Archive for the ‘renungan’ Category

Perubahan…

Posted: 14 Januari 2017 in renungan, serius

suatu malam saat pemadaman listrik

Di kampung saya… setiap malam Minggu setelah sholat Isya’, diadakan sebuah acara rutin untuk bapak-bapak (saya termasuk, karena sudah memenuhi syarat alias sudah tua T_T ). Acara ini diadakan di salah satu Langgar / Surau (di RT saya ada 2 Langgar).

Rangkaian acaranya sih, terdiri dari pembacaan Al Fatihah bersama-sama, tahlil, kemudian do’a. Setelah itu, ramah tamah sambil arisan 😀

Kalau dulu, beberapa tahun yang lalu, di arisan ini juga dibicarakan hal-hal yang menyangkut kehidupan jamaah Langgar. Misalnya, penggantian keranda mayat, acara kurban (menjelang Idul Adha), persiapan takbir keliling (menjelang Idul Fitri), perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW, dan banyak lagi lainnya. Bahkan acara kerja bakti pada hari Minggu juga sering dibahas di acara Tahlilan bapak-bapak ini dengan model manajemen bottom-up dimana semua orang dapat mengajukan saran dan usul… Dulu.. 😐

Sekarang, ada banyak perubahan.

Di acara rutin ini, tidak lagi diadakan pembahasan hal-hal semacam itu. Hanya baca Al Fatihah, tahlil, do’a bersama, dan terakhir arisan. Habis itu bubar, pulang ke rumah masing-masing. Urusan keduniawian (kerja bakti, penggantian keranda, dll) langsung ditangani oleh Pak RT. Modelnya top-down. Pak RT memberikan instruksi, warga menjalankan (walaupun pada pelaksanaannya banyak yang mangkir 😀 ). Urusan Langgar (perayaan hari besar keagamaan, dll) ditangani langsung oleh pengurus inti organisasi Langgar. Juga tanpa mempertimbangkan usulan dari jamaah yang tidak menjadi pengurus inti. Juga dengan model top-down.

Kenapa ya, kok ini terjadi???

……………….

 

 

Voices…

Posted: 23 Oktober 2008 in renungan, sedih, serius

hitotsume no kotoba wa yume
nemuri no naka kara
mune no oku no kurayami wo sotto
tsuredasu no

futatsume no kotoba wa kaze
yukute wo oshiete
kamisama no ude no naka e
tsubasa wo aoru no
 
tokete itta kanashii koto wo
kazoeru you ni
kin’iro no ringo ga
mata hitotsu ochiru
 
mita koto mo nai fuukei
soko ga kaeru basho
tatta hitotsu no inochi ni
tadoritsuku basho
 
furui mahou no hon
tsuki no shizuku yoru no tobari
itsuka aeru yokan dake
 
we can fly
we have wings
we can touch floating dreams
call me from so far
through the wind
in the light
 
mittsume no kotoba wa hum ..
mimi wo sumashitara
anata no furueru ude wo
sotto tokihanatsu

Kemarin, saya menemukan lagu ini di Youtube (maaf, tidak di-link, males… :mrgreen: ). Dan, langsung jatuh hati. Lagu ini merupakan OST dari Macross Plus, berjudul Voices, dan dinyanyikan oleh Yoko Kanno. Selain karena musiknya yang pas banget untuk menemani tidur di telinga saya, juga karena syairnya yang… ein bisschen philosophisch

Terjemahan bebasnya ke Bahasa Inggris itu jadi seperti ini…

The first word is dream
from my sleep
the darkness within my heart
it gently takes out

The second word was wind
telling me my destination
into the arms of a god
I flap my wings

As if counting sad things
that have melted away
a golden apple
falls again

A place I haven’t seen
there I will return
in this one life
I will find my way

Book of old magic
a drop of moon on a curtain of night
only a hunch that someday we can meet

we can fly
we have wings
we can touch floating dreams
call me from so far
through the wind
in the light

The third word is hum…
when you strain your ears
your trembling arms
I will gently release

Entah kenapa, tapi saya suka banget sama bagian yang ini… A place I haven’t seen, there I will return and in this one life, I will find my way… 🙂

Somehow, lirik itu mengingatkan bahwa kematian itu adalah sesuatu yang misterius. Namun, kematian itu juga adalah awal dari kehidupan yang lain, yang dipengaruhi oleh apa yang kita lakukan pada kehidupan sebelum kematian…

ps:

Tulisan ini dibuat sebagai memento bagi Mbah Saleh, salah satu kakek saya yang telah meninggalkan kami, keluarganya, untuk selamanya. Sekaligus sebagai permohonan maaf, karena tidak dapat hadir…

m(_ _)m

*resurrection no jutsu*

*bangkit dari alam kematian*

Alhamdulillah…

Akhirnya…

Saya hanya ingin mengucapkan dua kata saja.

SAYA LULUUUUSSS!!! 😆

Terima kasih semuanya… m(_ _)m
Buat yang sedang berjuang… SEMANGAT!!! Kapan nyusul? 😈

*harakiri no jutsu* 😀

*kembali ke alam kematian*

And he dies…

Itu adalah kalimat penutup dari salah satu tulisan Shakespeare, yang ada King Lear -nya itu lho (kalau dak salah).

Dan, itu pula yang terjadi dengan blog ini.

Die..

Namun, saya tidak akan menghapus blog ini. Biarlah blog ini menjadi memento salah satu perioda dalam hidup yang harus saya lalui.

Jadi,

selamat tinggal semuanya…

Sayonara…

Au revoir…

Auf wiedersehen…

Good bye…

And the curtain is closed.

love of my life

Posted: 17 Juni 2008 in renungan, Uncategorized

I don’t know when I can claim that I have found it.
They said that you don’t need to search for love,
because when the time comes love will find you.
So, just calm down. The one who is destined for you will come eventually.

But, do they understand this lonely feeling I have?
even in the middle of a crowd, I am still alone.
I can feel a pain in my heart.
I feel… incomplete. There’s something missing from me, and I don’t know what it is.

They said that when you find the one who is meant for you,
you will feel some warmth in the heart.
And you will feel happy.
You will never feel alone anymore,
because you know that someone will always be there.
At your side, accompanying you…
Because you know that someone will always ready to hear you.
To help you when you have a problem…

But…

What if that someone is not like the one in our dream?
What if that someone differs so much with us?
What if that someone make us sad?
What if that someone have a wrong perception about us?

Should we simply claim that that someone is not Love of Our Life?
Should we simply deny the feeling in our heart?
Should we simply looking for other person?
Should we simply walk away?

Or…

Must we live on with the difference, sadness, and other wrong doings that was made by that someone?

ps:

Tulisan di atas itu 🙄 dibuat beberapa tahun yang lalu, pada waktu sedang pusing mikir Tugas Akhir, tapi masih relevan, sepertinya…

warum???

Posted: 3 Juni 2008 in renungan, serius

Langit kirim sms…

Kamu itu terlalu lugu/polos. Jadi anggapan orang belum dewasa. Baby face, cakep 😎 , lagi. Terus bawaannya serius…

Itu katanya, waktu saya bertanya kenapa dia lebih memilih Awan.

Nasib ‘lamaran’ saya kemarin juga sama. Jawabannya senada…

Kayaknya Adit itu terlalu baik deh…

@___@

Muede deh…

Lah, terus, apakah saya harus berubah jadi lebih nakal supaya bisa cepat ketemu jodoh? 🙄

*membayangkan diri sendiri jadi tokoh utama dalam game Grand Theft Auto* 🙄

Kok jadi ngeri sendiri ya???

😕

Tapi, terus terang, saya jadi ‘sedikit’ heran. Kenapa cewek-cewek itu lebih suka pada orang yang ‘sedikit’ nakal seperti itu ya? Warum? Ada yang bisa kasih info?

selamat pagi, pak…

Posted: 22 Mei 2008 in pendidikan, renungan

“Selamat pagi, Pak…” sapa seorang anak muda. Sapaan itu ditujukan pada Pak Wagiyono, salah satu rekan saya dalam menempuh kursus bahasa di Jakarta sini, pada saat kami sedang berjalan santai menuju Goethe Institut bersama beberapa rekan lain. Pak Wagiyono ini adalah seorang guru dari Sukabumi…

Sempat bingung dan mencoba mengingat-ingat, akhirnya beliau mengenali bahwa anak muda itu adalah salah satu alumni dari sekolah tempat beliau mengabdi. Senyum Pak Wagiyono pun mengembang, saat anak muda itu mencium takzim punggung tangannya. Senyum bangga. Apalagi saat anak itu bercerita tentang dirinya saat ini. Sayang mereka tak dapat berlama-lama bertukar obrolan karena kami harus segera mencapai Goethe Institut.

Sepanjang perjalanan itu, tak habis-habisnya Pak Wagiyono bercerita tentang muridnya yang satu itu, dengan penuh kebanggaan. Tanpa diminta lho… Dan dengan penuh keceriaan serta semangat tinggi. Kondisi itu berlanjut terus sampai sore hari, waktu saya bertemu lagi dengan beliau di warung Mbak Atun (kami beda kelas, jadi tidak terus-terusan bersama).

Tak bisa tidak, saya jadi tersenyum sendiri (tentu saja, tidak ditampakkan… takut salah dipahami oleh cewek cakep yang makan di meja sebelah :mrgreen: ). Betapa sebuah sapaan sederhana dari seorang murid yang telah lulus sekian tahun yang lalu dapat menjadi obat penambah semangat bagi seorang guru untuk menjalani hari-harinya. Sapaan pendek itu, yang terdiri dari 3 kata, diikuti dengan tindakan fisik mencium tangan, mampu mengubah sebuah hari yang rutin menjadi sebuah hari yang sangat indah sekali (sebenarnya, kalau saya menulis hiperbol begini, pasti bakal dimarahi oleh guru-guru Bahasa Indonesia saya… tapi, sesekali dak pa-pa deh 😀 ).

Rasa bangga yang terpancar dari sosok Pak Wagiyono saat kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan Jakarta membuat saya jadi membayangkan. Gimana ya, waktu saya nanti sudah seusia beliau dan kemudian bertemu dengan salah satu murid saya… *menerawang ke masa depan*

Ketemunya itu di sebuah seminar bertaraf Internasional, dimana saya dan dia sama-sama menjadi pembicara 😀 , atau di sebuah bandara saat kami sama-sama hendak boarding 🙂 , atau di jalan saat mobil yang kami kendarai berpapasan 🙄 , atau di sebuah rumah makan saat saya dan ibunya anak-anak sedang candle light dinner :mrgreen:

Oke, cukup menerawangnya 😆

Melihat pertemuan Pak Wagiyono dengan salah satu anak muridnya itu, saya jadi nggak habis pikir. Kenapa para pemimpin Indonesia itu banyak yang tidak peduli dengan pendidikan ya??? 😐 . Banyak sekali kan, kasus yang menunjukkan ketidakpedulian ini. Contoh paling heboh adalah kasus pelecehan seorang guru oleh seorang kepala daerah beberapa tahun yang lalu (yang di Kampar itu, lho…), yang kemudian berujung pada demo besar-besaran.

Atau… setengah hatinya pemerintah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan para guru. Pernah saya mendapati seorang staf di kantor daerah, yang tidak mengetahui bahwa saya seorang guru, menyuarakan protes (tidak dalam sebuah forum resmi, sih) karena merasa bahwa gaji (gaji lho ya 😉 ) yang diterimanya setiap bulan itu lebih kecil daripada gaji para guru. Jadi, dia iri gitu lah…

Cuma guru aja…

Begitu salah satu bagian dari ucapannya, yang sempat menyulut emosi yang, untungnya, dapat tersalur secara elegan (mengenang dengan penuh rasa puas :mrgreen: ). Bayangkan. Cuma guru… 👿

Dan, sekian bukti ketidakpedulian lainnya. Padahal, waktu ketemuan langsung, mereka (para pemimpin) itu terlihat begitu takzim mencium tangan guru-gurunya.

Kenapa ya? Apakah karena kesalahan kami, para guru, dalam mendidik sehingga mereka itu jadi ingin balas dendam? Mungkinkah? Kalau iya, berarti harus ada perubahan dalam metoda mendidik dong… Tapi, yang bagaimana ya?? 🙄

Wah, sudah subuh. Stop dulu ah… Lanjut lain kali saja.

SEMANGAT!!!

ps:

Ah… Saya jadi teringat pada guru-guru saya sendiri. Sudah lama sekali saya ndak sowan ke rumah mereka. Maafkan saya ya, Pak… Maafkan saya, Bu… Mohon doanya ya… m(_ _)m