, nikmati! Dan terakhir, yang sedang nge-blog, NIKMATI! Karena kita pasti akan merindukan masa-masa yang telah lewat itu… Heh, jadi ingat lagunya SO7 nih, sebuah kisah klasik untuk masa depan. Maaf, dak bisa ngasih liriknya, karena ndak hapal 😀

Yah, begitu saja. Sudah kepanjangan nih… Ingat lho, NIKMATI!!! SEMANGAT!!!

Alasan Menikah

Posted: 10 Juli 2007 in narsis, renungan

Tanya 1 : “Cak, sabban beremma caretana bisa akabin ambik Yu?”Jawab 1 : “Sabban sengko’ e pajudu… Daddi katemo ya bektona lamaran” *serius*

Tanya 2 : “Kang, yo opo critane kok sampeyan iku iso nikah ambek Mbak e?”

Jawab 2 : “Ooo… Biyen aku ketemu Mbakmu iku nang bis. Eh, ndilalah kok yo keterusan sampe’ rabi” 😀

Tanya 3 : “Mas, bagaimana ceritanya kok sampai menikah sama Mbak?”

Jawab 3 : “Kami dulu sekelas. Awalnya gak ada rasa, tapi tambah lama dianya itu jadi tambah menarik. Jadi, deh… Sampai nikah” 😎

Tanya 4 : “Mbak, kok bisa menikah dengan Mas itu sih?”

Jawab 4 : “Aku pernah nginjek kodok, jadi ya kepaksa deh…” :mrgreen:

Tanya 5 : “Mbak, alasan menikahnya dulu gimana?”

Jawab 5 : “Dulu, masmu itu buka les privat. Kemudian kami pacaran. Main-main sih… Terus, Mbak kan harus ke M*****r… Eh, waktu pulang diberitahu kalau sudah dilamar. Keterusan, deh… Sampai hasil ponakan 2” 😀

Tanya 6 : “Why did you marry her?”

Jawab 6 : “Well, there was a party, and then some crazy night, and then she told me that she had my baby. I didn’t have much choice back then. Her father is mafia you know…” 😦

Tanya 7 : “Kenapa kamu menikah sama dia?”

Jawab 7 : “Karena, dia kaya dan jelita…” 😎

Tanya 8 : “Kenapa kamu mau menikah sama cowok kayak gitu?”

Jawab 8 : “Dia punya kepribadian yang bagus. Rumah pribadi, mobil pribadi, kapal pribadi, pulau pribadi, bagus-bagus lho…” 😎

:mrgreen: Oke, saya memang tidak berada dalam kapasitas yang tepat untuk membahas masalah ini karena saya belum menikah T_T. Tapi, karena pertanyaan saya belum dijawab sama sahabat yang akan menikah sabtu besok itu, akhirnya saya terdorong untuk membuat posting ini. Apa sih alasan yang mendasari sehingga seorang seperti sahabat saya itu memutuskan menikah. Apa pula alasan yang mendasari sehingga seorang seperti saya belum menikah (karena belum ada yang mau!!! sudah jelas, kan? 👿 ). Tapi, alasan sehingga belum menikah ini, dibahas di posting lain aja deh… Sensitif, soalnya 😀

Kalau saya sih, pengennya menikah dengan alasan yang keren gitu… Yah, paling tidak bukan karena istri saya nginjek kodok *nauzubillah… jangan sampai itu terjadi*. Mungkin ada yang bertanya… Kenapa kok gak ada yang menjawab ‘karena saya cinta dia‘? Jawabnya gampang. Karena pernikahan yang didasari cinta itu langka banget. Makanya dak saya masukkan ke dalam daftar 8 alasan menikah paling populer. Yang paling banyak justru adalah alasan nomor 1. E pajudu! Oke, mungkin semua akan ngomong. Sekarang bukan lagi jaman Siti Nurbaya!!! Iya, memang, tapi tetap banyak yang menikah dengan alasan itu. Gak percaya? Coba aja adakan survei sendiri, sana! 👿

Bukannya saya gak percaya kalau sahabat saya itu menikah karena cinta. Bukan. Karena saya tahu, sulit untuk tidak mencintai sahabat saya itu. Dengan catatan, sudah mengenal baik dan lama bergaul dengan dia. Kalau at the first sight, kok kayaknya… Agak… Gimanaaaa gitu. Aneh aja… 😀

Ah, berarti mulai sekarang harus menyusun alasan yang bagus dan masuk akal plus keren nih. Biar bisa dipamerkan. Kalau ada yang bertanya “Gimana kalau kamu dijodohkan sama seseorang yang gak pernah kamu kenal?” Saya akan menjawab dengan pe-de. “Gak pa-pa. Akan saya terima dengan senang hati. Lha wong itu sudah jalan yang harus ditempuh, mau gimana lagi?” 😀 *desperate banget ya?* 😆

ps : Kalau mau tahu tentang menginjak kodok, buka saja blog-nya mas yang ini

Akhir-akhir ini, banyak yang memprotes para produsen sinetron Indonesia yang dianggap telah kehilangan daya kreatif sehingga akhirnya menyadur film yang diproduksi orang luar. Tapi, sebenarnya, bagaimana sih cara membuat film itu? Posting ini bukan sebuah pembelaan, dan bukan pula sebuah hujatan baru. Hanya ingin menunjukkan… Begini lho, caranya membuat film. Hitung-hitung, sebagai materi tambahan buat anak-anak saya di sekolah…

Pada dasarnya, membuat film itu dapat dibagi ke dalam 14 tahapan. Apa saja?

1. IDE

Idealnya, IDE ini harus unik dan original. Tapi, memutuskan untuk menyadur sebuah karya orang lain itu juga termasuk sebuah IDE lho… Untuk mencari IDE, banyak cara yang bisa dilakukan. Melakukan pengamatan terus-menerus, jalan-jalan ke tempat yang aneh dan belum pernah didatangi manusia, nangkring di pohon asem di pinggir jalan sambil mengamati kendaraan yang lalu lalang, atau bahkan duduk santai di sebuah food court di suatu plaza atau mall. Melamun sendirian di dalam kamar juga bisa mendatangkan ide, kok…

2. Sasaran

Setelah mendapatkan IDE, tentukan sasaran dari film yang akan dibuat. Koleksi pribadi? Murid SMU? Komunitas S&M? Para Otaku? Para Blogger? Siapa yang akan menonton film itu nantinya? Itu juga harus ditentukan dengan jelas di awal. Jangan sampai terjadi, film tersebut ditujukan untuk anak SMU tapi karena tidak disosialisasikan dengan jelas, akhirnya dipenuhi adegan berantem penuh darah ala 300

3. Tujuan

IDE dan Sasaran sudah ditetapkan. Yang harus dipastikan selanjutnya adalah tujuan pembuatan film. Ingin menggugah nasionalisme seperti Naga Bonar? Ingin menyampaikan pesan terakhir sebelum nge-bom? Ingin mendapatkan kepuasan pribadi seperti pembuatan film Passion of the Christ? Apa?

4. Pokok Materi

Berikutnya adalah menyusun pokok materi. Apa sih pesan yang ingin disampaikan? Ungkapan cinta? Sekedar pesan mengingatkan bahaya merokok?

5. Sinopsis

Sinopsis adalah ringkasan yang menggambarkan cerita secara garis besar. Semacam ide awal gitu loh. Dari sinopsis ini, nantinya bisa dikembangkan menjadi cerita yang lebih detil.

6. Treatment

Tahapan ini adalah penggambaran adegan-adegan yang nantinya akan muncul dalam cerita. Tidak mendetil. Contoh treatment itu seperti ini…

Ada seorang perokok yang sedang merokok dengan santainya. Kemudian tiba-tiba dia batuk-batuk dengan hebat dan agak lama. Sebelum beranjak pergi, orang itu membuang rokoknya sembarangan. Tiba-tiba muncul api…

7. Naskah

Naskah adalah bentuk mendetil dari cerita. Dilengkapi dengan berbagai penjelasan yang mendukung cerita (seting environment, background music, ekspresi, semuanya…). Contoh naskah itu, seperti ini…

FS. Ali mengayuh becak. Ais duduk merenung, tidak mempedulikan Ali yang bolak-balik menatapnya.

Ali : Dak usah dipikir lah, Mbak…

Ais : (kaget) Heh? Apa, Bang?

8. Pengkajian

Pengkajian disini, adalah yang dilakukan oleh seorang ahli isi (content) atau ahli media. Yang dikaji, adalah apakah naskahnya sudah sesuai dengan tujuan semula? Dan hal-hal yang mirip seperti itu…

9. Produksi Prototipe

Proses ini dibagi jadi 3 sub-tahap, yaitu pra-produksi (penjabaran naskah, casting pemain, pengumpulan perlengkapan, penentuan dan pembuatan set, penentuan shot yang baik, pembuatan story board, pembuatan rancangan anggaran, serta penyusunan kerabat kerja), produksi (pengambilan gambar sesuai dengan naskah dan improvisasi sutradara), purna-produksi (intinya adalah editing).

10. Uji coba

Uji coba ini dilakukan dengan memutar prototipe di hadapan sekelompok kecil orang. Kalau produsen film besar, biasanya melakukan ini di hadapan para kritikus. Tujuannya adalah untuk mengetahui respon dari calon audiens.

11. Revisi

Setelah ada respon, maka dilakukan perubahan jika diperlukan. Karena itu lah, banyak film yang memiliki deleted scenes. Itu diakibatkan proses uji coba dan revisi ini.

12. Preview

Preview itu adalah pemutaran perdana, di hadapan para ahli isi, ahli media, sutradara, produser, penulis naskah, editor, dan semua kru yang terlibat dalam produksi. Tujuan dari preview ini adalah untuk memastikan apakah semuanya berjalan lancar sesuai rencana atau ada penyimpangan. Bisa dikatakan, bahwa preview ini adalah proses pemeriksaan terakhir sebelum sebuah film diluncurkan secara resmi.

13. Pembuatan Bahan Penyerta

Bahan Penyerta itu adalah poster iklan, trailer, teaser, buku manual (jika film yang dibuat adalah sebuah film tutorial), dan lain sebagainya yang mungkin dibutuhkan untuk mensukseskan film ini.

14. Penggandaan

Tahap terakhir adalah penggandaan untuk arsip dan untuk didistribusikan oleh para Joni (ini terjadi pada jaman dulu kala, waktu format film digital masih ada di angan-angan).

Nah, demikian lah proses produksi sebuah film. Dari awal sampai akhir, siap untuk didistribusikan. Jadi, apa lagi yang ditunggu? Mari kita produksi film-film berkualitas agar tidak dikatakan bahwa sineas Indonesia telah kehilangan kreatifitas dan tidak bisa memproduksi karya orisinil lagi. SEMANGAT!!!

Dolanan Masa Silam

Posted: 4 Juli 2007 in pendidikan, renungan

Beberapa hari terakhir, salah satu teman saya mengajak dua putrinya ke kampus. Dua putri kecil yang senang sekali bermain dan penuh rasa ingin tahu. Salah satu dari dua anak kecil itu, begitu senang bermain tanpa takut pada yang namanya kotor. Yang selalu mengundang emosi dari ibunya. Padahal kan ada R***o ya? Yang mencuci sendiri itu lho… 😀

Kemarin, sambil menunggu datangnya dosen (yang akhirnya ketahuan kalau sedang ada urusan di Jakarta), saya dan beberapa teman, termasuk ibunya Via dan Putri, ngobrol panjang lebar tentang anak-anak dan dolanan. Kami membandingkan apa yang dimainkan anak-anak jaman sekarang dengan apa yang kami mainkan waktu kecil dulu. Konkritnya, kami membandingkan P*2 dengan Dakon, membandingkan softball dengan kasti. Juga membandingkan gelanggang remaja dengan lahan sawah yang baru dipanen tempat kami bermain dulu.

Menariknya, mayoritas dari kami yang berdiskusi sepakat bahwa dolanan yang kami mainkan di masa kecil itu memiliki lebih banyak manfaat daripada mainan anak-anak jaman sekarang. Gobak sodor melatih kemampuan olah fisik, olah strategi, dan kejelian membaca situasi serta menciptakan sebuah kesempatan. Dakon melatih kemampuan berhitung dan kejelian mengatur strategi. Petak umpet melatih kreatifitas, kesabaran serta keberanian (coba bayangkan; waktu main petak umpet dulu, teman-teman saya itu ada yang bersembunyi di bawah jembatan bambu yang melintang di atas sungai besar depan rumah, bahkan ada yang bersembunyi di balik tembok kompleks makam di seberang sungai). Di atas semua itu, dolanan-dolanan masa silam itu juga mengajarkan satu unsur penting. KEBERSAMAAN.

Kalau tidak percaya, coba diingat. Adakah di antara dolanan-dolanan masa silam itu yang dapat dimainkan seorang diri? Adakah di antara dolanan-dolanan masa silam itu yang tidak melibatkan interaksi dengan anak-anak lain? Kalau seingat saya sih, tidak ada. Semuanya memerlukan partner. Semuanya memerlukan lawan atau rekan yang memiliki kepribadian masing-masing, sehingga perlu dikembangkan manajemen psikologi dalam menangani konflik-konflik yang mungkin akan muncul. Pada waktu dolan itulah, biasanya mulai terlihat bakat dan potensi yang tersimpan dalam diri seorang anak.

Diskusi itu membuat saya jadi teringat pada masa kecil dulu. Waktu itu, anak-anak satu RW sering kumpul di halaman rumah saya yang terbilang paling luas walaupun terletak di pojok desa dan ‘mewah’ (mepet sawah). Tapi justru karena mewah itu, di malam-malam yang hangat di musim kemarau, rumah saya menjadi lokasi paling ideal untuk bermain sambil menikmati sinar bulan. Mulai turun ngaji sampai jam 9 sembilan malam (waktu itu, acara TV sama sekali tidak bisa menyaingi asiknya bermain kejar-kejaran, dan me-nembang rame-rame), dan akhirnya harus mandi lagi karena gatal-gatal akibat keringat bercampur debu 😀 . Ah, it was fun.

Dalam diskusi itu juga terungkap kekecewaan kolektif yang kami rasakan. Kami sama-sama kehilangan dolanan-dolanan itu. Sudah jarang kami melihat sekelompok anak yang bermain gobak sodor. Sudah lama kami tidak menemukan alat permainan dakon. Sudah lama pula kami (saya, lebih tepatnya) tidak mendengar suara-suara kecil yang menembangkan dur…salendur…salendurra noro’ bunte’… . Padahal manfaat dari dolanan-dolanan itu begitu besar. Bandingkan dengan bermain Age of Empire, Final Fantasy series, atau Counter Strike dan Ragnarok yang hanya meningkatkan keterampilan jari dan justru membuat anak-anak sekarang terasing dari dunia nyata. I know, because I’ve played them all. 🙂

Kadang saya jadi kepikiran untuk membuat ‘sesuatu’ (bisa berupa web atau buku manual dolanan atau sesuatu yang lain yang belum pernah terpikirkan) yang dapat digunakan untuk melestarikan dolanan-dolanan masa silam itu. Sayang kan, kalau sesuatu yang memiliki begitu banyak manfaat bagi anak-anak, hilang begitu saja. Ada ide?