Arsip untuk Januari, 2017

Momen pernikahan yang ….

Posted: 23 Januari 2017 in cerita, salbut
Tag:

Minggu kemarin, saya menghadiri 2 acara pernikahan yang meninggalkan kesan yang dalam di benak saya. Kok bisa sampai berkesan? Begini ceritanya …

Yang pertama adalah pernikahan yang saya hadiri pada Jum’at, 20 Januari 2017. Kebetulan pada acara ini, saya tidak hadir sebagai tamu, tapi sebagai petugas Terima Tamu.. πŸ˜›

terima-tamu

Bukan Pernikahan Kedua πŸ˜€

Yang paling berkesan dalam acara ini adalah dengan tidak dikumandangkannya Kebo Giro sama sekali, dari awal sampai akhir acara resepsi. Fungsi lagu legendaris (kebo giro) itu digantikan oleh lagunya Christina Perri, A Thousand Years. Jadi mirip-mirip adegan pernikahannya Edward sama Bella… Sayang saya tidak sempat mengabadikan prosesi saat pasangan pengantin menuju pelaminan yang diiringi lagu A Thousand Years (tanpa lirik) secara live yang dibawakan oleh seorang pemain saxophone.

Punahnya nilai-nilai tradisional yang dianut bangsa Indonesia? Terlalu mbarat? Silahkan berpendapat, tapi yang jelas… bagi saya, prosesi itu sangat… wow! dan berkesan. “Beda euy..” itu yang terlintas di pikiran saya pertama kali saat menyaksikan prosesi tersebut.

Yang kedua adalah resepsi pernikahan yang saya hadiri pada Sabtu, 21 Januari 2017. Tidak ada foto-foto pada acara ini, karena saya sibuk banget… sibuk ngambilkan makanan dan minuman plus es krim sampai habis 4 cup buat Ghazi πŸ˜€

Yang paling berkesan dalam acara ini adalah dengan tidak disediakannya kotak untuk memasukkan amplop berisi uang sumbangan para tamu. Jadi, hidangannya total gratis. Tamu tidak mengeluarkan biaya sama sekali… Alhamdulillah… Sementara suvenir yang diberikan kepada para tamu undangan adalah sebungkus bibit.

Sok kaya? Pamer? Silahkan berpendapat, tapi yang jelas… bagi saya, konsep acara ini sangat patut diacungi jempol. Dan saya sangat berterima kasih kepada shohibul hajat.

Jadi, itulah… kalau Anda yang mengalami, kira-kira juga akan terkesan, ndak???

Iklan

Perubahan…

Posted: 14 Januari 2017 in renungan, serius

suatu malam saat pemadaman listrik

Di kampung saya… setiap malam Minggu setelah sholat Isya’, diadakan sebuah acara rutin untuk bapak-bapak (saya termasuk, karena sudah memenuhi syarat alias sudah tua T_T ). Acara ini diadakan di salah satu Langgar / Surau (di RT saya ada 2 Langgar).

Rangkaian acaranya sih, terdiri dari pembacaan Al Fatihah bersama-sama, tahlil, kemudian do’a. Setelah itu, ramah tamah sambil arisan πŸ˜€

Kalau dulu, beberapa tahun yang lalu, di arisan ini juga dibicarakan hal-hal yang menyangkut kehidupan jamaah Langgar. Misalnya, penggantian keranda mayat, acara kurban (menjelang Idul Adha), persiapan takbir keliling (menjelang Idul Fitri), perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW, dan banyak lagi lainnya. Bahkan acara kerja bakti pada hari Minggu juga sering dibahas di acara Tahlilan bapak-bapak ini dengan model manajemen bottom-up dimana semua orang dapat mengajukan saran dan usul… Dulu.. 😐

Sekarang, ada banyak perubahan.

Di acara rutin ini, tidak lagi diadakan pembahasan hal-hal semacam itu. Hanya baca Al Fatihah, tahlil, do’a bersama, dan terakhir arisan. Habis itu bubar, pulang ke rumah masing-masing. Urusan keduniawian (kerja bakti, penggantian keranda, dll) langsung ditangani oleh Pak RT. Modelnya top-down. Pak RT memberikan instruksi, warga menjalankan (walaupun pada pelaksanaannya banyak yang mangkir πŸ˜€ ). Urusan Langgar (perayaan hari besar keagamaan, dll) ditangani langsung oleh pengurus inti organisasi Langgar. Juga tanpa mempertimbangkan usulan dari jamaah yang tidak menjadi pengurus inti. Juga dengan model top-down.

Kenapa ya, kok ini terjadi???

……………….