Arsip untuk Maret, 2011

ujian telah tiba…

Posted: 15 Maret 2011 in pendidikan

Dimana-mana, di seantero negeri, anak-anak sekolah pada tegang…

Karena ujian telah tiba…

Penentu masa depan…

Penghalang terakhir sebelum mendapatkan ijazah…

Penghalang terakhir menuju kebebasan…

Bebas dari berbagai macam aturan sekolah…

Bebas dari siksaan para guru yang sok tahu segala…

Pokoknya BEBAS!!!

Tak peduli mau jadi apa nanti setelah lulus…!

Tak peduli mau sekolah dimana nanti setelah lulus…!

Yang penting BEBAS…!!!

Hahaha…

Sementara itu, di ruang guru, para guru merasakan ketegangan yang hampir sama…

Karena ujian telah tiba…

Penentu kelulusan siswa…

Yang tetap menakutkan, walaupun tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kelulusan…

Yang tetap mengerikan, walaupun sekarang para guru lebih memegang peranan dalam proses kelulusan…

Yang tetap menghabiskan banyak biaya dan tenaga…

Yang tetap menimbulkan banyak tanda tanya…

Bagaimana hasil ujian anak-anak itu nanti ya?

Apakah si fulan di kelas x itu bakal lulus?

Bisa lulus 100%-kah tahun ini?

Soalnya tahun ini gimana ya?

Ada bocoran lagi apa tidak ya, tahun ini?

Huuff…

—————————————————————————–

Cerita yang sama, yang berulang setiap tahun ^^…

Selamat menempuh Ujian Sekolah, anak-anakku… :))

SEMANGAT!!!

 

Iklan

turun tanah…

Posted: 11 Maret 2011 in familie, Ghazi

Turun tanah adalah salah satu prosesi yang wajib dilakoni anak-anak (setahu saya sih, tradisi ini adanya di masyarakat Jawa dan Madura, saya tidak tahu bagaimana di masyarakat lain). Biasanya, dilaksanakan pada saat bayi berusia 7 bulan.

Ghazi sudah berusia 7 bulan, sehingga hari senin kemarin (tgl 7 Maret), di rumah saya yang mewah (mepet sawah) itu, diselenggarakanlah prosesi tedhak siti atau turun tanah itu.

Acara diselenggarakan jam 16.00, setelah para undangan (32 anak-anak tetangga) dan Lik Sepsi (guru ngaji saya) datang. Pertama, baca surat al-fatihah, kemudian shalawat, lalu berdo’a dan makan-makan hidangan (nasi soto ayam). Selesai makan, dimulailah prosesi tedhak siti.

Mula-mula, Ghazi harus menginjak sepiring bubur. Buburnya tipe khusus. Kalau di Situbondo sini mah, namanya tajin polor, entah disebut apa di kebudayaan lain. Dan, karena Ghazi belum kuat berdiri sendiri, maka dia harus digendong oleh guru ngaji saya itu (mestinya sih, katanya, harus mbah kakung… hanya saja, mbah kakungnya Ghazi kan tinggal satu, dan ada di Malang, serta tidak dapat menghadiri karena masih hari kerja).

tedhak siti

tedhak siti

Setelah menginjak bubur, barulah Ghazi menginjak tanah untuk pertama kalinya. Sepertinya, Ghazi seneng banget tuh, dia langsung gerak-gerak gitu, pengen maen tanah πŸ˜€

Setelah kakinya dibersihkan dari bubur dan tanah, Ghazi kemudian harus mendaki sebuah tangga yang dibuat dari tebu (ada 3 anak tangga) dan dikalungi apem (sebanyak 7 buah).

naik tangga

naik tangga

Sampai di puncak tangga, Ghazi kemudian digeletakkan di atas lantai Gazebo (pakai alas karpet sih…), lalu di depannya diletakkan nampan berisi barang-barang berikut.

  1. Sebuah Al-Qur’an
  2. Sebuah buku tulis
  3. Sebuah buku bacaan
  4. Sebuah pena
  5. Sebuah sisir

Begitu nampan itu diletakkan di hadapannya, Ghazi langsung menyambar Al-Qur’an dan buku tulis dan tidak dilepaskan sampai tiba waktunya memilih yang kedua. Barang berikutnya yang dipilih oleh Ghazi adalah pena, kemudian buku bacaan. Waktu keempat barang yang lain sudah disingkirkan dan nampan berisi sisir diletakkan di depannya, Ghazi cuek saja, malah kemudian latihan roll ke samping ^^

Ghazi's choice

Ghazi's choice

Alhamdulillah, kata para sesepuh yang menghadiri upacara ini, pilihannya Ghazi bagus-bagus… Alhamdulillah lagi, Ghazi tidak memilih sisir, kata beliau semua πŸ˜€ . Semua memuji Ghazi yang pinter banget tidak milih sisir itu. Kok bisa pinter? Ya iya lah, soalnya kepala Ghazi kan masih gundul πŸ˜›

Selesai prosesi itu semua, Ghazi digendong giliran oleh Mbah Buyut, Mbah Uti, dan Oma-nya. Semua mengucapkan do’a agar anak kecil yang ganteng (mirip abi-nya πŸ˜› ) itu, menjadi anak yang berbakti dan soleh di masa depan nanti. Amin…