Archive for the ‘cerita bersambung’ Category

*resurrection no jutsu*

*bangkit dari alam kematian*

Alhamdulillah…

Akhirnya…

Saya hanya ingin mengucapkan dua kata saja.

SAYA LULUUUUSSS!!! πŸ˜†

Terima kasih semuanya… m(_ _)m
Buat yang sedang berjuang… SEMANGAT!!! Kapan nyusul? 😈

*harakiri no jutsu* πŸ˜€

*kembali ke alam kematian*

Iklan

And he dies…

Itu adalah kalimat penutup dari salah satu tulisan Shakespeare, yang ada King Lear -nya itu lho (kalau dak salah).

Dan, itu pula yang terjadi dengan blog ini.

Die..

Namun, saya tidak akan menghapus blog ini. Biarlah blog ini menjadi memento salah satu perioda dalam hidup yang harus saya lalui.

Jadi,

selamat tinggal semuanya…

Sayonara…

Au revoir…

Auf wiedersehen…

Good bye…

And the curtain is closed.

disclaimer : cerita ini adalah fiksi yang dipadukan dengan beberapa fakta… selamat menebak bagian mana yang fiksi, dan mana yang fakta… πŸ˜†

Aku duduk sendiri di atas batu besar yang ada di puncak bukit di selatan kota, tempat kami sering menghabiskan waktu berdua. Bercerita tentang masa lalu yang penuh warna dan merajut mimpi masa depan yang mesti bahagia. Menatap langit yang begitu dekat, sehingga seolah dapat diraih dengan kedua tangan. Sering kami berdiri di atas batu ini sambil berteriak pada langit.

“Langit… Lihatlah kami… Anak-anakmu…”

Yup… Kami selalu menganggap diri ini sebagai anak-anak langit yang sedang menjalani masa pelatihan di bumi dan suatu saat nanti, kami akan kembali ke sana. Ke tempat asal kami. Kampung sejati kami…

Aku berdiri. Angin yang kering menghembus pelan, mengacau rambutku yang sudah panjang. Dari sini, aku dapat melihat hampir keseluruhan kota kami yang kecil. Jauh di utara, bayangan kapal-kapal besar yang membuang sauh di pelabuhan terlihat samar, seolah monster-monster raksasa yang muncul dari dalam laut, hendak menghancurkan kota. Di timur, berdiri Gunung Baluran, sendirian, seolah sebuah pulau yang muncul di tengah lautan hijau kekuningan persawahan. Di selatan, bayangan gelap Gunung Raung dan Gunung Argopuro berdiri angkuh, tinggi, seolah mengingatkanku bahwa di atas yang tinggi masih ada yang lebih tinggi lagi. Di barat sana, barisan Gunung Ringgit, Gunung Agung, dan barisan perbukitan membentuk bayangan seorang putri yang sedang tidur dengan rambutnya yang panjang tergerai lepas sampai ke batas laut.

Dulu, dia sering bercerita tentang sang putri… Suatu hari, dari dalam laut, akan muncul raksasa yang merupakan kekasih sang putri yang sedang tidur itu. Begitu sang raksasa mendekatinya, sang putri akan bangun, dan kemudian mereka akan pergi ke laut, tempat segalanya berasal. Saat itu, kota kami yang tua dan kecil itu akan mengalami perubahan besar yang diakibatkan oleh bangunnya sang putri. Kota kami akan terangkat dan bumi akan merekah. Berbagai macam material berharga akan keluar dari perut bumi. Hadiah dari sang putri atas kesetiaan kota kami dalam menjaganya yang tertidur saat sedang menunggu sang raksasa, kekasihnya…

Kemudian kami akan tertawa… Mentertawakan khayalan kami yang kelewat tinggi…

Aku menatap matahari yang mulai turun. Sudah jam empat sore. Lembah yang ada di bawah sana mulai gelap, dan beberapa orang yang menggarap ladang di tempat itu mulai berkemas untuk pulang. Wajar saja, karena saat matahari benar-benar telah hilang di cakrawala, tonggeret mulai bernyanyi, dan adzan maghrib berkumandang bersahutan, maka wilayah perbukitan ini beralih penguasa. Manusia yang terlambat masuk ke kawasan permukiman harus melewatkan malam di atas pohon yang tinggi atau menumpang tidur di gardu penjaga antena komunikasi di puncak bukit kedua yang dilindungi pagar kawat yang tinggi dan dialiri listrik. Itu karena pada malam hari, daerah ini merupakan arena perburuan gerombolan anjing liar yang bersarang di gua-gua yang banyak terdapat di wilayah ini. Anjing-anjing yang setiap kelompoknya itu berjumlah puluhan, akan memburu mahluk apapun yang berkeliaran di wilayah mereka. Sudah banyak orang yang menemui celaka gara-gara meremehkan kebuasan anjing-anjing itu. Aku merasa, kalau sekarang belum waktunya bagiku untuk kembali ke langit. Karenanya, aku beranjak pergi meninggalkan bukit itu.

Malam itu, aku melangkah sendirian menyusuri trotoar kota yang telah mengalami beberapa kali pembangunan ulang karena bolak-balik hancur diterjang banjir bandang. Tidak banyak orang yang berpapasan denganku. Rata-rata warga kota ini sudah mulai malas berjalan kaki, sejak konsep kredit murah sepeda motor tanpa uang muka dan jaminan itu diperkenalkan. Bahkan, jumlah sepeda kayuh pun sudah jauh menyusut dibandingkan masa-masa waktu aku masih sekolah di tingkat dasar dan menengah. Akibatnya, mulai banyak warga kota yang memiliki masalah dengan berat badan. Yah, harga dari sebuah kenyamanan transportasi adalah ketidaknyamanan di bidang kesehatan.

Dulu, dia selalu bersikeras untuk berjalan kaki dari rumahnya ke sekolah. Padahal, tetangga-tetangganya banyak yang menodong orang tua mereka untuk membelikan sepeda motor atau memiliki tukang becak langganan yang selalu stand by di depan gerbang masuk kompleks tempat tinggalnya itu. Dia tinggal di sana, di kompleks perumahan dinas yang disediakan oleh instansi tempat bapaknya bertugas. Padahal, orang tuanya akan dengan entengnya memberikan apapun yang diinginkannya. Karena dia adalah anak gadis satu-satunya di keluarga itu, bungsu pula, sehingga agak cenderung dimanja oleh ayah dan kakak-kakaknya. Untung ada ibunya, yang selalu tegas, cenderung keras, dalam mendidik dia. Waktu aku dipaksa berdiri selama setengah jam sambil mendengarkan petuah panjang lebar ibunya saat aku menjemput dia jam setengah tujuh malam untuk pergi ke alun-alun di malam minggu, saat itulah aku tahu asal muasal sifat keras kepalanya itu.

Tanpa kusadari, tiba-tiba aku telah berada di alun-alun kota yang, karena bukan malam minggu, sepi dan sedikit gelap. Aku menuju ke pusat alun-alun. Dulu, di situ berdiri sebatang pohon beringin besar yang tubuhnya penuh goresan nama-nama. Namaku dan namanya juga ada di sana. Aku ingat persis lokasinya. Di sisi sebelah barat, di bawah, dekat dengan bagian akar. Tapi, berbeda dengan goresan pasangan nama lainnya, yang dihiasi dengan simbol daun waru yang tertembus panah, goresan nama kami itu tanpa hiasan apapun. Hanya dua nama yang digoreskan berdekatan. Itu saja. Namun, goresan itu sangat berharga karena setelahnya kami harus berlari keluar masuk gang kecil sejauh tiga kilometer dalam rangka menghindari kejaran petugas satpol PP.

Waktu sudah memastikan bahwa para petugas itu tidak mengejar lagi, kami mengaso di sebuah gardu siskamling di pinggir sungai. Dan kemudian kami tertawa… Menertawakan kekonyolan yang baru saja kami lakukan…

Pohon beringin itu sudah tidak ada lagi. Menjadi salah satu korban dalam euforia gerakan reformasi. Pohon itu dianggap sebagai simbol dari kekuasaan salah satu partai dan massa yang mengklaim diri sebagai reformis kemudian merobohkan pohon yang sudah berdiri sejak aku masih kecil itu. Padahal, pohon itu sudah banyak berjasa menaungi orang-orang yang setiap pagi berolah raga di alun-alun. Padahal, pohon itu sudah menjadi saksi kelahiran ratusan generasi berbagai jenis burung yang menjadikannya sebagai sarang. Padahal, pohon itu menyimpan sekian banyak kenangan dari entah berapa ratus pasangan yang mengikat janji di bawah naungan daun-daunnya. Semua harus hilang karena manipulasi politik murahan. Sejak itu, alun-alun kota tidak pernah sama lagi. Bagiku, setidaknya.

Aku menatap monumen pengganti pohon itu. Sebuah perahu yang berada di atas gunung. Entah apa filosofi yang mendasari perancangan monumen ini. Aku tidak pernah bisa mengerti. Perahu di atas gunung, kalau menurutku, bukanlah simbol kemakmuran. Justru itu merupakan simbol dari sesuatu yang tidak berada pada tempat yang semestinya. Perahu kan, mestinya ada di laut. Percaya atau tidak, sejak monumen ini berdiri, kota kami jadi kacau. Pejabat yang tidak kompeten di posnya. Tata pemerintahan yang justru semakin jelas penuh KKN. Terbaginya masyarakat menjadi dua kelompok (Barat dan Timur) yang masing-masing berafiliasi kepada pesantren berbeda yang saling bertentangan karena pimpinannya sama-sama ingin mengendalikan pemerintahan kota dengan menempatkan orang pilihannya sendiri sebagai kepala daerah. Lebih ironis lagi, Gunung Sampan (Gunung Perahu dalam bahasa madura) adalah nama sebuah kompleks lokalisasi terbesar di kota ini…

Waktu kami mengetahui fakta itu, robohnya pohon kenangan dan monumen pengganti yang janggal, dia menatapku lama. Ada kekhawatiran di mata itu. Yah, dia memang sangat mempercayai bahasa simbol. Salah satu permainan yang paling digemarinya di waktu senggang adalah memecahkan kode rahasia yang kubuat. Dan, aku tahu pasti, kalau kejadian itu merupakan sebuah simbol jelek baginya. A bad omen. Aku tidak pernah becus dalam usaha menghilangkan kekhawatiran. Dan, saat itu pun tidak berbeda. Kekhawatiran itu tetap ada di matanya saat kami berpisah.

Setamat SMA, aku pergi ke Surabaya, dan dia pergi ke Malang. Kami hanya sempat bertemu sekali. Pada lebaran pertama yang kujalani sebagai mahasiswa. Saat pulang kampung, aku mendapat undangan untuk menghadiri halal bihalal di rumah salah satu teman sekelas di kelas 3. Di sana aku bertemu dengannya. Masih dengan dandanan yang sama. Rambut potong pendek, wajah tanpa make up kecuali bedak, dan busana yang praktis. Namun dia tidak berhenti lama. Turun dari motor pun tidak, karena dia harus segera pulang ke rumahnya. Tanpa sempat bertukar alamat atau nomor telepon, dia memacu motornya pergi bersama seorang teman sekelasku yang kuliah di kampus yang sama dengannya.

Aku tak pernah bertemu dengannya lagi… Dia hilang begitu saja dari lingkaran kecil hidupku…

Aku merapatkan jaket. Hawa malam ini terasa agak dingin. Musim kemarau di kota ini selalu begitu. Di siang hari, panasnya begitu menyengat dan di malam hari dinginnya begitu menusuk. Sudah jam setengah sembilan. Aku mengambil HP dan menelpon adikku. Dia berjanji akan menjemputku di bagian selatan alun-alun. Di warung bakso yang buka persis di depan kantor dinas sospol. Aku nggak tahu apa nama kantor itu sekarang, tapi kami tetap menyebutnya warung bakso sospol. Aku mengakhiri panggilan telepon dan kemudian melangkah menyeberangi lapangan berumput menuju tempat perjanjian itu.

ps:

I know that I should not doing this at the moment… but, I can’t help it. This blog has made me addicted :mrgreen:

Lelaki itu duduk sendiri di dangau kecil yang dibangun secara sederhana di pinggir kolam ikan. Matanya terus memandangi pelampung yang mengapung di atas permukaan air. Angin berhembus pelan, meniup rambut serta janggutnya yang kelabu. Kebijaksanaan, kewibawaan, ketampanan, kekuatan, dan semangat hidup yang menyala membayang dengan jelas dalam sosoknya. Di wajahnya, terbayang sebentuk senyum. Lelaki itu sedang bahagia. Ada kabar bahwa anak pertamanya akan datang berkunjung, membawa serta cucu yang selalu dibanggakannya. Karena itu, walaupun belum ada ikan yang menyentuh kailnya, lelaki itu tetap berada dalam mood yang baik.

“Pak, berhenti dulu… Sudah waktunya makan, nih…”

Seorang wanita, sebaya dengan lelaki itu, datang membawa sebuah kotak besar yang di bagian penutupnya terpampang gambar matahari.

“Sebentar lagi Bu, tanggung…”

“…” sang wanita tersenyum melihat lelaki yang telah mendampingi hidupnya selama 20 tahun lebih itu. “…Nanti kalau maag [1]-nya kambuh, dak bisa main-main sama si kecil lho…”

Sang lelaki menoleh menatap istrinya yang mulai mengeluarkan berbagai jenis makanan dari dalam kotak besar. “Tapi…”

“Apalagi kalau komplikasi… Ditambah masuk angin [2]…” kata sang istri tanpa menoleh kepada suaminya. Dia tahu kalau lelaki itu tidak bakal mau melewatkan kesempatan untuk bermain-main dengan cucu mereka. Ibarat kata, gunung api sekalipun pasti akan dilewati demi menghabiskan hari bersama anak kecil itu. Apalagi sekedar memancing. Pasti bakal segera ditinggalkan.

Lelaki itu segera beranjak meninggalkan joran pancingnya. Dia menuju sebuah pancuran kecil yang terletak tak jauh dari dangau. Mencuci muka, tangan, dan kaki. Setelah dirasa cukup, dia kembali ke dangau dan duduk menghadapi makanan yang dihidangkan oleh istrinya itu. Tak lama kemudian, mereka pun mulai menyantap makanan sambil berbincang santai.

“Kapan mereka sampai, katanya…” tanya lelaki itu.

“Agak sore sedikit…” jawab istrinya. “…speeder [3] sudah disiapkan di pangkalan… sudahlah… tenang saja… sabar…”

Lelaki itu manggut-manggut. “Hmm… Begitu ya?” Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam. Sibuk mengunyah nasi campur jagung dengan urap-urap dan lauk ikan mas yang digoreng kering, plus dadar jagung. “Eh, Bu… Kira-kira… Ada perlu apa ya, kok si Sulung itu mendadak mau datang?”

“Yah, Bapak ini gimana sih? Paling juga ada hubungannya dengan masalah itu…”

Si lelaki tercenung sebentar. “Iya sih… Kemungkinan besar memang karena masalah itu…”

“Ngomong-ngomong, si Bungsu kok ndak ikut datang ya?”

“Alah… Kok jadi kayak yang ndak memahami sifat anak-anakmu itu sih? Si Sulung itu pun… Kalau saja tidak ada si Kecil, mungkin dia juga hanya bakal nelpon, bilang kalau mau berangkat, habis itu mak prul ilang gitu aja…”

“Hehehe… Ah, Bapak ini… Anak mau berangkat perang kok disamakan dengan waktu mau berangkat ngelamar anaknya orang…”

“Lah… Aku ini bapak mereka… Kamu itu ibu mereka… Sifat mereka ya ndak bakal jauh-jauh dari kita lah… Masak sudah lupa waktu kita masih muda dulu…” Lelaki itu tersenyum sambil memandang istrinya dengan tatapan menggoda.

“Iya… Iya… Masih ingat kok… ” dan wanita itu pun tertawa kecil, yang tak lama kemudian diikuti oleh suaminya…

bersambung…

[1] dan [2]. Mohon maaf kepada Cak Moki. Memang, seharusnya saya memakai istilah yang resmi. Tapi, demi penerimaan cerita, terpaksa pakai istilah ini…

[3]. Istilah ini saya kenal pertama kali dalam game Warhammer 40.000 : Dark Crusade