Arsip untuk Oktober, 2008

Voices…

Posted: 23 Oktober 2008 in renungan, sedih, serius

hitotsume no kotoba wa yume
nemuri no naka kara
mune no oku no kurayami wo sotto
tsuredasu no

futatsume no kotoba wa kaze
yukute wo oshiete
kamisama no ude no naka e
tsubasa wo aoru no
 
tokete itta kanashii koto wo
kazoeru you ni
kin’iro no ringo ga
mata hitotsu ochiru
 
mita koto mo nai fuukei
soko ga kaeru basho
tatta hitotsu no inochi ni
tadoritsuku basho
 
furui mahou no hon
tsuki no shizuku yoru no tobari
itsuka aeru yokan dake
 
we can fly
we have wings
we can touch floating dreams
call me from so far
through the wind
in the light
 
mittsume no kotoba wa hum ..
mimi wo sumashitara
anata no furueru ude wo
sotto tokihanatsu

Kemarin, saya menemukan lagu ini di Youtube (maaf, tidak di-link, males… :mrgreen: ). Dan, langsung jatuh hati. Lagu ini merupakan OST dari Macross Plus, berjudul Voices, dan dinyanyikan oleh Yoko Kanno. Selain karena musiknya yang pas banget untuk menemani tidur di telinga saya, juga karena syairnya yang… ein bisschen philosophisch

Terjemahan bebasnya ke Bahasa Inggris itu jadi seperti ini…

The first word is dream
from my sleep
the darkness within my heart
it gently takes out

The second word was wind
telling me my destination
into the arms of a god
I flap my wings

As if counting sad things
that have melted away
a golden apple
falls again

A place I haven’t seen
there I will return
in this one life
I will find my way

Book of old magic
a drop of moon on a curtain of night
only a hunch that someday we can meet

we can fly
we have wings
we can touch floating dreams
call me from so far
through the wind
in the light

The third word is hum…
when you strain your ears
your trembling arms
I will gently release

Entah kenapa, tapi saya suka banget sama bagian yang ini… A place I haven’t seen, there I will return and in this one life, I will find my way… 🙂

Somehow, lirik itu mengingatkan bahwa kematian itu adalah sesuatu yang misterius. Namun, kematian itu juga adalah awal dari kehidupan yang lain, yang dipengaruhi oleh apa yang kita lakukan pada kehidupan sebelum kematian…

ps:

Tulisan ini dibuat sebagai memento bagi Mbah Saleh, salah satu kakek saya yang telah meninggalkan kami, keluarganya, untuk selamanya. Sekaligus sebagai permohonan maaf, karena tidak dapat hadir…

m(_ _)m

ngiming ngimingi…

Posted: 21 Oktober 2008 in jerman, pendidikan, serius

Sudah hampir dua bulan saya di negeri orang. Tapi, kok masih aja sering terkaget-kaget saat bangun pagi dan melihat pemandangan di luar jendela ya? Bukan hanya itu. Sering sekali terjadi, saat jalan-jalan ke Stadt (bener-bener jalan-jalan, bukan naik bus atau S-Bahn 😐 ), saya tersadar…

Iya ya, aku sekarang ada di Jerman

Itu kalimat yang sering tiba-tiba terlintas di benak, saat melihat orang-orang di sekeliling saya yang bule semua. Atau saat angin dingin mulai bertiup menggugurkan dedaunan. Atau saat mencicipi masakan di kantin yang ekstrim (terlalu asin atau hambar sama sekali T___T ).

Bukan… Saya tidak bermaksud pamer atau bagaimana dengan menuliskan hal ini. Saya hanya ingin berbagi cerita. Bahwa ternyata, pergi ke luar negeri itu tidak terlalu berat. Bahwa ternyata, di sini pun saya sering merasa bahwa saya masih ada di Indonesia.

Oke. Harus saya akui bahwa perasaan masih di kampung sendiri itu dikarenakan saya masih berkumpul dengan teman-teman satu grup ILT 2008 (20 orang) plus grup ILT 2007 (10-an orang) dari Indonesia. Dan, saya menyadari bahwa nanti pada saat kami harus berpisah (jika menjalani praktikum di Firma berbeda) dan tinggal di kota yang berbeda-beda, mungkin saya akan merasakan kesepian. Namun, untuk saat ini, alhamdulillah saya tidak merasakan kesepian itu dan dapat enjoy dalam menjalani hari-hari di negeri orang.

Walaupun, teteup, saya sering juga merasakan yang namanya “kangen”. Tapi, yah, it’s still managable

Tidak… Saya tidak akan membahas tentang bagaimana cara mengatasi kangen pada saat jauh dari orang-orang tersayang. Tidak pula tentang tips hidup bahagia di negeri orang. Saya hanya ingin ngiming-ngimingi teman-teman, saudara-saudara, dan murid-murid saya (merekalah target utama dari tulisan ini), agar mereka ‘tergoda’ untuk merantau keluar kampung halaman.

Jangan lah kalian (murid-murid) menolak bekerja di luar kota dengan alasan yang tidak dapat saya terima itu. Masak dengan alasan; jauh dari rumah, Pak… kalian tidak mau berangkat ke Surabaya? Jangan sampai kalian mengatakan itu di depan saya. Awas saja kalau berani (ngancam.com)… Ingat, murid harus lebih baik dari gurunya. Jadi, kalau saya sudah ke Eropa, kalian nanti harus menjelajahi Eropa dan Afrika. Kalau saya sudah sampai di Eropa dan Afrika, kalian nanti harus menjelajahi Eropa, Afrika, dan Amerika. Dan seterusnya. Kalian bisa melakukan itu. Saya yakin. Dimana ada niat, di situ ada jalan… 🙂

Ah iya, satu lagi. Tahun depan, rencananya ada program ILT lagi. Tapi, saya masih belum mendapat info lengkapnya. Temanya, saya juga masih kurang jelas. Tapi, para partisipan direncanakan sudah sampai di Saarbrücken pada bulan Juli. Artinya, kemungkinan besar (berdasarkan pengalaman saya sendiri), proses rekrutmen dan pelatihan bahasa di Indonesia sudah akan dimulai pada akhir tahun ini (proses mulai pendaftaran sampai keberangkatan dulu memakan waktu 6 bulan-an). Karena itu, bagi teman-teman yang tertarik, sebaiknya sering-sering membuka situs InWEnt.

Mungkin, hal yang paling memberatkan adalah biaya tiket Indonesia-Jerman pp. yang harus dibayar sendiri (atau oleh instansi tempat bekerja). Tapi jangan khawatir. Es gibt immer einen Weg nach Rom. Selalu ada jalan ke Roma. Iya, kan? 😉

Terus, mana tulisan ngiming-ngiminginya?

Mungkin ada yang bertanya seperti itu. Jawabnya, tuh, lihat tulisan saya yang lainnya, tentang kota-kota yang sudah saya kunjungi dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan.. 😛 Kalian (murid-murid saya) dak pengen tah, berkunjung ke kota-kota itu juga? 😉

I lost my heart in Heidelberg…

Posted: 14 Oktober 2008 in Uncategorized

Heidelberg adalah sebuah kota yang indah. Tua, tenang, dan romantis. Apalagi di musim gugur seperti sekarang. Daun ginkgo (Ginkgo biloba) yang telah berubah warna menjadi kekuningan, menghiasi Heiligenberg (bukit di seberang sungai Neckar) dan taman di sekitar Kastil, menambah kesan romantis itu. Tidak salah apabila ginkgo disebut sebagai Leaf of Love… Banyak pasangan (tua dan muda, serta beberapa keluarga) yang berkumpul di sekitar pohon-pohon itu. Mereka membikin saya iri… T____T

Taman Kastil Heidelberg

Taman Kastil Heidelberg

Heidelberg yang tua (didirikan pada tahun 1196) itu, selamat dari pemboman pada masa Perang Dunia karena satu hal. Universitas Heidelberg adalah universitas tertua di Jerman (didirikan oleh Rupert I, Elector Palatine, pada tahun 1386), dan cukup terkenal. Salah satu Jenderal yang memimpin pasukan Amerika di PD II merupakan alumni dari Universitas Heidelberg. Karena itu, Heidelberg selamat dari bom (cerita ini, entah benar atau tidak, merupakan alasan yang disampaikan oleh setiap pemandu yang saya tanyai tentang keberhasilan Heidelberg dalam menghindari kehancuran) 😕

Heidelberg dilihat dari Kastil

Heidelberg dilihat dari Kastil

Tuh, di gambar kedua. Kelihatan kan, tuanya Heidelberg? Bangunan besar di tengah (yang ada menaranya) itu adalah salah satu gereja tertua di Heidelberg. Sekarang, gereja itu merupakan sebuah gereja Protestan, namun dulu pada masa awal dibangunnya, merupakan gereja Katolik. Arsitekturnya juga gabungan dari gaya Gothic dan Baroque. Saat ini, 40% penduduk Heidelberg adalah Protestan, 40% Katolik, dan 20% lainnya (Muslim, Yahudi, dan lain-lain).

Ikon utama dari Heidelberg adalah reruntuhan kastilnya, yang disebut sebagai “The most beautiful ruin in the northern side of Alpen“. Sayang, kamera HP saya yang hanya 2 MP itu tidak dapat merekam keindahannya T___T

Obyek lain yang menjadi daya tarik sehingga banyak wisatawan datang berkunjung ke Heidelberg adalah sungai Neckar. Dengan membayar 16 Euro, orang-orang dapat berpesiar menggunakan kapal dari Heidelberg ke Mannheim. Sebenarnya saya ingin mencoba, tapi ternyata pada hari saya berkunjung ke Heidelberg, tidak ada kapal yang berangkat menuju Mannheim T__T. Yah, kapan-kapan aja deh… Toh, masih ada waktu 1 bulan (pada bulan Desember tidak direkomendasikan untuk melakukan boat trip 😛 ).

Namun saya tidak terlalu kecewa, karena kemarin itu saya juga melakukan boat trip di Neckar. Tidak sampai ke Mannheim, tentu saja. Hanya dari ujung Heidelberg ke ujung lainnya, bolak-balik. Namun itu pun sudah cukup. Apalagi, kapal yang dinaiki termasuk kapal istimewa. NeckarSonne (The Sun of Neckar), sesuai namanya, adalah kapal komersial bertenaga matahari dan, katanya, adalah yang terbesar di dunia. Kapal itu mampu membawa 40 orang (tapi, kemarin itu overload gara-gara kami :mrgreen: ), dan dapat mencapai kecepatan 20-an mph. Di atas kapal itu ada restoran, namun kami memilih untuk berkumpul di dek terbuka di belakang kapal. Mumpung matahari sedang cerah, dan hawa tidak terlalu dingin.

Interior NeckarSonne

Interior NeckarSonne

Es war eine schoene Wochenende…

Tidak salah kalau sampai ada yang bernyanyi ich hab’ mein Herz in Heidelberg verloren

Es war an einem Abend,
Als ich kaum 20 Jahr’.
Da küßt’ ich rote Lippen
Und gold’nes, blondes Haar.
Die Nacht war blau und selig,
Der Neckar silberklar,
Da wußte ich, da wußte ich,
Woran, woran ich war:

Ich hab’ mein Herz in Heidelberg verloren,
In einer lauen Sommernacht.
Ich war verliebt bis über beide Ohren
Und wie ein Röslein hat ihr Mund gelacht.
Und als wir Abschied nahmen vor den Toren
Beim letzten Kuß, da hab ich’s klar erkannt:
Daß ich mein Herz in Heidelberg verloren.
Mein Herz, es schlägt am Neckarstrand.

Und wieder blüht wie damals
Am Neckarstrand der Wein,
Die Jahre sind vergangen,
Und ich bin ganz allein.
Und fragt ihr den Gesellen,
Warum er keine nahm,
Dann sag ich euch, dann sag ich euch,
Ihr Freunde, wie es kam.
Ich hab’ mein Herz . . . . .

Was ist aus dir geworden,
Seitdem ich dich verließ,
Alt-Heidelberg, du Feine,
Du deutsches Paradies?
Ich bin von dir gezogen,
Ließ Leichtsinn, Wein und Glück,
Und sehne mich, und sehne mich
Mein Leben lang zurück.
Ich hab’ mein Herz . . . . . .

Kalau dalam Bahasa Inggris, jadi seperti ini.

It was a summer evening,
Just twenty I had seen,
When I kissed ruby lips and
Hair of golden sheen.
The night was blue and blissful,
The Neckar flowed pristine,
It was then I knew, it was then I knew,
What all to me did mean..

I lost my heart in Heidelberg for all time,
On a balmy summer night.
In love head over heels, oh were she all mine,
And like a rose, her laughing mouth my light.
As by the gates she said: “Good-bye my lover,”
That last sweet kiss, it did confirm once more,
I’d lost my heart in Heidelberg forever.
My heart still beats on Neckar’s shore.

And once again the vines bloom,
As then, on Neckar’s shore,
The years have passed so slowly,
And I’m alone once more.
And if you ask this fellow,
Why he took none to wed,
Then I will tell, then I will tell,
My Friends, what to this led:
I lost my heart . . . .

Whatever happended to you,
Since you and I did part,
Oh Heidelberg of legend,
Oh city of my heart?
I went away and left you,
Left luck and happy days.
I long to be, I long to be,
Back in your arms always
I lost my heart . . . .

ps:

Meine Schätzie, es ist nur ein Lied, nicht der Realität. Weil ich mein Herz nur bei dir verloren hab’…