tentang pencapaian cita-cita…

Posted: 5 Februari 2008 in cerita, narsis, renungan

Bulan April 1996, di depan kelas, sambil makan (atau minum?) es cup-cup (sejenis es krim), Nurul bertanya pada saya. “Dit, cita-citamu apa?”

Sedikit ragu karena takut akan ditertawakan, saya menjawab. “Aku pengen menjelajah bintang-bintang, Rul… Berkelana di gelapnya angkasa raya, dari satu planet ke planet lain…”

(Sebenarnya, kalimat ini ada tambahannya. “… sendirian gak masalah bagiku, tapi aku akan lebih senang kalau kamu mau menemani”. Kalimat tambahan ini tidak pernah terucap. Tidak berani. Yeah, I am pathetic. I know it… 😦 ).

Bulan Januari 1998, di ruang guru, saya ditanya oleh guru BP. “Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus nanti?” tanya beliau.

Dengan penuh percaya diri, tanpa keraguan, saya menjawab. “Saya akan ikut seleksi PMDK ke IPB jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan!”

(Saya tidak lulus seleksi itu, sehingga akhirnya saya ikut UMPTN dengan opsi pertama ITS jurusan Teknik Fisika dan opsi kedua Pendidikan Fisika UNM)

Bulan Nopember 1998, di depan lab komputer jurusan Teknik Fisika, saya berbincang dengan seorang teman. “Nanti kamu mau milih program studi apa?” tanya dia.

Setengah mengantuk karena habis begadang mengerjakan laporan, saya menjawab. “Taun ngarep aku kate melu tes nang Akabri… Lha wingi aku durung cukup umur se…

(Pada waktu lulus SMU, umur saya belum memenuhi batas umur minimal untuk mendaftar ke Akabri. Namun pada akhirnya, saya tidak jadi ikut tes itu😐 )

Bulan Maret 2000, di dalam ruang asisten lab Rekayasa Bahan jurusan Teknik Fisika, kami (para asisten) membayangkan sedang berada di lab R&D Intel, membuat sebuah chip prosesor yang 2 kali lipat lebih canggih daripada Pentium 3.

(Waktu itu, komputer Pentium 3 baru saja muncul di lab:mrgreen: )

Bulan Januari 2002, di dalam ruang semi kedap lab Rekayasa Akustik dan Fisika Bangunan jurusan Teknik Fisika, saya dan teman-teman mengerjakan sebuah proyek penelitian tentang bahan peredam suara yang baru. Dosen penanggung jawab proyek itu menyarankan agar saya mengambil topik penelitian yang berkaitan dengan akustik saja.

(Saya mengikuti saran ini, dengan mengambil topik TA tentang proses peredaman pada shock absorber sepeda motor. Fokusnya adalah pada vibrasi, faktor dasar dari akustik🙄 )

Bulan Maret 2004, di depan Graha 10 Nopember, Ira bertanya. “Kate laopo saiki?” Tanyanya sambil tersenyum. Entah kenapa kok saya baru sadar kalau senyumnya itu manis sekali…

Sedikit grogi menunggu momen prosesi wisuda, saya menjawab. “Sing pasti, aku gak bakalan kerjo nang perusahaan utowo pabrik. Wirausaha!”

Sampai sekarang, saya masih terus belajar bagaimana menjadi wirausahawan yang baik…😀

Bulan Juli 2005, di depan mess trainee VEDC Malang, di waktu istirahat diklat assesor KKPI, setelah memberikan laporan via telepon kepada Kepala Sekolah, saya menerima telpon dari PT G**** M******** . “Mas Darma Aditya? Senin besok bisa hadir di kantor tidak?…” Suara berat penuh wibawa itu menyatakan bahwa saya diterima bekerja di perusahaan tersebut. Beberapa saat, saya bingung mau menjawab bagaimana…

(Akhirnya, saya memilih untuk terus menjadi guru. Waktu itu, saya mengajar KKPI dan Fisika, masih honorer🙂 )

Bulan Agustus 2006, di kompleks gedung Pustekkom Depdiknas, Ciputat, Jakarta, saya membuat film saya yang pertama. Pembelajaran Matematika untuk Siswa SD Kelas 4. Pada waktu itu, saya jatuh cinta pada proses yang menakjubkan itu.

(Sepulang pendidikan, saya dan anak-anak langsung menggarap film kedua saya. Pertempuran Gunung Patok. Sebuah film lucu-lucuan, parodi dari We Were Soldiers. Dilanjutkan dengan beberapa iklan layanan masyarakat😳 )

Bulan Oktober 2006, saat sedang break down naskah Program Sukses UAN 2007 yang terdiri dari 14 buah naskah, saya dipanggil Kepala Sekolah. “Pak Adit saya tugaskan untuk ikut seleksi S2 di ITB… Ini surat tugasnya, dan ini brosur seleksinya. Besok pagi sudah harus berangkat karena tesnya akan dilaksanakan lusa. Perjalanannya 24 jam lho…” kata beliau sambil tersenyum bijak.

(Singkat kata, inilah saya… Jadi mahasiswa lagi, jadi anak kos lagi…😐 )

Kelihatan kan… Jalan hidup saya itu kok lompat-lompat. Baru saja saya berusaha mendalami sesuatu, sudah harus mempelajari hal yang baru. Saya jadi bingung. Sebenarnya cita-cita saya itu sudah tercapai nggak sih? Sejauh mana jalan mewujudkan cita-cita itu telah saya tempuh? Layakkah saya disebut profesional?🙄

Komentar
  1. suandana mengatakan:

    Trus, kalau saya ndak profesional, bagaimana kah yang layak disebut profesional itu?

  2. edy mengatakan:

    kalo yg saya tangkap, justru bro aditya selalu punya keinginan yang kuat dan berusaha menggapainya
    berubah sesuai perkembangan🙂

    huu pertamaxnya dibajak!!

    *ngedumel*

  3. sawali mengatakan:

    hidup meloncat-loncat? hiks, kayak kodok aja pak adit. tapi yang pasti pilihan hidup pak adit sudah berada di jalur lurus, hehehehe😆 menjadi guru untuk ikut membangun peradaban bangsa, menyiapkan generasi masa depan yang imut-imut itu. Halah!

  4. itikkecil mengatakan:

    ngambil soal vibrasi ya….. vibrasi saya dulu cuma dapet c *curhat*
    sama kayak pak sawali, tracknya kan jelas dit. walaupun mungkin jalannya agak belok-belok.

  5. qzink666 mengatakan:

    Joh.. enak banget jalan hidupmu, bro.. Loncat-loncat penuh warna, euy..😀

  6. ayaelectro mengatakan:

    lompat-lompat dan bervariasi. hehe…..

  7. suandana mengatakan:

    # bro edy
    berubah sesuai perkembangan… fleksibel ya?
    tapi, apakah seorang profesional itu boleh melakukan seperti itu?😕

    huu pertamaxnya dibajak!!

    lah… kan pertamax langka…😆

    # Pak Sawali
    Jalur lurus ya, Pak… Hidup guru!😀

    Guru bersatu, tak bisa dikalahkan! *nyanyi*:mrgreen:

    # Mbak Ira
    Heh? Dapat C?😯
    Saya dong… dapet A…😆 (pamer.id)

    Jalan yang belok-belok itu, kadang bikin agak gimanaaa gitu. Seringnya dijadikan alat untuk ‘menyerang’ saya dalam khazanah perpolitikan di kantor😦

    # qzink666
    Tapi, saya curiga kalau sebenarnya hidupnya bro qzink itu lebih banyak warnanya…😀

    # ayaelectro
    yah, begitulah…😀

  8. fauzansigma mengatakan:

    so, skrg masih jadi mahasiswa pak?
    hihi….memang paling enak tuh pas jadi mhswa..
    heheheh..
    tapi klo S2..huwaaa

  9. isnuansa mengatakan:

    Selamat, selamat. Sekolah lagi adalah salah satu cita-cita saya yang belom kesampaian…

  10. suandana mengatakan:

    # fauzansigma
    Kalo S2… Sama kok, asik juga…😀

    # isnuansa
    Terima kasih…

    Sekolah lagi adalah salah satu cita-cita saya yang belom kesampaian…

    Selama tidak melepaskan, maka masih ada harapan untuk terpenuhi lho…😀

  11. ninoy mengatakan:

    hemm…….seru deh keknya apa yg mas adit jalani…karena terkadang apa yang di cita-citakan tidak selalu kesampaian, tapi kita tetap harus berusaha kan? yaa intinya kita berusaha, berdoa, dan pasrah…yang menentukan kan Dia yang Maha Kuasa🙂 -sok bijak deh ah-

  12. suandana mengatakan:

    # ninoy
    *terharu*
    Iyah… begitulah… Tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s