Arsip untuk Oktober, 2007

kembali ke Bandung…

Posted: 26 Oktober 2007 in cerita

Setelah libur lebaran diperpanjang secara sepihak karena ada panggilan tugas mendadak, akhirnya saya kembali ke Bandung. Dokumen thesis yang mulai berdebu kembali dibuka, folder thesis-ku yang lama tidak di-klik mulai dijenguk, dan kode-kode program mulai diotak-atik kembali. Perlu waktu sih, untuk masuk ke mode “mahasiswa-yang-dikejar-waktu-untuk-lulus” sepenuhnya. Namun saya pasti bisa. SEMANGAT!!!

Perjalanan kembali ke Bandung tidak seheboh perjalanan pulang ke Situbondo kemarin. Jadi, tidak banyak yang bisa diceritakan. Semuanya berjalan lancar dan nyaman. Bahkan kemacetan di Porong, Sidoarjo pun tidak terasa terlalu mengganggu. Demikian pula dengan perjalanan naik kereta. Nyaman banget, karena hampir semua fasilitas kereta berfungsi normal (kecuali pintu yang dak bisa dikunci sehingga kadang-kadang suara roda kereta yang beradu dengan rel terdengar jelas). Makanan yang disediakan juga lumayan. Pokoknya, kelihatan bener kalau itu kereta kelas eksekutif (Turangga). Bonus tambahannya adalah, tidak banyak orang yang menggunakan kereta ini. Dengan kata lain, saya dapat bebas tidur. Bahkan, ada beberapa penumpang yang pindah ke kursi lain agar lebih nyaman.

Yang berkesan dalam perjalanan kemarin itu, hanya satu sih… Di daerah Besuki (masih wilayah Situbondo), saya dikagetkan oleh sebuah suara merdu. “Boleh duduk di sini?”

Reaksi saya yang pertama adalah tolah-toleh mencari asal suara, sekaligus memeriksa kondisi lingkungan sekitar. Ada beberapa bangku yang kosong dalam bus itu. Tapi, kenapa gadis itu memilih duduk di samping saya ya? Padahal saat itu saya sedang berada dalam mode “mantan-preman-yang-sangar”. Sekedar informasi, jika saya berada dalam mode ini, maka anak kecil yang sedang menangis pun pasti akan terdiam jika melihat saya tapi kemudian tertawa-tawa akrab T_T

Gadis yang memilih untuk duduk di samping saya itu adalah seorang gadis yang menarik perhatian banyak lelaki lain yang ada di bus itu. I can’t say that she’s outstandingly beautiful, but I can’t deny that she’s more desirable than other girls. Sebagai contoh, saat gadis itu membeli permen p**o dan uangnya kurang, para lelaki yang ada di bangku seberang, dan di belakangnya (2 bangku kapasitas 3 orang plus satu bangku paling belakang berisi 5 orang), semuanya berebut menawarkan uang recehnya. Saya bagaimana? Tentu saja saya ndak ikut-ikutan mereka. Saya masih ngantuk, soalnya…

Kemudian selama perjalanan, beberapa pemuda yang ada di sekitar kami mencoba keberuntungan untuk berkenalan dengan si gadis. Ada beberapa orang yang beruntung mendapatkan nomor HP dan mengetahui nama gadis itu. Bagaimana dengan saya? Tetap cuek dan memilih untuk menikmati pemandangan di luar bus.

Masuk daerah Probolinggo, saya baru berkesempatan untuk bicara dengan gadis itu. Ternyata dia lumayan ramah. Tapi yah, obrolan kami tidak terlalu pribadi. Terus begitu sampai tiba di terminal Probolinggo. Kami berpisah di sana. Dan, ya… Saya tidak mengetahui nama gadis itu, apalagi nomor HP-nya… T_T

Waktu saya ceritakan hal itu pada teman-teman, mereka semua pada tertawa. “Oalah, Dit… Awakmu iku kok yo sek ja-im ngono se? Jarene wis pengen cepet nikah? Tapi kok nek ketemu cewek pancet ae koyok ngono? Hahahaha…” 😦

Jadi bertanya-tanya… Salahkah saya jika memiliki kriteria tertentu dalam mencari pasangan hidup? Salahkah saya jika ja-im di dalam bus? Salahkah saya jika membandingkan gadis-gadis yang saya temui dengan Langit?

Ah… Anyway, saya sudah kembali ke Bandung. Dan, ada target yang harus dicapai dalam pengerjaan thesis. Kerja keras nih… Tapi, sepertinya, nge-blog masih bakal terus berlanjut nih 😀

ps:

kepada Ninoy : maaf, belum bisa buat posting yang menggunakan steganografi dan atau kriptografi… belum sempat   m(_ _)m …

watashi…kenthangs…

Di lebaran kali ini, entah kenapa kok saya menemukan banyak jejak dari masa silam yang telah lama lewat. Kontak dari orang-orang yang sudah lama sekali tidak memberikan kabar, perjumpaan dengan orang-orang yang sudah lama tidak ditemui, kemunculan barang-barang yang disangka sudah hilang, deja vu saat melintasi beberapa tempat… Banyak banget deh, pokoknya…

Ada beberapa SMS yang membuat surprise… Karena dikirimkan oleh teman-teman yang saya pikir sudah melupakan saya. Isinya sih, sama seperti yang lain (minal aidin wal faidzin-an), namun entah kenapa efek-nya benar-benar terasa mantep…

Kemudian, saat sedang membersihkan rumah, tiba-tiba saya menemukan foto-foto jadoel yang kemudian diputuskan untuk di-repro, dijadikan bentuk digital (baca: di-scan). Foto pertama adalah salah satu contohnya. Itu adalah foto saya pada hari kelahiran Adek. Sudah kelihatan cakepnya kan? *narsis ON* :mrgreen:

Kemudian perjumpaan dengan mereka. Beberapa orang yang pernah menjadi penghuni gelap di pojokan hati saya. Duluu, sebelum saya mengetahui keberadaan Langit. Ada dua orang. Yang pertama adalah anak Pak Kyai yang tinggal di depan rumah nenek saya. Kami adalah kawan sepermainan. Dulu, kami biasa bermain petak umpet di gudang kayu milik orang tuanya. It was wonderful, sampai saat tiba-tiba ada ‘sesuatu’ yang saya rasakan setiap kali saya melihat dia. Sekarang, dia sudah menikah dan punya satu anak… Yang kedua, it’s classified… 😀

Penemuan jejak masa silam juga berlanjut di dunia maya. Saya berhasil menemukan jejak teman-teman se-angkatan, Kenthang 98, yang sudah lama menghilang. Lumayan, dapat beberapa foto… Foto kedua itu diambil pada saat kami menjelang lulus, sekitar tahun 2002… Ada yang bisa nebak, yang mana kah saya? 😀

Apa ya, makna di balik semua ini? Kok bisa tiba-tiba menemukan jejak-jejak itu? *mikir*

next generationfamily gatheringbekas merconrumah…monas…penumpang gelap

Sekedar memenuhi janji (niru kata-katanya Mbak Jejakpena)… Oke, penjelasannya diurut dari kiri ke kanan ya….

Baris 1 (paling atas)….

  1. Next generation dari keluarga besar saya… (baca: para ponakan, karena saya belum punya T_T )…
  2. Family gathering di rumah salah satu sesepuh, di daerah Jajag, Banyuwangi…
  3. Bekas mercon yang diledakkan setelah sholat Id, sebuah tradisi yang perlu dihilangkan…
  4. Home sweet home (teras-nya)…
  5. Monas di sore hari, diambil saat menunggu kereta di Gambir, dalam perjalanan pulang…
  6. Penumpang gelap di Gajayana yang bernasib malang (diinjak-injak dengan sadis)

Jadi, itulah beberapa dari sekian banyak momen yang diabadikan dalam bentuk foto… Yang lainnya, untuk sementara belum dapat dipublikasikan 😛

SMS 1 :

Kulo lan sampeyan wonten ngalam donyo meniko sauger namung nglampahi jejibahan saking gusti Allah. Monggo ing dinten fitri puniko kulo lan sampeyan sami-sami paring pangapunten marang sadoyo lepat lan luput… Allahumma amiiin 🙂

SMS 2 :

Seuntai “kasih” membuat sayang”. Seucap “janji” membuat “percaya”. Sekecil “luka” membuat “kecewa”. Namun hidup akan terasa ringan saat segala kesalahan dimaafkan. Minal aidin wal faidzin, maaf lahir batin…

SMS 3 :

For all the things that I’ve done wrong… For words that I’ve written seems to hurt you… For bad jokes that I’ve made… Please forgive me... Maaf lahir batin…

SMS 4 :

Nyo’on sapora se raje… Ma’ap ta’ bisa langsung dhateng ka compo’ epon panjenengan… Minal aidin wal faidzin

Ternyata, ada banyak cara untuk menyampaikan permintaan maaf…

Nah, itu adalah beberapa SMS yang saya terima di saat lebaran. Saya sendiri juga mengirimkan beberapa SMS ke beberapa orang, yang isinya tidak perlu dibeber di sini 😉 … Yah, karena kalimatnya tidak terlalu bagus (Karena saya bukan seorang pujangga, makanya isi SMS yang saya kirim itu terlalu straight to the point, tanpa kembangan atau basa-basi sedikitpun… Maklum, orang teknik… -_- )

Saya juga mengamati… Beberapa lebaran terakhir ini kok terasa ‘sepi’ ya? Sampai hari kesekian ini, persediaan kue di rumah saya masih banyak (lumayan, buat sangu ke Bandung nanti 😀 ). Padahal, dulu, hal ini hampir mustahil terjadi. Biasanya, pada H+3, Bunda harus membeli stok baru kue karena wadah-wadah kue mulai kosong.

Apakah ini gara-gara kemajuan teknologi (baca: SMS)? Yang membuat orang-orang jadi malas ber-silaturrahim secara fisik? Kalau benar begitu, kok sepertinya terasa menyedihkan ya? *mikir serius*

ps:Mohon maaf atas segala tulisan ‘tidak baik’ (baik disengaja maupun tidak disengaja) yang pernah saya buat… Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin…

mudik…

Posted: 7 Oktober 2007 in cerita

Alhamdulillah saya sampai di rumah dengan selamat, tidak kurang suatu apa. Langsung bantu-bantu di rumah kerabat yang punya hajat. Lumayan capek sih, tapi mau bagaimana lagi? Namanya keluarga besar ya begitu itu.

Perjalanan mudik kemarin sangat berkesan bagi kami (saya dan seorang kawan). Terutama perjalanan dengan kereta Gajayana dari Jakarta ke Malang.

Jam 10.30, kami berangkat dari Bandung naik kereta Argo Gede (di gerbong nomor 1 kursi nomor 7A_7B) menuju Jakarta. Turun di Gambir jam 13.30 (telat sedikit), kemudian kami langsung menuju Istiqlal. Ngaso dulu di sana sekalian sholat. Sampai di sini, tidak ada keluhan yang berarti. Keretanya nyaman, perjalanannya lancar, semuanya oke…

Jam 17.30, kereta Gajayana belum datang, padahal jadual yang tercantum di tiket menyatakan bahwa jam keberangkatan dari Stasiun Gambir adalah jam 17.15. Kereta itu baru datang pada jam 17.40-an. Langsung deh, para penumpang berebut masuk (padahal nomor gerbong dan kursi sudah tertera di karcis).

Saya dan kawan itu sempat kebingungan mencari gerbong nomor 7, tempat yang dinyatakan dalam tiket yang kami beli. Ini karen, tidak ada nomor gerbong yang tercantum di bodi gerbong. Dari 8 rangkaian gerbong, hanya ada satu yang ditempeli angka 1, yaitu gerbong nomor 8. Jadilah kami mondar-mandir…

Begitu ketemu gerbong nomor 7, langsung masuk dan dengan percaya dirinya, kami menuju deretan kursi terdepan. Kursi kami adalah nomor 1C_1D…

Sampai di barisan kursi terdepan, kami bingung lagi karena di depan hanya ada kursi 1A_1B. Nomor C & D-nya gak ada!!!
Gimana ini, PT KA? teriak saya. Sempat panik sebentar, sampai akhirnya seorang petugas datang dan membawa kami ke bagian belakang dan memberi kami tempat di bagian paling belakang, dekat pintu.

Oke, begitu duduk, langsung terasa kalau ada yang aneh. Di gerbong itu tidak ada TV! AC-nya juga tidak dingin! Belum lagi, muncullah beberapa tamu yang tidak diundang tapi tetap nekat datang. K***a, namanya. Item, gepeng, agak bulat, dan biasanya berkeliaran di kamar mandi yang tidak terawat.

Ini gerbong eksekutif apa EX-ecutive sih? Pikir saya.  Setelah nge-cek lagi, ternyata pintu keluar gerbong tidak dapat ditutup rapat. Walhasil, terciumlah aroma semerbak yang berasal dari toilet.

Penderitaan kami tambah lengkap saat kereta mulai berjalan. Goyangannya itu lho, mengingatkan saya pada kereta kelas kambing  yang dulu melayani trayek Situbondo-Jember.  Mana suara yang datang dari pintu itu begitu nyaring dan menakutkan… Membuat kami tidak dapat segera menjalankan rencana awal. Tidur selama di kereta :mrgreen:

Wadoh! Saya jadi berpikir. Apakah ini gara-gara kami membolos, dan ini (naik kereta yang penuh error) adalah hukuman?

Kami nggak tahu. Yang jelas, kami kecewa banget pada manajemen kereta Gajayana . Bagian mananya dari gerbong yang kami naiki itu yang dapat disebut sebagai ciri executive class?

Teman saya menyarankan untuk protes kepada manajemen PT Kereta Api. Saya bilang, nanti saja, kalau sudahsampai tujuan. Daripada kami berdua diturunkan di middle if nowhere… Kami tidak lupa mengambil beberapa foto bukti buat nanti.

Di Malang, saya sambung bus ekonomi jurusan Situbondo, dan sampai rumah sekitar jam 14.45 pada esok harinya (Sabtu).

Jadi, saya tetap heran… Padahal mudik itu begitu berat dan sering bikin jengkel, namun kenapa orang-orang tetap melakukan ritual ini setiap tahunnya?

ps:

foto-foto menyusul… SEMANGAT!!!

H-1

Posted: 4 Oktober 2007 in cerita

Yup… Hari ini adalah H-1!

Karena insya Allah besok saya akan bergabung dengan ribuan orang Indonesia yang menjalankan ritual tahunan ini. Sudah jelas kan? Saya akan mudik! *Yesss!!! Bisa pulang!!!*

Walaupun ‘sedikit’ mahal (terutama bagi seorang anak kos seperti saya), namun saya dan seorang kawan (cowok T_T) akan naik kereta Argo Gede menuju Jakarta. Kemudian dari Gambir, naik kereta Gajayana menuju Malang. Sebelum ada yang bertanya, Nggak…! Saya nggak akan mencoba meniru kisah dalam novel 5 cm, yang pergi ke Malang naik kereta Matarmaja (Jamatarma, kalau dibalik). Saya pengen cepat sampai rumah nih… 😀

Kemudian, saya dan kawan itu akan berpisah di Malang. Dia langsung menuju rumahnya (dia itu anak Malang… err… kok agak aneh ya? 😛 ), sementara saya menuju terminal Arjosari untuk mencari bus yang menuju Probolinggo.

Dari Probolinggo, saya ganti bus yang menuju Banyuwangi (tapi yang lewat jalur Pantura). Dan, setelah melewati beberapa lokasi wisata yang lumayan terkenal (locally), saya akan sampai di terminal Situbondo. Turun di situ.

Di terminal, saya akan dijemput oleh adik saya satu-satunya. Kalau dak dijemput, saya masih harus naik angkot (yang disebut oleh penduduk lokal -termasuk saya- dengan kol -dari kata colt (jenis mobil)-) selama sekitar setengah jam.

Tapi ndak langsung ke rumah T_T. Kemarin di-pesen-i supaya mampir ke sekolah dulu. Ngambil THR ! *pamer* :mrgreen: … Alhamdulillah…

Dari sekolah, baru deh pulang. Kalau perhitungan saya tepat, insya Allah saya akan sampai di rumah pada hari Sabtu, sekitar jam 3 sore… Tinggal nunggu bentar, habis itu berbuka deh… *membayangkan masakan spesial buatan orang rumah*

So… Mungkin ini bukan posting terakhir saya di bulan Ramadhan, tapi buat jaga-jaga (siapa tahu di rumah nanti dak sempat nge-net)… MOHON MAAF LAHIR BATIN… Kalau ada salah kata, maafin saya yah… *membungkuk ala orang Jepang*

Siap-siap dulu ah… Packing, belanja oleh-oleh, belanja titipan, belanja barang dagangan (ceperan nih :mrgreen: ), pamit ke ibu pemilik warung di depan kos, de-es-be deh…

Yossh! SEMANGAT!!!

nasibku… T_T

Posted: 2 Oktober 2007 in Uncategorized

Seorang teman sms… “Mas, wis ngerti kabar soal Mbak I****?”

“Eh? Opo’o dhe’e? Nikah tah?”

Aku sek tas ngerti nek dhe’e iku seneng tenanan ambek sampeyan…”

“Eh? Tenanan?”

Tenanan iki! Tapi…”

Aduh, pikir saya, kok ada tapinya… *firasat buruk nih* “Tapi opo?”

Dhe’e dijodohne!”

Dhieeerrr! Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelip… “Heh?”

Iyo! Aku dikandani budhe ne dhe’e. Wong tuo wis podho ketemu. Trus arek’e yo rodho’ keberatan. Tapi yo opo maneh?”

Saya ndak bisa menjawab langsung. Masih mikir. Berarti belum waktunya bagi saya untuk menggenapkan agama nih. Padahal saya baru saja berpikir bahwa saya telah menemukan Lautan dalam diri gadis itu (yang dijodohkan ini), eh kok ndilalah jadi begini jalannya… T_T

Teman saya itu sms lagi… “Mas? Sampeyan gak po-po tho?”

Nek aku ngomong gak po-po, berarti aku bohong… Tapi yo opo maneh?”

Yo, usaha opo ngono…

Opo? Moro nang omahe dhe’e trus mencak-mencak nang kono koyok nang pilem india?”

Yo gak sampai ngono, tapi mosok katene langsung nyerah?”

“…”

Percakapan selanjutnya tidak perlu dipublikasikan. Namun yang jelas, kami sampai pada suatu kesepakatan bahwa saya nggak akan melakukan sesuatu apapun terkait dengan prosesi ini. Saya berusaha menghormati keputusan orang tua I****. Apalagi kedua keluarga yang terlibat dalam perjodohan ini masih ada hubungan saudara. Saya merasa ndak enak kalau sampai gara-gara saya melibatkan diri kemudian calon Lautan itu memilih saya (ini hampir pasti, sekitar 80% 😀 ), dan kemudian hubungan persaudaraan kedua keluarga itu jadi bermasalah. Saya tidak ingin melakukan itu…

Karena itu, biarlah saya menikmati kesendirian ini T_T…

Wadoh! Mana hujan sudah lama tidak turun…

ps:

SEMANGAT!!! :mrgreen: