Arsip untuk September, 2007

Tidak semua pesan dapat disampaikan secara gamblang. Sandi-sandi pada waktu perang, misalnya.

Karena itu, orang-orang berusaha menciptakan suatu sistem untuk menyampaikan pesan-pesan rahasia semacam itu.

Ada dua jenis metoda. Kalau pesannya itu rahasia, maka digunakanlah kriptografi. Jadi, pesannya diacak total. Ingat kode morse? Nah, itu adalah salah satu contoh kriptografi. Contoh lain adalah dengan mengubah huruf asal menjadi 4 huruf berikutnya. Misalnya, kalau Pak Julius mau ngomong “Roma hari ini panas banget, nih…” maka yang dituliskan dalam papyrusnya adalah “Vsqe levm mrm terew ferkix, rml…”

Nah, kalau seperti itu, kan agak repot dan membacanya juga ndak indah, dan kelihatan banget kalau itu adalah sebuah pesan rahasia. Karena itu, dikembangkanlah teknik-teknik steganografi. Berbeda dengan kriptografi, teknik ini tidak mengutak-atik pesan. Yang dilakukan adalah menyembunyikan pesan itu dalam pesan lain.

Contoh steganorafi adalah yang dicantumkan pada sampul buku Da Vinci Code karangannya Dan Brown (yang versi Bahasa Inggris). Ada pesan “is there no help” disembunyikan dalam kalimat pembuka.

Atau, pesan dalam kalimat ngawur berikut…

Andai kamu udah ceritakan ini… Niat tulusku adalah kepadanya… Aku mau unta!!! :mrgreen:

Sepertinya gak nyambung kan? Sekarang coba baca huruf pertama dari tiap kata. Ada pesan yang bisa terbaca? 🙄

Nah, itu adalah salah satu contoh steganografi yang sederhana. Kalau yang sedikit rumit adalah watermarking pada file-file mp3 dan file-file gambar sebagai pengamanan…

Bagaimana? Sudah paham soal steganografi ini? Sepertinya banyak yang pernah membuat tulisan-tulisan macam kayak gitu deh… Temen-temen SMA saya dulu aja banyak yang membuat model seperti itu (yang sederhana).

Ah iya, hampir lupa, huruf pesannya itu ndak harus ditempatkan di bagian awal tiap kata. Boleh kok, ditempatkan di bagian akhir, asalkan konsisten dengan penempatannya. Misalnya, huruf pesan ditempatkan di bagian akhir tiap kata, atau mengikuti aturan sebuah deret bilangan (kalau mau sedikit rumit)…

Jadi, bagaimana kalau dibuat sebuah permainan tag-tag-an? *usul nih…* Jadi, yang kena tag diminta untuk menuliskan sebuah pesan yang tersembunyi dan nanti dibandingkan, pesan siapa yang paling cool dan paling sulit untuk dipecahkan…

Gimana? ASIK kan? Yah, ini baru sebatas usul… Disetujui nggak?

orang itu dan bulan…

Posted: 28 September 2007 in cerita, Uncategorized

Sudah beberapa hari, Bulan tampil penuh pesona. Sinarnya (yang dipinjam dari Matahari) begitu terang namun teduh, dan menyebarkan hawa dingin yang membuat suasana jadi terasa romantis.

It’s beautifulbut sad

Iya juga sih, karena pesonanya itu, Bulan jadi dijauhi sama geng-nya Bintang. Mereka menjauh, dan hanya Bintang Sore sama Bintang Fajar yang berani mencoba mengadu sinar dengan Bulan…

It reminds me to someone…

Eh? Benarkah? Siapa?

Guess?

Putri Pak Kades?

No! She’s beautiful and loved by everyone. She’s not a moon…

Gadis yang duduk di dekat pintu kelas itu ya?

…I don’t think so… She’s not that pretty, for me… that’s why she’s not popular

Ah, pasti anak perempuan yang tinggal di pojok jalan itu…

Well, she’s not popular, but she has this ‘desirable manner’ that made her interesting…

Lalu, siapa? Yang kau bilang kayak Bulan itu…

Can’t you guess?

Siapa? Yang cantik tapi dijauhi sama orang lain…

I am waiting…

…Kamu? Gak mungkin lah…

Why not?

Kamu kan populer?

Hardly!

Kamu kan gak… (dak jadi dilanjutin karena melihat tangan yang terkepal dan lirikan yang mengancam 🙂 )

Yes, I am… (dan dia tersenyum manis…. maniiiis banget)

Kok, malah senyum sih? Bangga ya jadi Bulan?

Of course…

Tapi, apa kamu dak sedih, dak kesepian?

No…

Benarkah?

Because I have you…

Hey, say something

Kudu ngomong apa?

Whatever…

PD banget ya, kamu…

Of course I am… I am the moon!

Hehehe… Bener-bener…

…And you are the sun… MY sun…

I don’t care if there are no one who will talk to me… I don’t give it a damn if I am not popular… As long as there is YOU…

………………

Kepada yang membaca:

Bayangkan, kalau Anda terlibat dalam percakapan seperti di atas itu 🙄

Apakah yang akan Anda lakukan? Apa reaksi Anda?

keep moving forward…

Posted: 26 September 2007 in cerita

Ada kalanya, segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang kita harapkan dan kita rencanakan… Proposal TA yang ditolak oleh dosen pembimbing untuk kesekian kalinya, gagal dalam sebuah proses rekrutmen untuk yang keseratus kalinya, atau presentasi tugas besar yang kacau (ini pengalaman pribadi T_T).

Oke, itu memang merupakan sebuah ‘pukulan’ yang sangat berat bagi mental dan dapat membuat orang melakukan hal-hal aneh nan ajaib.

Penolakan proposal TA yang sudah dikerjakan selama beberapa hari dan malam tanpa tidur itu dapat membuat sang mahasiswa jadi patah hati dan kemudian menyepi ke puncak-puncak gunung yang jarang dijamah manusia hanya dengan membawa dua botol A**a ukuran 1,5 liter dan dua bongkah coklat S****r Q***n ukuran gede (nekat banget, kan…).

Kegagalan dalam proses rekrutmen, padahal sudah di tahap akhir, dapat membuat seorang sarjana merasa menjadi orang paling tidak beruntung dan kemudian mengucilkan diri dari dunia. Selalu memakai pakaian warna hitam, memakai parfum aroma mystique (menyan & sebangsanya), serta selalu ngoceh soal mahluk-mahluk yang hanya dapat dilihat oleh orang-orang ‘tertentu’.

Presentasi tugas besar yang gagal dapat membuat seorang mahasiswa pasca sarjana STEI-ITB, program studi Game Technology, mengumpati dirinya sendiri sepanjang malam, meninju kanan dan kiri, tertawa sendiri mentertawakan nasib, kemudian mengambil sepucuk senapan sniper Magnum, sekotak peluru armor-piercing, sepucuk peluncur granat kaliber 9 mm, 15 butir granat supply, dan kemudian nongkrong di puncak menara masjid raya Bandung, menghambur-hamburkan peluru (karena ini sniper, maka 1-shot 1-kill 😉 ), dan granat sampai habis sebelum menangisi nasib dalam hujan (berbasah-basah gitu, ceritanya…)

Yang diceritakan di atas ini 🙄 adalah sesuatu yang dapat lho ya… DAPAT terjadi… Bukannya sudah terjadi 😎

Saya pernah membaca sebuah quote, “Apalah gunanya, menangisi susu yang sudah tumpah?” (dari manga Love & Collage)… Dan saya setuju banget dengan itu. Kalau katanya Robinson sih, dalam bahasa lain dia menyatakan “keep moving forward..!”.

Trus, intinya tulisan ini apa sih?

Intinya, saya hanya ingin memberi tahu bahwa presentasi tugas besar saya gagal T_T. Entah kenapa, pas tampil di depan, saya jadi nervous banget. Suara jadi bergetar, muka merah, tangan gemetar… Pokoknya, asli demam panggung gitu… Padahal sudah pengalaman presentasi banyak banget lho, tetap aja kacau…

Tapi saya juga ingin bilang bahwa saya nggak akan melakukan skenario ketiga itu 🙄 . Biarlah ini jadi pengalaman yang dapat menjadi pelajaran. Jangan pernah maju presentasi tanpa persiapan. Jangan pernah meremehkan sesuatu. Karena selalu ada faktor lain di luar diri kita yang mempengaruhi segala sesuatu yang kita lakukan…

Jadi, keep moving forward dan SEMANGAT!!!

obrolan singkat…

Posted: 23 September 2007 in cerita, mimpi

“Dit…”

“Apa..?”

“Kenapa kamu membuat halaman mimpi-mimpi di blog kamu itu?” tanyanya lagi, seorang kawan yang agak cerewet memiliki rasa ingin tahu yang besar.

“Yah, supaya aku selalu ingat, bahwa aku punya banyak mimpi yang harus diwujudkan…”

“Terus, kalau misalnya nanti tidak terwujud?”

“Sebisa mungkin harus terwujud dong…”

“Wei, aku tanyanya… Kalau dak terwujud gimana?”

“Dan aku jawab… Harus terwujud!!!”

“Jadi…”

I’ll try..! Dan jika gagal pada kesempatan pertama, aku akan mencoba lagi dan lagi… Terus, sampai mimpi-mimpi itu terwujud…”

“Kamu nge-list banyak hal lho…”

“Itu belum semuanya…”

“Heh? Apa?”

“Yang ku-list di halaman mimpi-mimpi itu, belum semuanya… Masih banyak mimpi-mimpiku yang lain. List-nya ada di rumah… Mau lihat?”

“…” dia terpana. Perasaan nggak percaya, kagum, heran, sangsi, aneh, bercampur jadi satu di wajahnya itu. “…Masih ada banyak?”

“Yup…”

“Kamu yakin dapat mewujudkan semua itu?”

“Aku percaya pada Power of Dream…

“Iya sih, tapi kalau kebanyakan… Berapa banyak sih, mimpi-mimpimu?”

“Mmm… Karena aku manusia biasa, aku nggak sempat ngitung jumlahnya…”

“Segitu banyaknya kah?”

“Banyak lah pokoknya…”

Dan dia pun berlalu sambil geleng-geleng kepala, meninggalkan saya yang kembali menatap flow chart program yang harus saya kumpulkan Senin besok…

SEMANGAT!!!

PR: 8 kebiasaan…

Posted: 21 September 2007 in narsis

Taretanita yang satu ini ngasih PR. Nge-list 8 kebiasaan random saya. Oke, karena saya ini taretan yang baik, jadi ya bersedia mengerjakan dengan senang hati…

  1. Suka gila-gilaan setiap hari Senin dan Jumat. Ini gara-gara gadis yang menyumbangkan huruf N dalam RADIAN itu… Awalnya, dia yang memulai tradisi gila-gilaan ini. Bentuk gila-gilaannya gimana? Well, sebenarnya nggak terlalu aneh kok, paling hanya main injek-injekan kaki di koridor sekolah pas jam istirahat, atau jalan-jalan menyusuri sungai yang mengalir di depan rumah saya (tapi jalannya di tengah sungai, bukan di tepiannya, padahal sungai itu merupakan sarang yang nyaman bagi beberapa gerombolan ular dan satu geng biawak). Itu dulu… when I was young… Kalau sekarang sih, paling cuma jingkrak-jingkrak di dalam kamar kosan sambil muter musik keras-keras…
  2. Minimal sebulan sekali wajib ke toko buku, untuk memuaskan nafsu membaca. Tapi yah, belum pasti pulang bawa buku baru (tergantung dana). Maklum, anak kos…
  3. Kalau makan, lebih afdol sambil baca buku atau nonton film. Entah kenapa, tapi rasanya lebih sip gitu…
  4. Kalau tidur, yang ditaruh di atas bantal itu adalah kaki, sementara kepalanya gak usah. Kebiasaan dari kecil, karena rasanya lebih nikmat. Tidurnya jadi lebih nyenyak n capeknya cepat ilang. Coba deh… *promosi*
  5. Khusus bulan Ramadhan ini, setiap sore mangkal di pojokan lantai 2 Labtek VIII STEI-ITB. Nge-net…
  6. Setiap hari, wajib nge-game. Entah kenapa, kok kayaknya hampir kecanduan deh. Kalau belum nge-game, rasanya jadi gelisah n ngerjain apa-apa itu jadi nggak terlalu bagus (gak konsen). Kayak orang sakaw gitu…
  7. Sering pacing out, kata temen-temen. Tiba-tiba terdiam memandang langit (langit yang beneran, yang biru di atas itu, bukan langit yang Langit 😀 ). Dan itu saya lakukan siang dan malam. Utamanya malam… Sebenarnya, saya sadar banget kok saat melakukan itu. Dan alasan melakukan itu adalah karena langit begitu mempesona, dan misterius. Membuat saya jadi tertarik…
  8. Kalau sedang BT, sering ngeluarin jurus-jurus gak karuan yang gak jelas. Jadi, kalau saya sedang BT, seringnya menyepi. Demi menghindari menyakiti orang-orang lain di sekitar saya…

Nah, begitulah salah delapan dari sekian banyak kebiasaan saya. Gak a

    bumi, langit, lautan, dan awan…

    Posted: 18 September 2007 in cerita

    Ada yang masih ingat cerita tentang bumi dan langit? Yang dulu itu lho… Nah, ini ada hubungannya dengan cerita itu.

    Teman yang sama bertanya lagi pada saya. “Gimana, masih di cakrawala?”, tanyanya sambil tersenyum penuh simpati.

    “Masih…” jawab saya, pelan…

    “Lah, kenapa kok lemes gitu jawabnya?”

    “Ramadhan, jek…”

    “Ah, nggak mungkin. Lha wong 5 menit yang lalu masih ceria penuh semangat gitu… Begitu kutanya soal cakrawala, kok langsung lemes. Pasti ada apa-apanya nih…” katanya bak seorang interogator ulung.

    “…Oke… Gini… Sebenarnya, cerita bumi dan langit itu ada lanjutannya lho… Mau dengar?”

    “Gimana?” dia pun duduk di bangku terdekat.

    Saya pun bercerita.

    Bumi dan Langit itu nggak dapat bersatu selama Bumi tidak naik untuk menemani Langit di atas sana atau Langit tidak turun mendampingi Bumi. Karena itu ada cakrawala. Ini tidak dapat dibiarkan berlanjut terus. Karena itu, hadirlah Lautan dan Awan.

    Lautan selalu mendampingi Bumi, dan dia merefleksikan sifat-sifat Langit. Warna mereka sama dan memiliki sifat yang sama… Hanya saja, Lautan selalu ada di dekat Bumi. Saat Bumi menangis merindukan Langit, Lautan lah yang menampung air mata Bumi yang menjelma menjadi Sungai. Dan, Lautan pun mencintai Bumi…

    Awan, memiliki sifat-sifat Bumi. Liar, setia dan tulus. Dan dia pun selalu berada di dekat Langit. Awan pun mencintai Langit. Cintanya begitu dalam serta ikhlas. Saat Langit bersedih, Awan pun ikut menangis. Saat Bumi, yang dicintai Langit, kepanasan gara-gara ulah Matahari, Awan pun menyediakan diri untuk melindungi Bumi agar Langit tidak lagi cemas. Pokoknya, dalam banget deh… Cintanya Awan pada Langit.

    “Jadi, intinya, kamu sudah menemukan Lautan, nih?” tanya teman saya tidak sabar.

    “Masih belum jelas toh, ceritanya?”

    “Oke… Terus, kenapa Bumi nggak milih Lautan itu aja? Toh, si Langit juga sudah bahagia bareng si Awan…”

    “Wei, jangan salah… Dalam cerita tadi kan nggak ada penjelasan soal Langit membalas cintanya Awan…”

    “Alaahh… witte trisno jalaran soko ngglibet…”

    “Belum tentu, lah…”

    “Oke… Gak usah mbahas Langit dan Awan. Kamu belum jawab pertanyaan tadi. Kenapa Bumi nggak milih Lautan untuk jadi pendamping?”

    “Itu karena Bumi nggak mau menjadikan Lautan sebagai bayangan Langit. Bumi, sesuai sifatnya, ingin mencintai Lautan (jika lho ya…) sebagai Lautan. Paham maksudku…”

    Teman saya menggelengkan kepala…

    “Gimana ya, ngejelasinnya… Susah, nih… Mmm…”

    “Ngomong-ngomong…” dia memotong saya. “… yang mana sih, Lautan?”

    “Heh?”

    “Yang mana, yang kamu sebut Lautan itu? Kalau Bumi itu kan kamu… Trus, Langit itu kan dia… Nah, Lautan itu yang mana?”

    “Nggak ada…”

    “Jangan bohong…”

    “Suer… Hehe… Nggak ada… Itu kan lanjutan cerita Bumi dan Langit. Nggak ada hubungannya dengan aku sebagai Bumi dan dia sebagai Langit…” :mrgreen:

    “HEEEEHHHH???!!! Jadi dari tadi…” dia terus nggrundel panjang-pendek.

    “Hehehe… Sori, teman…”

    Jadi, begitulah, lanjutan kisah Bumi dan Langit. Sebenarnya, dalam tatanan kisah saya sebagai Bumi dan dia sebagai Langit, memang telah muncul Awan. Lautannya belum. Beneran! Belum ada Lautan dalam kisah yang ini.

    Tapi, jika seandainya nanti muncul, apa yang sebaiknya saya lakukan ya? Menjadi realis? Atau tetap keras kepala menjaga cinta…?

    ps:

    Kepada Langit… SEMANGAT!!!

    stop racism!

    Posted: 14 September 2007 in cerita

    Dalam sebuah obrolan, saya teringat pada sebuah kejadian yang pernah saya alami dulu. Duluuu… when I was young… waktu masih memegang KIPEM Surabaya.

    Waktu itu, pada suatu sore yang cerah, saya dan beberapa orang teman berangkat naik lin O menuju Kayoon. Mau main air di sana :mrgreen: … Akan ada lomba perahu naga, dan kami ingin mencoba ikut. Karena itu, harus banyak latihan.

    Di daerah Dharmawangsa, ada seorang bapak tua naik. Dia duduk di bangku ekstra yang ada dekat pintu, sehingga berpotensi mengganggu penumpang yang akan naik/turun. Pak sopir pun menegur, sekalian menanyakan tujuan bapak tua itu. Soalnya, lin O itu trayeknya agak membingungkan, bagi orang yang belum paham benar.

    Bapak tua itu menjawab dengan nada sengit. “Wis ta lah… Aku ngerti kok tempat tujuanku. Aku wong Suroboyo asli, Rek… bukan orang Madura…”

    Dierrrr! Saya kaget bukan kepalang. Teman-teman saya, yang dua-duanya berasal dari Probolinggo (notabene seorang MA, madura asli) juga sama kagetnya sampai terdiam tak dapat berkata apa-apa. Namun, setelah beberapa saat, entah bagaimana, kami sama-sama mencapai kesepakatan untuk membiarkan saja bapak tua itu. Mungkin dia lagi suntuk nan stress…

    “Apa gara-gara aku item dan jelek, terus disangka aku ini orang Madura toh?” tiba-tiba bapak tua itu nyeletuk lagi… (Sebagai informasi, memang banyak orang Madura yang warna kulitnya agak gelap karena mereka itu banyak melakukan pekerjaan kasar dan berat di bawah terik matahari. Tapi, ndak semuanya item. Dan, juga banyak orang Madura yang terbilang tampan, saya salah satunya 😎 )

    Mendengar celetukan bapak tua itu, salah satu teman saya tidak dapat menahan diri lagi. Dia langsung buka suara, ngobrol dengan suara keras, menggunakan bahasa Madura… Langsung deh, Bapak itu terdiam seribu bahasa. Dan, tak lama kemudian, turun.

    Nah, begitulah… Ternyata bangsa kita masih rasis banget ya?

    Saya ndak dapat menyalahkan bapak tua itu yang merasa bahwa dirinya dianggep orang Madura karena menyadari bahwa kulitnya berwarna gelap dan jelek. Mungkin bapak itu sering sekali diperlakukan demikian oleh orang-orang di sekitarnya, sehingga secara tidak sadar beliau melakukan ‘itu’.

    Saya juga tidak dapat menyalahkan teman-teman saya yang secara tidak langsung telah meneror bapak tua itu dengan mendemonstrasikan secara gamblang bahwa mereka adalah orang-orang Madura. Saya sendiri pada saat itu juga merasa ada sedikit ‘clekit‘ di hati ini. Yah, walaupun saya memilih untuk diam saja pada saat itu…

    Tidak hanya sekali saya menemui hal semacam ini. Sering sekali saya mendengar ada orang yang berkata, “Orang Sunda itu …gini-gini…”. Di lain kesempatan, ada yang wanti-wanti, “Orang Osing itu …begitu dan begini…”. Banyak juga yang, mungkin karena tidak mengetahui asal-usul saya nggrundel di hadapan saya, “Orang Madura itu …&%#$@*…

    Sering saya berpikir… Kenapa sih, bangsa ini? Tak bisakah kita menghargai perbedaan masing-masing? Bukankah setiap suku bangsa yang ada di Indonesia memiliki kelebihan dan kekurangan yang nantinya membentuk sebuah budaya khas yang tidak ada duanya di dunia ini? Bukankah kita ini sama-sama orang Indonesia? Dan di atas itu semua, bukankah kita ini sama-sama manusia anak keturunan Adam?

    AYO, STOP RASISME!!!

    SEMANGAT!!!