Mejeng sebelum memulai Lokakarya orientasi

Saat ini, saya menjalani Pendidikan Guru Penggerak dan termasuk di Angkatan 5. Baru berjalan sekitar 2 minggu, sih.. namun ada banyak perubahan yang telah saya rasakan. Dan pada hari ini, 31 Mei 2022, saya telah menyelesaikan pembelajaran modul 1.1, yaitu tentang Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hajar Dewantara, yang membahas tentang Pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia.

Sebelum mempelajari modul 1.1 Pendidikan Guru Penggerak, yang saya ketahui tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara hanyalah Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madyo mangun Karso dan Tut Wuri Handayani. Bahkan nama ketiga prinsip itu (Tri Loka) juga baru saya ketahui setelah mengikuti Pendidikan Guru Penggerak. Selama ini, saya selalu berusaha menjalankan ketiga prinsip tersebut dengan sebaik-baiknya. Saya berusaha menjadi teladan yang baik bagi anak-anak, saya selalu berusaha membangkitkan dan menjaga semangat belajar anak-anak dengan memberikan berbagai motivasi dan saya berusaha memberikan support yang sebaik-baiknya kepada anak-anak saat mereka butuh dukungan. Saya percaya bahwa anak-anak harus dapat meniru semirip mungkin apa yang pernah saya jalani saat saya pertama kali mempelajari teknik pembuatan film.

Setelah mempelajari modul 1.1, ada banyak hal baru yang saya pelajari dan ada banyak hal yang berubah dalam diri saya. Satu hal yang membuat perubahan paling besar dalam pemikiran saya adalah tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Tidak untuk melahirkan insan yang masakannya dapat membuat manusia terbang bebas di angkasa, tidak untuk melahirkan insan yang channel You Tube-nya di-subscribe oleh 1 juta orang, dan tidak untuk melahirkan insan yang dapat membuat sebuah teknologi yang memungkinkan manusia menjelajahi lautan bintang di langit malam. Namun untuk melahirkan insan yang merdeka, yang selamat raganya dan bahagia jiwanya. Simpel, sederhana, namun begitu penuh makna. Saya jadi harus merancang ulang metode pembelajaran saya agar saya dapat memenuhi tujuan pendidikan itu di kelas yang saya ampu.

Untuk saat ini, langkah awal yang saya lakukan adalah dengan membentuk kelompok-kelompok kecil di kelas yang saya ampu, beranggotakan 4-5 orang. Saya akan meminta setiap kelompok untuk memberi sebuah nama yang unik, dan membuat logo khusus kelompok mereka masing-masing. Nantinya, anak-anak akan mengerjakan tugas-tugas mereka selalu dalam kelompok kecil itu sehingga lama kelamaan akan tumbuh ikatan antar anggota kelompok dan kerja sama dalam kelompok itu akan berjalan secara natural. Dengan begitu, dalam setiap kelompok akan tumbuh nilai-nilai kerja yang nantinya dapat mereka wariskan ke adik-adik mereka. Dengan adanya ikatan antar anggota kelompok yang erat, anak-anak akan merasa tidak ada beban saat mengerjakan tugas-tugas.

Seperti saya tuliskan di awal tulisan ini, ada banyak hal baru yang saya dapatkan dalam Pendidikan Guru Penggerak modul 1.1 ini. Hal-hal yang saya pelajari di modul ini, saya tuangkan dalam video pendek berikut.

Bagaimana video pendek yang saya buat itu? Memberikan inspirasi baru? Aamiin. Mari berubah bersama untuk Pendidikan Indonesia yang lebih baik. Bersama kita bisa. Dengan bergerak bersama, maka impact yang kita buat akan jadi lebih besar. Semangat!!!

It is November already… In less than 60 days, 2021 will end and we’ll enter a new year. The mood is a little bit mellow right now. Because my father passed away in this month. 19 years ago. I know that it’s a long time. But, the loss is still in there. Al Fatihah. That’s the reason why I like ‘November Rain’ by Guns N’ Roses.

Yeah, it will pass eventually and my mood will get better. But the La Nina this year makes the November is wetter than ever, so, this mellowness is longer than last years. That’s the reason why there are no posts for a few days.

Let’s pray that this feeling passes ASAP, because there are many challenges that are waiting to be completed.

Ganbatte!

Tulisan terakhir di-publish tanggal 18 Oktober 2021, sementara sekarang adalah tanggal 27 Oktober 2021 πŸ™„ . Hutang saya banyak banget yak >_<

Hari ini saya ingin bercerita tentang Teaching Factory. Program ini adalah sebuah program di mana SMK melibatkan para siswa untuk ‘bekerja’ sebagai bagian dari pembelajaran. Lah, kan sudah ada PKL/Prakerin (Praktek Kerja Lapangan/Praktek Kerja di Industri)?

Jadi, konsepnya begini; agar saya mudah menjelaskan, saya akan menjadikan KomLi saya, MMBs, sebagai contoh.

TeFa Multimedia, sesuai dengan kompetensi yang diajarkan, menerima job berupa dokumentasi pernikahan (foto dan video, prewed juga). Klien-nya berasal dari civitas akademika SMKN 1 Panji sendiri dan masyarakat umum. Harga, tentu saja lebih murah daripada studio profesional, walaupun alat yang digunakan tidak kalah atau bahkan lebih baik kualitasnya. Sebagai contoh, untuk prosesi akad dan resepsi (2 hari berbeda), TeFa kami pernah men-charge biaya sebesar Rp 600.000,00. Di bawah harga normal, yang bisa mencapai 750k. Saya sebagai penanggung jawab tidak berani men-charge lebih murah lagi karena pernah diprotes oleh teman yang punya studio.

Kalau lebih murah lagi kan nanti semua job kamu ambil!!!

Padahal kan ya, dak mungkin… Minggu kemarin saja, TeFa MMBs dapat 3 job di 3 tempat yang berbeda sudah agak kepontalan, apalagi kalau semua job sak Situbondo saya terima. Apa ya bisa??? πŸ˜€

Nah, terus, apa yang membedakan?

Semua itu, yang mengerjakan adalah siswa. Mulai dari konsep, shooting, sampai editing semua dikerjakan oleh siswa. Tim Produksi saya ada 10 siswa kelas XII dan (sementara ini) 4 siswa kelas XI. Ini sedang scouting personil baru agar ada proses regenerasi dan transfer ilmu ke kelas XI dan kelas X.

tugas euy
Shooting acara walimatun nikah

Siswa? Kualitas bagaimana? Ini kan momen yang sakral, hanya sekali seumur hidup..!

Di situ ada peran guru pendamping yang mendampingi dan mengawasi saat proses pengerjaan untuk menjaga kualitas produk anak-anak itu. Guru juga bertugas untuk negosiasi dengan para klien dan (kadang-kadang) menjadi sopir untuk mengantar-antar anak-anak ke tempat tugas :mrgreen:

Pelajaran mereka bagaimana?

Proses kerja ini adalah penerapan dari ilmu yang mereka pelajari di kelas. Karena itu, mereka diijinkan untuk tidak di kelas/lab namun belajar langsung di event yang sebenarnya, sebagai latihan nanti di kelak kemudian hari, jika mereka memutuskan untuk membuka studio juga.

Shooting di Studio SPC SMKN 1 Panji
Editing, didampingi oleh guru

Kalau bukan kita yang mempercayai kemampuan anak-anak murid kita sendiri, siapa lagi???

Btw, melihat foto-foto ini, saya jadi ingat jaman dulu, waktu masih menangani TV Edukasi Situbondo… πŸ™‚

SEMANGAT !!!

Menurut saya pribadi, game itu sesuatu yang penting. Untuk hiburan, bagi saya pribadi, game itu bersaing ketat dengan film (segala macam genre, kecuali horor) untuk memperebutkan posisi pertama. Terkadang film menjadi pilihan utama saya untuk menghabiskan waktu luang, namun tidak jarang pula saya memilih memainkan game (di PC, karena saya tidak punya dan tidak pernah dapat menikmati nge-game menggunakan console). Sampai saat ini, di umur saya yang sudah tua matang ini πŸ˜› saya masih sangat menikmati berbagai macam game.

Untuk genre FPS, saat ini game yang rutin saya mainkan ada 2, yaitu World of Tanks Blitz dan World of Warships Blitz. Genre RTS, di laptop masih ter-install game Command and Conquer : Generals Zero Hour dan Sudden Strike 2. Untuk RPG, bulan kemarin saya masih main Perfect World Mobile dan masih sering utak atik mod di Skyrim juga πŸ˜€ Di HP juga masih ter-install game Gardenscape, buat mengisi waktu kalau menunggu di parkiran pasar saat Ibunya anak-anak sedang belanja.

Guru kok nge-game.. Muridnya nanti diajak main game juga tuh.. Padahal kan game itu ngerusak anak-anak

Maaf saja.. Menurut saya pribadi, game tidaklah sejahat itu. Bahkan, game dapat menjadi sebuah media pembelajaran yang seru lho.. Beberapa siswa saya, penguasaan Bahasa Inggrisnya justru semakin bagus setelah dia saya paksa himbau untuk main game nya di server internasional, bukan di server lokal. Komunikasi antar-siswa juga semakin baik, menurut pengamatan saya. Itu dikarenakan mereka dibiasakan untuk aktif di chat intra game dan di forum.

Ya, harus saya akui ada beberapa siswa yang agak kebablasan dalam memainkan game mereka, sehingga akhirnya malah menarik diri dari pergaulan dan menjelma menjadi orang-orang yang mengalami masalah komunikasi. Namun dari hasil pengamatan, dan di beberapa kasus, dilanjutkan dengan home visit ke rumah mereka, para siswa yang kebablasan dengan game mereka ini adalah anak-anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang memang kurang kondusif. Broken home, ekonomi menengah ke bawah, dan beberapa jenis masalah lainnya. Jadi, bukan sepenuhnya salah game itu sendiri.

Sama halnya dengan senjata yang digunakan untuk melakukan aksi teror. Bukan senjatanya yang salah, namun orang yang menggunakannya lah yang salah. Senjata itu sendiri, pada kesempatan lain juga digunakan untuk melawan aksi teror. Sama dengan game; game nya tidak salah, bahkan pada beberapa kesempatan justru memberikan kesempatan dan keuntungan kepada para pemainnya.

Sampai saat ini, saya masih mempercayai dan meyakini apa yang saya tulis dulu.. saat masih di ITB, belajar tentang Game Technology. Dan, saya masih terus mencoba membuat game dengan genre education.. Walaupun sebagian besar game yang saya buat masih untuk anak-anak SD πŸ™‚ Mohon do’anya agar saya dapat terus mengembangkan kemampuan membuat game sehingga nantinya saya dapat membuat game seperti yang saya impikan.

SEMANGAT!!!

Pekerjaan yang sudah selesai itu membuat pikiran tenang, lho! Makanya, daripada itu, agar supaya pikiran kita dapat tenang sepanjang waktu, kalau kita ada pekerjaan (apapun itu), maka sebaiknya langsung dikerjakan sampai selesai. Kalau tidak, takutnya nanti bakal alatlat, nambah kerjaan.

Seperti saya nih πŸ˜₯

Gara-gara menunda untuk menyelesaikan beberapa tugas, akhirnya tugas yang menjadi tanggungan saya jadi bertambah, akhirnya blog ini jadi libur 6 hari.. Tapi, tenang.. SHST berarti sekarang, saya punya 8 hutang tulisan. Sama seperti yang kemarin itu, jadi mulai hari ini, sampai ada 8 tulisan SHST-Utang tulisan, dalam sehari saya harus membuat lebih dari 1 tulisan.. SEMANGAT saja lah!!!

Bisa? Insya Allah bisa!!!

Yakin? Bismillah!!!

SEMANGAT!!!

Suki dakara, dinyanyikan oleh Yuika, premiered on Jun 27, 2021

Kakkoiikara sukina n janai.                                       Aku menyukaimu bukan karena kau keren
Sukidakara kakkoii ndayo. Kau keren karena aku menyukaimu
Dare ka ni baka ni sarete mo nantomo nai Tidak masalah jika orang lain mengejekmu
Datte watashi no "hiiroo". Bagaimanapun, kau adalah "pahlawan" ku
Itsumo "nemui" tte iu kuse ni, Seperti ketika kau mengatakan "ngantuk"
Jugyou wa okiteiruto koto ka. Namun, kau selalu terjaga dalam kelas
Minna no mae de wa kuurunanoni, Kau bertingkah keren di depan orang lain
Inu no mae de wa na to koto ka. Tapi, malu-malu di depan seekor anjing
Aa, hontouni aishite yamanai anata no koto. Ah, aku benar-benar mencintaimu
Watashi dake no "Hiiroo" ni natteyo. Tolong, jadilah "pahlawan" hanya untukku
LINE datte shiteitaishi,                                                Aku ingin mengirim pesan di LINE,
Issho ni kaet tari shitaiyo. Aku ingin berjalan pulang bersama
Houkago bukatsu ni iku anata ni Saat kau pergi ke klub sepulang sekolah
"Matane" tte hitorigoto. "Sampai jumpa," kataku pada diriku sendiri
Yasumi no hi datte aitaishi, Aku ingin melihatmu di akhir pekan
Neochi denwa mo shitemitaikedo, Dan tertidur di saat menelponmu
Sonna yuuki wa chittomo nakute, Tapi, aku tidak punya keberanian,
Akirerunaa. aku sangat membenci ini
Furimuite hoshikute,                                                   Aku ingin kau berbalik dan melihatku,
Ishiki shite hoshikute, Aku ingin kamu memikirkanku,
Kousui o tsukete Ketika memakai parfum,
Futouri de musete. Dan tersedak aromanya
Anata ga hoshikute, Aku sangat menginginkanmu,
Anata no mono ni naritakute, Aku ingin menjadi milikmu,
"Ashita koso wa" tte "Besok adalah waktunya"
Beddo no ue de shimyureeshon Dalam anganku di tempat tidurku
Anata o kangaenagara Sambil memikirkanmu
Mata ashita. Sampai jumpa besok.
Kawaiikara sukina n janai.                                          Aku menyukaimu bukan karena kau imut
Sukidakara kawaii ndayo. Kamu imut karena aku menyukaimu
Dare ka ni baka ni sarete mo nantomo nai Tidak masalah jika orang lain mengejekmu
Datte boku no "hiroin". Bagaimanapun, kau adalah "pahlawan" ku
"Kyou koso okiru!" tte iu kuse ni, Seperti ketika kau bilang akan terjaga hari ini
Kekkyoku jugyou de neruto koto ka. Namun, kau langsung tertidur di kelas
Minna no mae de wa o ten bananoni, Bagaimana kau begitu tomboi di depan semua orang
Angai namida moroito koto ka. Namun, ternyata sangat mudah untuk menangis
Aa, hontouni aishite yamanai kimi no koto. Ah, kaulah yang sangat kucintai
Boku dake no "hiroin" ni naranai kana Akankah kau menjadi "pahlawan wanita" ku?
Benkyou toka oshieteagetaishi, Aku ingin belajar bersamamu,
Issho ni eiga toka kan ni ikitaiyo. Aku ingin pergi menonton film bersama,
Houkago tomodachi to warau kimi ni Ketika kau bersama teman-teman sepulang sekolah
"Bai bai" tte hitorigoto. Aku berkata, "bye bye" pada diriku sendiri
Kimi no sutourii ni noritaishi, Aku ingin ada di story-mu,
"Ore no kanojo" jiman mo shitemitaikedo, Aku ingin mengatakan, "Dia pacarku"
Kokuhaku nanka deki sou ni nakute, Tapi, aku tidak berpikir bisa melakukannya
Akirerunaa. Aku sangat membenci ini
Furimuite hoshikute,                                                   Aku ingin kau berbalik dan melihatku,
Ishiki shite hoshikute, Aku ingin kau memikirkanku,
Wakkusu o tsukete Aku menaruh lilin di rambutku,
Betobeto ni nacchatte. membuat semua terasa lengket
Kimi ga hoshikute, Aku sangat menginginkanmu
Kimi no mono ni naritakute, Dan aku ingin menjadi milikmu
"Ashita koso wa" tte "Besok adalah waktunya"
Futon no naka de shimyureeshon Dalam anganku di tempat tidurku
Kimi o kangaenagara Sambil memikirkanmu
Mata ashita. Sampai jumpa besok.
Anata ni anata no soudan o shita nda.                      Aku meminta saran darimu, bagaimana mencintaimu
Kimi ga otoko no soudan o shitekita nda. Kau meminta saran dariku, tentang seorang pria lain
"Yametoke" nante iwanaideyo. Jangan suruh aku menyerah
Ta no otoko ni nante ikunayo. Jangan pergi dengan pria lain
Zutto zutto miteiteyo. Kumohon, selalu perhatikan diriku
Furimuite hoshikute,                                                Aku ingin kamu berbalik dan melihatku
Ishiki shite hoshikute, Aku ingin kamu memikirkanku
Zutto tonari ni itekuremasen ka. Maukah kau di sampingku selamanya?
Anata ga sukinano. Aku sangat mencintaimu
Kun o ai oshiku omōyo. Aku benar-benar menyukaimu
"Ashita koso wa" tte "Besok adalah waktunya"
Kyou mo shimyureeshon Hari ini aku pun berangan-angan
Kimi to no koi wa Cintaku padamu,
Amai musuku no kaori ga shita nda. Aromanya seperti musk yang manis

Saya sedang kesengsem, suka sama lagu ini. Alasannya? Apakah kita butuh alasan untuk mencintai seseorang menyukai sesuatu? πŸ˜€

Tapi kalau dipaksa harus mengutarakan satu alasan.. Maka saya akan mengatakan; “karena lagu ini mengingatkan saya akan kisah Bumi dan Langit” πŸ˜›

Bagaimana? Sudah cukup kuat kan, alasannya… πŸ™‚

Kalau saja, lagu ini diciptakan 23 tahun lebih awal, mungkin lagu ini akan menjadi Lagu Kebangsaan kami.. bahkan nyanyinya duet pasti.. πŸ˜†

Tapi, yah, tidak boleh berandai-andai… Mari kita jalani saja hidup ini… Sambil berdo’a pada ilahi… Agar mendapatkan yang terbaik di akhir nanti… agar tidak merugi…

Untuk lagu ini, ya, cukup untuk dinikmati di saat hari dan hati sedang sepi… senyum-senyum mengenang memori… sambil minum kopi… πŸ˜†

Pagi ini, saya melihat postingan ini di IG. Dan, ya, kalau melihat anak-anak saya di kompetensi keahlian tempat saya mengajar, saya merasa kalau persentasenya agak kurang cocok. Saya tidak tahu, survey pada gambar di atas itu diisi oleh responden dari golongan usia berapa dan status sosialnya bagaimana serta bagaimana kondisi keluarga mereka saat itu. Untuk di kompetensi keahlian Multimedia Broadcast SMKN 1 Panji, jumlah siswa yang terlihat kesepian itu tidak lebih dari 5 per kelas (ada 3 kelas di KomLi MMBs). Setiap kelas, isinya ada 35 siswa. Jadi, jumlah siswa yang kesepian sekitar 14,3 persen dari total populasi di KomLi MMBs.

Akan tetapi, yang perlu diperhatikan di sini adalah… Setiap periode pengamatan (disampaikan di rapat tingkat jurusan), orang nya selalu berubah-ubah… Tidak ada yang selalu terlihat kesepian sepanjang waktu. Alasan kesepian itu juga berbeda-beda. Ada yang baru putus sehingga akhirnya menarik diri dari pergaulan, ada yang karena orang tuanya sakit sehingga akhirnya dia tidak banyak berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya…

Ada juga yang sengaja menarik diri dari pergaulan sosial untuk menjalani ‘laku‘ sebagai bagian dari prosesnya ‘ngelmu‘.. merenungkan hidup yang sudah dijalani selama ini, menata diri, sebagai persiapan untuk menjalani hari-hari menuju masa depan yang belum pasti… Tapi yang begini ini, jarang banget. Saya baru menemukan 2 kasus di KomLi MMBs. Sejak saya pertama kali menjadi guru, 16 tahun yang lalu.

Apapun alasannya… ada yang menarik loh… Ternyata yang terlihat kesepian dan sengaja menarik diri dari pergaulan itu, melakukannya saat mereka ada masalah. Berarti benar juga ya, pendapat yang menyatakan bahwa “Solitude is the place of purification” (Martin Buber). Kesendirian itu adalah untuk pemurnian diri. Makanya, para pendekar jaman dahulu (teman-temannya Wiro Sableng) sering melakukan tapa brata untuk menguasai aji pamungkas mereka. Makanya, saya kok kurang sreg dengan survey di awal tulisan ini. Kalau benar 98 persen orang Indonesia itu kesepian… Maka negara kita adalah superpower yang memiliki 266.784.784 orang pendekar yang menguasai aji pamungkas sekelas ‘Pukulan Sinar Matahari’ (asumsi jumlah penduduk Indonesia adalah 272.229.372 jiwa (Adminduk-Juni 2021).

Oke.. Kesepian tidak sama dengan kesendirian.. Yang satu, itu urusan roso, sementara yang satu lagi adalah keadaan fisik yang terputus hubungan dengan orang lain. Apalagi, dengan perkembangan media sosial yang begitu pesat seperti sekarang, saya rasa kita akan jarang sekali mengalami yang namanya sendiri. Dan, juga jarang sekali mengalami yang namanya sepi.

…..

NB: ini membahas apa, sih? πŸ˜€

Sebelumnya, saya telah menuliskan bahwa ada orang/organisasi yang cenderung mencari tahu akar dari permasalahan yang mereka hadapi terlebih dahulu sebelum mencari solusi yang tepat untuk permasalahan tersebut. Hal ini tidaklah salah, karena di banyak hal lain hal ini pun banyak diterapkan. Sebagai contoh, di dunia medis.. Para dokter harus mencari tahu terlebih dahulu penyakit utama yang diderita oleh pasiennya, kemudian menentukan jenis perawatan yang diharapkan dapat menyembuhkan sang pasien. Dengan menggunakan metode ini, maka solusi yang didapat insya Allah akan sangat berguna karena sifatnya yang fundamental tersebut.

Akan tetapi, pada beberapa situasi, teknik pemecahan masalah tersebut akan terasa sangat lambat, dan tidak dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi (karena terlambat). Sebagai contoh, seperti apa yang baru saja saya dan rekan-rekan di SMKN 1 Panji alami pada tanggal 7 Oktober yang baru lalu. Ada Kunjungan Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur ke Situbondo untuk menghadiri 2 acara. Satu acara di pagi hari bertempat di SMAN 1 Panji dan acara kedua agak siang sedikit di SMKN 1 Panji. Berdekatan, dan panitianya pun dari 1 organisasi yang sama. Kebetulan di acara ini, saya diminta untuk menyiapkan embrio podcast kami yang nantinya akan diresmikan oleh Bapak Kadis. Persiapan sudah dibuat, skenario telah disusun, plan A dan plan B juga sudah disediakan.

Akan tetapi, semua berubah ketika Negara Api menyerang tiba-tiba ada telepon yang menyatakan bahwa Pak Kadis tidak dapat berlama-lama di Situbondo karena harus segera bertolak ke Surabaya, untuk menghadiri rapat di sana bersama Gubernur Jawa Timur. Panik, tentu saja… Karena ini berarti banyak yang telah kami persiapkan tidak dapat dilaksanakan. Plan A dan B tidak berjalan sehingga akhirnya diputuskan untuk menjalankan Plan Z. Semua acara dimampatkan. Podcast yang sudah saya siapkan bersama Tim 8 (siswa kelas XII MM yang membantu saya dalam menyiapkan podcast dan stand pameran Multimedia Broadcast di Festival Karya Siswa) terancam dibatalkan karena tempatnya jauh dari acara resmi.

Fokus pada solusi“, begitu Ibu Kepala Sekolah kami berulang kali mengingatkan pada rapat koordinasi di pagi hari setelah datangnya kabar yang mengejutkan itu. Ini dimaksudkan agar kami tidak terjebak dalam keputusasaan dan kepanikan. Saya pikir, apa yang dikatakan Kepala Sekolah itu benar adanya. Karena root dari permasalahan ini sudah begitu jelas. Pak Kadis dipanggil oleh Ibu Gubernur. Titik. Itu saja alasannya. Namun, apakah bisa memperbaiki akar permasalahan ini? Siapa yang berani menegur Ibu Gubernur? Ijin supaya Pak Kadis tidak perlu hadir di rapat dadakan di Kantor Gubernur itu? Tidak ada, saya rasa. Karena itu, kami pun berusaha lebih fokus pada solusi untuk mengatasi potensi masalah yang akan muncul. Termasuk saya.

Akhirnya, diputuskan bahwa podcast kami akan dilaksanakan di depan pintu masuk Aula lokasi acara. Saya dan Tim 8 pun nge-set alat-alat kami di sana. Lighting, kamera, pengkabelan.. Selagi Tim 8 menyiapkan alat-alat, saya pun menjenguk kesiapan stand pameran MMBs di lapangan upacara (tempat festival). Membantu menata barang-barang yang akan dipamerkan, menyiapkan dekorasi yang belum terpasang, meletakkan alat-alat yang dipajang, dll. Setelah stand MMBs siap, saya pun balik ke lokasi podcast. Sudah siap, tinggal menunggu Pak Kadis datang.

Saat Pak Kadis datang, acara dimulai, tiba-tiba kami diberi tahu bahwa mungkin Pak Kadis tidak akan sempat untuk podcast bersama kami. Karena sudah mepet dan lokasinya agak jauh dari tempat festival. “Bagaimana kalau di lobi saja? Jadi menunggu Pak Kadis sebelum naik ke mobil untuk perjalanan balik ke Surabaya…” katanya. Nah, pada poin ini, kalau masih harus mencari akar permasalahannya, maka tidak akan nutut yang namanya waktu. Jadi, fokus pada solusi… Kami (saya dan Tim 8) langsung gerak cepat membongkar alat-alat dan menggotongnya ke lobi sekolah. Langsung di-set di lokasi itu. Tidak lama, Pak Kadis datang (jadi, kemarin itu semua memang kelihatan terburu-buru) dan langsung dicegat untuk podcast selama kurang lebih 3 menit. Setelah podcast, foto-foto bersama, kemudian beliau langsung naik mobil dan berangkat ke Surabaya bersama rombongan.

Nah, di sini lah efek dari biasa fokus pada solusi jadi terasa banget. Kalau tidak terbiasa, ya, pasti lah acara batal dan semua yang sudah disiapkan sejak beberapa hari sebelumnya akan sia-sia. Namun, karena sudah terbiasa, ya Alhamdulillah semua tetap bisa berjalan walaupun ‘sedikit’ melenceng di masalah timing. Efek lain dari fokus pada solusi ini adalah menghindari konflik/gontok gontokan antar-personil karena semua sibuk mencari solusi yang tepat sesegera mungkin.

Berfoto bersama Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur

Nah, itu lah.. Jadi, intinya, dari 2 tulisan ini dan kemarin, saya cuma mau bilang kalau Pak Kadis Pendidikan Propinsi Jawa Timur itu datang ke sekolah saya, SMKN 1 Panji Situbondo πŸ˜€

Saat menghadapi masalah, banyak orang akan fokus pada penyebab dari masalah tersebut. Setelah penyebabnya ketahuan jelas, maka solusi untuk masalah tersebut akan dapat dirumuskan dengan mudah. Cara ini tidak salah. Tergantung pada timing dan jenis masalah yang harus dipecahkan. Kalau misalnya saya diberi tugas untuk mengatasi keuangan sekolah yang seret dalam waktu 1 tahun, mungkin saya akan menggunakan cara ini. Fokus dulu pada penyebab fundamental dari masalah itu. Kenapa kok keuangan sekolah seret? Sumber keuangan sekolah itu apa saja? Apa saja pos pengeluaran sekolah? Kok bisa njomplang antara pemasukan dan pengeluaran? Apakah ada kebocoran? Bocornya karena sistem, ataukah karena kesalahan personil (baik disengaja maupun tidak)?

Setelah ketahuan, mulai bisa dicari solusi yang tepat untuk permasalahan tersebut.

  1. Sumber keuangan sekolah hanya 1, sementara pos pengeluaran sangat besar… Solusi; sekolah dijadikan BLUD (badan layanan usaha daerah), buat usaha (bisa produksi, bisa jasa).
  2. Pos pengeluaran sekolah ada banyak dan semuanya penting (bahkan wajib)… Solusi; terapkan skala prioritas, yang benar-benar penting dilanjutkan, sementara yang kurang atau bahkan benar-benar tidak penting di-stop atau pending.
  3. Pemasukan dan pengeluaran njomplang… Solusi; audit keuangan. Tidak harus memanfaatkan jasa auditor keuangan yang benar-benar profesional dengan biaya yang profesional. Bisa saja MoU dengan SMK yang punya program keahlian Akuntansi dan Keuangan Lembaga. Mereka sudah bisa, kok. Kan, belajarnya memang itu.
  4. Ada kebocoran keuangan. Setiap bulan, jumlah uang di pembukuan dan jumlah uang sebenarnya tidak cocok… Solusi; lakukan investigasi dan pengawasan melekat. Pasang cctv, siapa tahu ada yang melakukan pencurian tanpa diketahui oleh siapapun.
  5. Bocornya karena sistem. Misal, ada pos HR untuk membayar pegawai di luar ketentuan Peraturan Pemerintah… Solusi; perbaikan sistem. Tidak bisa tidak dilakukan. Usahakan agar sistem yang diterapkan tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah yang berlaku. Jika ada perubahan peraturan, sistem juga harus berubah sesuai dengan peraturan.
  6. Bocornya karena personil. Korupsi… Solusi; lakukan pergeseran atau penggantian personil. The right man at the right place harus selalu diingat dan diterapkan.

Beberapa contoh di atas adalah solusi standar yang biasa diterapkan dalam skala tertentu dalam berbagai perusahaan/organisasi yang ada di dunia ini. Jadi, kalau Anda merasa cuma gini aja belum tahu! mohon saya dimaafkan. Saya tapi kok yakin, yang cuma gini aja belum tahu itu lebih banyak daripada yang sudah tahu. Tulisannya dipotong sini dulu ya.. lanjut part 2 besok atau kapan-kapan dah.

SEMANGAT!!!

Minggu kemarin, saya mendapat tugas untuk mendampingi Ibu Kepala Sekolah SMKN 1 Panji dalam sebuah Road Trip. Dikatakan road trip, ya, karena dari hari Rabu dini hari sampai Sabtu pagi hari kami (Kepala Sekolah, saya, Bu Riya, dan Pak Kus) menghabiskan waktu kami di atas jalan, dari satu lokasi acara ke lokasi acara lain.

  1. Acara pertama adalah menghadiri acara Jatim Cerdas – Bhakti Srikandi Vokasi Jawa Timur Tahun 2021 di SMKN 1 Probolinggo. Isinya adalah pengenalan 8 kepala sekolah perempuan yang berhasil membawa sekolah yang dipimpinnya menjadi SMK PK (Pusat Keunggulan). Acara berlangsung meriah dan dihadiri oleh Kabid SMA dan Kabid SMK Dinas Pendidikan Propinsi. Sekitar jam 2 kami baru dapat berangkat ke tujuan berikutnya.
  2. Menyerahkan dokumen KTSP ke Kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur di Genteng Kali, Surabaya.
  3. Istirahat sebentar karena harus nge-ban. Kena paku. Alhamdulillah tidak perlu ganti ban serep.
  4. Berangkat menuju Jogja, jam 4 masuk tol. Jam 10-an sudah masuk hotel di Jogja. Kami menginap di Edhotel Kenari, SMKN 6 Yogyakarta. Bersih dan nyaman. Buktinya, saya langsung ilang begitu menyentuh bantal πŸ˜€ .
  5. Pagi, belum sarapan, kami sudah check out dan menuju SMKN 1 Yogyakarta. Poto-poto, tanya-tanya, dan menjawab pertanyaan yang diajukan.
  6. Jam 10 cus ke Kampung Wisata Flory di Sleman. Poto-poto lagi, tanya-tanya lagi, dan menjawab pertanyaan lagi. Sekalian makan siang di situ.
  7. Jam 15-an, kami sampai di tujuan berikutnya. Hotel Alana di Palagan, Yogya. Ada janji untuk podcast bersama founder GSM, Pak Muhammad Nur Rizal. Ibu Kepala Sekolah yang podcast bersama Pak Rizal.. Kalau saya dan Bu Riya melihat-lihat acara workshop Peningkatan Ekosistem Pendidikan di SMK PK melalui GSM batch 1 yang diikuti oleh Kepala Sekolah SMK PK se-Indonesia. Ketemu teman di situ, jadinya ya poto-poto, tanya-tanya, dan menjawab pertanyaan sambil ngopi.
  8. Jam 20-an, setelah makan malam, bertolak ke Temanggung. Sampai di hotel, sudah jam 21.30. Niat hati, mau mengerjakan beberapa tugas. Bahkan sudah menyalakan laptop. Apa daya, saat tersadar jam sudah menunjukkan 02.30 dini hari πŸ˜€ .
  9. Jam 7 pagi, sudah check out (sarapan dulu) dan menuju lokasi acara berikutnya di SMKN 1 Temanggung. Ibu Kepala Sekolah didaulat untuk menjadi pembicara/pemateri? pada acara Workshop Peningkatan Ekosistem Pendidikan bagi Guru dan Tenaga Kependidikan di SMKN 1 Temanggung. Sampai sore, jam 16.30-an. Waktu makan siang, berkenalan dengan teman dari salah satu murid (alumni). Mereka pernah ikut program ke Korea, katanya.
  10. Selesai acara, balik ke Jogja karena harus mengantar salah satu pendamping balik ke Hotel Alana. Tidak mampir, langsung cus balik ke Situbondo. Waktu menunjukkan pukul 20-an
  11. Jam 05.30-an pagi saya turun di depan gerbang Rumah Barat.

Capek, iya.. Senang? iya juga.. Dapat ilmu baru, kenalan baru, dan pengalaman baru… Terutama tentang Gerakan Sekolah Menyenangkan. Loh, kok bisa? Ya, karena semua kegiatan itu (kecuali yang di Surabaya), punya kaitan baik langsung maupun tidak langsung dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan. Pak Elyas, Kepala Sekolah SMKN 1 Yogyakarta adalah seorang aktivis GSM, demikian pula dengan Mbak Nuri dan Mas Wi (pengelola Kampung Wisata Flory). Saya jadi bertanya-tanya tentang GSM ini. Apa sih, GSM? Kenapa perlu ada GSM?

Oke.. jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, bisa didapatkan dengan mudah di internet. Cukup bertanya pada Mbah Google, maka akan muncul sekian halaman yang memuat info tentang GSM. Tapi bukan itu yang saya maksud. Yang membuat saya terkesan, para aktivis GSM yang kami temui itu berulang-ulang menekankan pentingnya prinsip “Memanusiakan manusia… bahwa siswa itu adalah juga manusia, yang punya roso sendiri… demikian pula seorang guru, yang juga hanyalah seorang manusia”

Karena itu, tidak seharusnya lah Guru sok merasa hebat dan menjadi satu-satunya sumber ilmu bagi anak-anak muridnya. Dan tidak seharusnya lah setiap anak murid harus mengalami proses belajar yang sama. Prinsip kedua yang membuat saya jadi tertarik itu adalah; “Tidak ada siswa yang tidak suka belajar… Adanya, siswa tidak suka caranya belajar”

That’s all.. lumayan, mulai panjang nulisnya πŸ˜›

Tetap SEMANGAT, guys!!!