Arsip untuk Agustus, 2007

Semangat, Pak!

Posted: 28 Agustus 2007 in cerita, pendidikan

Beberapa hari yang lalu, Bunda menelepon. Bercerita tentang keadaan rumah, kesibukan beliau yang terus meningkat, dan tentang Adek yang semakin nge-top di sekolah (adik saya ini juga seorang guru). Juga tentang anak gadis salah satu rekan beliau yang, katanya, semakin menarik saja (sepertinya bakal dikenalkan…). Dan, tak lupa, tentang dunia pendidikan di Situbondo.

Kata Bunda, di kota saya yang kecil, jorok, ketinggalan jaman, dan norak namun ngangeni itu, telah dilangsungkan pemilihan kepala sekolah dan guru favorit. Beliau tidak bercerita tentang proses detailnya (apakah seperti proses pemilihan idol itu?). Yang diceritakan adalah tentang pemenangnya. Di posisi teratas, ada dua nama yang sangat saya kenal. Posisi satu adalah Ibu Kumudawati, kepala SMK Negeri 1 Panji, yang disusul secara ketat oleh Pak Agus, kepala SD Negeri 4 Mimbaan. Posisi 3 tidak saya kenal, karena itu saya lupa namanya. Demikian pula dengan guru favorit, tidak kenal (secara pribadi, maksudnya)…

Kepala Sekolah favorit pertama itu adalah kepala sekolah saya sendiri. Dan, melihat sepak terjang beliau, saya rasa wajar saja jika beliau terpilih sebagai favorit pertama. Kapan-kapan saja cerita tentang beliau itu saya jadikan sebuah posting. Sekarang saya hanya akan bercerita tentang Pak Agus, favorit kedua.

Keberhasilan Pak Agus ini sebenarnya merupakan sesuatu yang tak disangka dan tiada diduga. Ini karena beliau memimpin sebuah sekolah yang tidak termasuk dalam jajaran sekolah nge-top. Walau dapat dikatakan bahwa SDN 4 Mimbaan itu berada di tengah kota, namun sekolah ini berbagi halaman dengan SDN 1 Mimbaan, salah satu sekolah paling top di Situbondo, yang selalu menjadi pilihan pertama para orang tua dalam setiap tahun ajaran baru, yang sering sekali mewakili Situbondo dalam berbagai perlombaan tingkat propinsi atau nasional, dan yang para lulusannya telah banyak menjadi orang sukses. Karena berbagi halaman itu (suatu tradisi yang menurut saya agak aneh), maka nama SDN 4 Mimbaan seolah tenggelam. Kalah pamor dengan tetangganya.

Dan, begitu Pak Agus terpilih jadi Kepala Sekolah favorit kedua, gemparlah dunia pendidikan Situbondo. Kok bisa ya? Itu pertanyaan yang diajukan oleh banyak orang.

Namun, bagi saya, itu wajar saja…

Yup. Karena saya kenal baik dengan Pak Agus. Bagaimana tidak mau kenal, kalau beliau menjabat sebagai guru kelas 5 dan 6 di SD saya dulu. Menjadi guru kelas di sebuah SD desa seperti sekolah saya itu (SDN 2 Panji Lor… promosi nih :mrgreen: ) berarti bertatap muka 7 hari dalam seminggu, sepanjang hari, hanya diselingi oleh jam olah raga, kesenian, dan agama yang masing-masing berdurasi 2 jam. Selebihnya adalah milik guru kelas. Apa gak bosan tuh? Jujur saja, nggak!

Bagaimana mau bosan, jika Pak Agus (waktu saya kelas 5 dan 6 itu) mengajar matematika (bidang ilmu beliau yang sebenarnya) dengan begitu menariknya sehingga berbagai persoalan rumit yang belum tentu bisa dipecahkan oleh Einstein pun dapat diuraikan dengan begitu mudahnya (soal ini… hiperbolis aja, bukan arti harfiah, oke? 😉 ).

Bagaimana kami akan bosan, jika dengan piawainya Pak Agus mengajak kami berkeliling dunia, melihat berbagai lokasi menarik yang tersebar di seluruh pelosok Bumi seolah kami benar-benar mengunjungi tempat-tempat itu. Seolah kami benar-benar menikmati angin sepoi-sepoi yang membekukan di puncak K2…

Bagaimana kami akan bosan, jika dengan ahlinya beliau mengenalkan kami pada berbagai mahluk hidup menakjubkan yang berkeliaran di atas permukaan Bumi seolah mahluk-mahluk itu benar-benar ada di dalam ruang kelas…

Dan, secara pribadi, saya tidak akan pernah melupakan beliau… Karena bersama beliaulah yang menginspirasi berbagai mimpi saya.

Dit… Kalau bisa, kuliahlah kamu di ITS atau ITB. Kampus-kampus terbaik di Indonesia. Setelah itu, terserah kamu… Mau kembali ke Situbondo atau mau menjelajah dunia

Waktu itu, dengan polosnya (dan penuh semangat), saya menjawab… “Bagaimana kalau S1-nya di ITS, S2-nya di ITB, kemudian S3-nya di Jepang, Pak? Sepertinya asik tuh…”

Beliau hanya tertawa kecil mendengar optimisme seorang anak kecil dari sebuah dusun kecil di dalam ruang kelas yang kecil itu. (Dan, ternyata, perjalanan hidup telah membawa saya ke tahap ini. Karena itu, saya percaya banget bahwa setiap ucapan itu adalah doa)

Bagi saya, mungkin beliau itu sama dengan Pak Balia-nya Andrea Hirata dalam buku  Sang Pemimpi. Penuh dedikasi, penuh semangat, dan digerakkan oleh sebuah sense serta kesadaran akan pengabdian yang kuat. Masih terekam jelas dalam ingatan saat beliau membuka mantel yang melindungi tubuh dari air yang turun begitu derasnya dan membuat motor beliau (yang usianya lebih tua dari saya) itu mogok. Dan, dengan isengnya, kami berbisik menggosip “Eh, padhana Zorro ye? (terjemahan: mirip Zorro ya?) :mrgreen:

Mengingat berbagai hal itu, saya merasa wajar saja jika beliau terpilih sebagai salah satu kepala sekolah favorit. Oke lah, perjalanan masih panjang dan ini bukan puncak prestasi. Tapi setidaknya, bolehlah seorang murid seperti saya ini memberikan ucapan selamat kepada gurunya (yang disebarkan lewat blog). Selamat berjuang, Pak!

SEMANGAT!!!

Iklan

Seorang teman bertanya pada suatu kesempatan. “Dit, kamu nggak pernah mikir untuk menjadikan dia sebagai pasangan hidup?”

“Kenapa harus mikir?”

“Lha wong kalian itu sudah sangat dekat gitu… Senyumnya selalu mengembang setiap kamu muncul, dan kamu juga selalu ceria setiap kali dia ada di dekatmu. Kamu selalu mencuri waktu untuk bertemu dengannya dan dia juga selalu mencari saat kamu nggak kelihatan. Kalian itu sudah memiliki kualitas yang diidamkan dari pasangan yang mantep. Terus, apa lagi yang menjadi pertimbangan?” tanya teman saya itu dengan penuh semangat.

Saya hanya dapat tersenyum. Tidak ada yang salah dari ucapannya. Namun ada beberapa hal yang tersembunyi, yang belum diketahuinya.

“Jawabannya sederhana saja kok… Karena jika diibaratkan, maka aku adalah Bumi dan dia adalah Langit…”

“Halah, jawaban apa pula itu? Cari alasan saja! Yang jelas dong!” katanya dengan nada jengkel.

Dan saya pun bercerita tentang Bumi dan Langit…

Bumi dan Langit adalah pasangan sejati. Hanya Langit yang dapat meredam keliaran Bumi dan hanya Bumi yang dapat menopang Langit. Jangan tanya tentang cinta di antara mereka, karena itu sama saja dengan bertanya, “Apakah api itu panas?”. It’s in there, in every bit of their existence…

Namun perbedaan di antara mereka membuat Bumi dan Langit tidak dapat bersatu. Karena jika Bumi pergi ke Langit, maka dia tidak lagi dapat disebut Bumi. Dan jika Langit turun ke tempat Bumi, maka dia tidak lagi menjadi Langit. Jadi, mereka tidak mungkin bersatu. Untuk menghargai kualitas hubungan mereka, dan konsistensi mereka dalam mempertahankan sifat pribadi, maka terciptalah Cakrawala. Sebuah tempat imajiner dimana Bumi dan Langit berkumpul, mengekspresikan cinta yang mereka miliki.

“… Nah, sekarang itu aku dan dia sedang berada di Cakrawala…”

Teman saya itu terdiam untuk beberapa lama.

“Tapi Dit, cinta yang tidak sampai itu begitu menyedihkan…”

“Mmm… Nggak juga kok. Buktinya aku dan dia tetap oke aja tuh”

Dan dialog itu pun berakhir…

ps:

Kepada Langit… SEMANGAT ya! Life ends when you stop dreaming. Hope is lost when you stop believing. And love fails when you stop caring. Inget kata-kata ini nggak?

3 September 2007…

Posted: 22 Agustus 2007 in cerita

Dia    : Aku suka kamu, Dit…

Saya : Bener? Aku juga lho…

Dia    : Terus?

Saya : Mau jadi pacarku?

Dialog itu, terjadi dulu… Duluuuuuu sekali. Tepatnya, pada tanggal 7 Januari 1997. Di teras sebuah rumah, di saat hujan datang berkunjung ke kota kami. Hari itu, dia resmi menjadi penghuni pertama pojokan hati yang sudah dipenuhi pemukim gelap :mrgreen: .

Terus, apa hubungannya dengan 3 September 2007…?

Yah, karena “dia” dalam dialog tersebut akan menikah pada tanggal 3 September 2007 besok. Bukan dengan saya, tentu saja T_T. Kami mendapati bahwa jalan yang akan kami tempuh terpisah oleh sebuah penghalang yang tidak dapat kami lewati, setelah berjalan bersama selama enam tahun lebih dua bulan.

Dan besok, tanggal 3 September 2007, dia akan menikah dengan seorang kawan yang dulu juga pernah sekelas dengan kami. Semoga saja pernikahan mereka di-barakah-i dan selalu dilimpahi barakah oleh Allah. Selain mendoakan, apalagi yang bisa saya lakukan? Datang ke pernikahannya naik truk yang dimuati …. kilogram pupuk plus beberapa bahan lain sebagai campuran untuk membuat api yang akan melahap habis area seluas 500 meter persegi? Nggak dewasa banget kan, kalau saya melakukan itu…

Selain itu, saya juga tidak dapat menghadiri prosesi pernikahan itu. Dengan alasan yang terhormat (untungnya). Nggarap tesis! (saya cinta tesis… hidup tesis!!! 😀 )

Yah, begitu lah… Selamat buat Fidjriyah Ramadiantini (jaga-jaga, siapa tahu dia sudah jadi seorang blogger) … Sudah tercapaikah impian dan harapanmu?

satu hari saja…

Posted: 19 Agustus 2007 in cerita, narsis, renungan

Kemarin, adalah hari yang agak aneh. Saya bersenang-senang (I can’t deny it), namun pontang-panting ngatur waktu, kelelahan berjalan jauh (more than 10.000 steps), dan kebanjiran informasi tentang banyak hal.

Sebelum bercerita tentang kemarin, saya harus menceritakan even-even yang terjadi sebelumnya.

Kamis pagi, sobat yang saya hadiri pernikahannya itu menelepon. “Dit, golekno kamar, nang Dago ae, ben gampang nek arep metu… Aku kate ne mrono ambek ojob…” begitu katanya. Nah, karena telepon itu, jadilah sepanjang siang sampai sore itu saya menyusuri Dago bersama seorang kawan. Hasilnya, tidak ada kamar yang kosong pada hari Jumat. Namun pada hari Sabtu, ada satu hotel yang memiliki kamar kosong. Dipesan lah kamar itu setelah meng-konfirmasi pada yang akan menempati. Sabtu, saya dapat kerja tambahan. Menemani dia dan istrinya jalan-jalan. Bolehlah, pikir saya waktu itu.

Hari Jumat malam, sobat saya yang satu itu, menelepon. “Dit, aku sesuk maen nang Bandung… Tapi jemputen aku nang Leuwi… opo kuwi? Leuwipanjang, yo! Terus kancanono aku mlaku-mlaku. Saiki aku wis nang Jababeka“. Heh? 😯

Setelah pulih dari keterkejutan, saya jadi bingung. Langsung lah saya sampaikan bahwa besok teman kami yang sudah menikah itu juga akan datang. Bahkan, sempat saya tawarkan solusi dengan jalan-jalan bareng berempat. “Nggak ah… Aku males ketemu de’e… Mengko nek ketemu lak dadi suwi. Iso kebengen aku balik nang Jababeka…“, begitu jawabnya. Heh? 😯 lagi deh saya… Ada apa dengan mereka ya? Perasaan hubungan mereka itu baik-baik saja, maksudnya ndak ada konflik yang parah…

Wah, besok bakal repot nih… Pikir saya sebelum tidur malam itu…

Sabtu pagi, jam 9, saya sampai di Leuwipanjang. Setelah kelimpungan mencari-cari, saya menemukan sobat saya yang itu sedang duduk manis di pintu masuk terminal, bersandar pada tembok bercat putih yang ada di sana, di sebelah warung makan. Wajar, kalau saya sampai kebingungan mencari-cari dia. Lha wong dia sudah jauh berubah sih…

Pakai busana kasual, rambut panjang, plus beberapa aksesori. Tambah kurus, agak sedikit ‘terang’ 😀 , dan rambutnya itu lho… Ndak lagi kriwul seperti yang dulu. Pokoknya, dia bener-bener jadi cewek! Melihat penampilannya, saya jadi heran. Apakah cowok-cowok Palembang dan Lampung (tempat dia merantau saat ini) itu nggak biasa lihat cewek cakep ya? Kok bisa-bisanya lho, dia masih melajang sampai sekarang (mohon maaf buat cowok-cowok Palembang dan Lampung… saya tidak berniat untuk menjelek-jelekkan, hanya ingin menggambarkan betapa menariknya sobat saya itu) :mrgreen:

Walau penampilan fisiknya banyak berubah, namun dalamnya tidak banyak berubah. Hanya saja, yang membuat saya agak kaget adalah pernyataan bahwa dia sekarang berusaha menjadi seorang yang realistis, dan dia tidak lagi percaya pada power of dream… Yah, itu adalah pilihannya. Saya nggak bisa mengatur pilihan dia… Siapa sih, saya ini? Hanya seorang sahabat dari masa lalu…

Singkat kata, saya mengantar sobat saya itu ke Cihampelas. Menyusuri jalan yang sedang ramai itu dari ujung satu ke ujung lainnya lagi. Masuk ke berbagai FO yang ada di sana, mampir ke Ciwalk, dan kemudian beli oleh-oleh buat Mbaknya yang ada di Jababeka sana. Capek namun menyenangkan… I can’t tell where the fun is, but it’s fun!

Selagi jalan-jalan itu, sobat saya yang datang bersama istrinya itu, bolak-balik sms dan telepon. Minta petunjuk angkutan yang harus dinaiki agar dapat mencapai hotel yang sudah dipesan itu, ngajak ketemuan di Ciwalk atau BIP, pokoknya banyak hal deh… (mohon maaf kepada Afta… bukan maksudku untuk berbohong, tapi, terpaksa nih…)

Malam hari, setelah makan di sebuah warung yang biasanya bersuasana romantis namun saat itu jadi rame gara-gara ada sekumpulan anak SMA yang bertingkah kayak anak kecil (bayangkan; di sebuah restoran yang penuh orang, mereka itu dengan seenaknya teriak-teriak dan kejar-kejaran), saya mengantarkan sobat itu ke Leuwipanjang. Untung masih ada bus terakhir ke Cikarang. Yah, walaupun kelas ekonomi, yang penting bisa balik ke Jababeka kan?

Dari Leuwipanjang, saya langsung menuju BIP, menemui sobat yang datang bersama istrinya itu. Ngobrol ngalor-ngidul tentang masa lalu, masa sekarang, dan masa akan datang. Dia juga bercerita tentang proses ‘mengambil setengah langkah’ yang telah dia lakukan (baca: menikah). Desember kenalan, Januari jadian, April tunangan, Juli nikah. Cepat ya? Bisa nggak ya, saya seperti itu? 🙄

Kami ngobrol di food court atas itu sampai waktunya tutup. Dari sana kemudian naik taksi ke hotel tempat sobat saya itu menginap. Masih jam 10, jadi mereka mengajak untuk singgah, yang dengan sangat terpaksa harus ditolak karena saya ingat tugas mempelajari sebuah game yang tinggal sedikit lagi selesai (ini enaknya kuliah di program studi game technology… tugasnya adalah mempelajari banyak game untuk diserap hal-hal bagusnya agar nanti dapat membuat game yang lebih baik… asik kan?)

Dalam perjalanan pulang menuju kamar kos yang berada jauh di dasar lembah (hiperbola… jangan dipercaya), saya memandangi langit yang dipenuhi bintang. Indah banget, namun setelah agak lama entah kenapa saya jadi merasa agak kesepian. Benar banget kata seorang teman itu… sendiri itu perlu, namun rame-rame itu menyenangkan. Kalau versi saya sekarang, bukan rame-rame itu menyenangkan. Tapi rame-rame yang tidak rame itu menyenangkan (baca: kumpul dengan orang yang dicintai)

Entah kapan saya bisa menyusul sobat saya yang itu… T_T

ps: sobat saya yang kembali ke Jababeka itu baru sampai di tujuan jam 23.45 WIB… tetap kebengen (kemalaman) :mrgreen:

terkadang kita harus sendiri…

Posted: 8 Agustus 2007 in cerita, renungan

dulu…

Bagi beberapa orang, sendiri itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Tidak ada teman yang dapat menyemangati di saat sedang down. Tidak ada bantuan tenaga atau pendapat dalam memecahkan suatu masalah yang sulit. Tidak ada tempat sampah untuk membuang berbagai kekhawatiran dan emosi buruk (baca : curhat).

Namun, ada kalanya kita harus sendiri… Menengok ke masa silam, menerawang ke masa depan (niru Ebiet G. Ade 😀 ) … Mengumpulkan pecahan hati dan jiwa (ini khusus bagi mereka yang baru saja mengalami ‘sesuatu’ yang menghancurkan hati) … Menumbuhkan kembali semangat yang hilang… Menyusun kembali rencana strategis dan taktis… Atau, untuk sekedar mengatur nafas dan mengistirahatkan tubuh yang lelah.

Dalam sendiri, terkadang kita akan menyadari sesuatu yang penting, yang biasanya tersembunyi dari pandangan kita dalam keramaian…

Seperti dalam gambar di atas… Sang model yang keren dan berbodi bagus itu memilih untuk menikmati senja di pantai yang sepi. Sendiri. Mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan memulihkan semangat dalam menjalani hidup dan mewujudkan mimpi

PS: Posting ini dibuat BUKAN dalam rangka pamitan mau menyendiri atau bagaimana. Sekedar mengenang masa lalu saat masih bebas menikmati senja di pinggiran laut nun jauh di sana… SEMANGAT!!!

Pada bagian pertama yang lalu, saya baru sempat bercerita tentang pembuatan film indie secara umum. Belum sampai pada langkah-langkah yang saya lakukan jika saya akan membuat sebuah film. Oke, mumpung hari ini bebas (tinggal presentasi akhir tugas besar besok), sekarang saja saya selesaikan cerita ini. Hanya saja, sebelumnya perlu dipahami terlebih dahulu bahwa yang saya sampaikan ini adalah cerita seorang yang masih sedang belajar membuat film… *ini untuk berjaga-jaga, kalau-kalau apa yang saya sampaikan tidak cocok dengan ilmu pembuatan film yang profesional :mrgreen:

 Agar lebih mudah, saya akan menggunakan contoh kasus saja. Ada penulis skenario yang berbaik hati memberikan karyanya kepada saya. Sebuah kisah berjudul Ali dan Aisyah… Ceritanya tentang perbincangan antara Ali (tukang becak) dengan Aisyah dalam perjalanan menuju apotik untuk membeli obat bagi ibu Aisyah yang sedang sakit.

Pertama, saya akan melakukan break down naskah. Mengkaji naskah itu bersama seluruh anggota tim produksi (karena ini indie, maka tim saya berukuran kecil… 5 orang misalnya). Pada proses ini, kami membuat daftar berisi karakter-karakter yang akan muncul dalam film nanti (Ali dan Aisyah), setting lokasi yang akan muncul (di atas becak yang melaju di jalan raya), dan properti (barang) yang dibutuhkan (becak, kostum). Dalam proses break down juga dapat dilakukan penyesuaian naskah. Misalnya, karena tidak dapat memperoleh becak maka karakter Ali diganti menjadi seorang petugas kebersihan di rumah sakit. Setelah diskusi, maka akan dihasilkan skenario yang baru lengkap dengan storyboard-nya.

Tahap kedua, saya akan menata tim produksi. Siapa yang akan menjadi sutradara (dalam hal ini, adalah saya :mrgreen: ), siapa yang akan jadi kamerawan (bertugas mengoperasikan kamera), siapa yang akan jadi penata artistik (bertugas menata cahaya dan suara), siapa yang akan menjadi unit manager (sering dikenal sebagai seksi sibuk 😀 ), dan siapa yang akan menjadi editor (bertugas meng-edit dalam tahap pasca-produksi nanti). Menjadi sutradara, berarti harus memiliki kemampuan leadership yang bagus. Jangan sampai chain of command terputus, walaupun film yang diproduksi bersifat indie. Sutradara adalah orang yang mengendalikan proses pengambilan gambar. Sutradara adalah orang yang wajib hadir dalam setiap tahapan produksi (pra, proses, pasca). Sutradara wajib menemani unit manager mencari lokasi yang pas. Sutradara wajib ada dalam setiap proses pengambilan gambar. Sutradara juga wajib mendampingi editor pada tahap editing. Karenanya, seorang sutradara itu pasti cool.. 😉 😀

Berikutnya, saya akan melakukan casting. Mencari orang yang cocok memerankan Ali, dan menentukan pemeran Aisyah. Yah, saya tidak dapat menjelaskan terlalu banyak tentang proses ini karena insting (sense) banyak berperan di dalamnya. Sutradara memiliki hak prerogatif dalam penentuan peran. Apalagi dalam sebuah film indie, dimana produser tidak dapat (teorinya) memaksa sutradara untuk memberikan peran tertentu kepada orang tertentu *bahasanya agak bersayap ya?*

Setelah menyelesaikan casting, saya akan berburu lokasi yang pas bersama unit manager. Tentu saja, selain mempertimbangkan kesesuaian dengan naskah, perburuan ini juga harus memperhitungkan kemampuan finansial, ketersediaan power (peralatan produksi itu rak membutuhkan listrik to?), dan berbagai hal teknis lainnya. Selain hunting lokasi, saya juga harus mengecek properti yang disediakan oleh unit, bisa dipakai atau tidak? Karena dana yang terbatas itu harus dimanfaatkan sebaiknya. Kalau perlu, saya akan menyuruh unit untuk meminjam properti kepada orang-orang yang dikenalnya untuk menghemat. Maklum, ini indie gitu loh… 😀

Naskah, storyboard, tim produksi, aktor/aktris, lokasi, dan perlengkapan sudah tersedia, maka dimulailah proses produksi.

Oke semuanya… Kamera siap? Aktor siap? Rolling… Scene 1 Take 1… ACTION!!!….. CUT! CUT! CUT! Woooiiii….! UNIIIIIT!! KAMBING SIAPA ITU??!!! KENAPA BISA ADA DI DALAM LOKASI??!! USIR!!!!!

:mrgreen:

Setelah semua scene diambil, maka dilakukanlah proses editing. Proses ini dilakukan untuk membuang gambar-gambar yang gagal, menambahkan efek, memberikan musik latar (jika perlu), dan kemudian me-render seluruh gambar itu menjadi satu kesatuan yang utuh. Ada banyak software yang dapat digunakan dalam proses ini, namun secara pribadi saya lebih menyukai menggunakan Adobe Premiere Pro (kalau tidak salah, saat ini yang beredar adalah versi 2.0). Namun jika tidak tersedia (harga Premiere yang original sekitar 25 juta), maka boleh lah menggunakan yang lain. Ulead Video Studio (versi 10) atau yang open source (maaf, lupa namanya… jarang pakai sih ^_^). Saat ini, yang dianggap sebagai standar untuk video editing adalah Adobe Premiere Pro… *katanya sih begitu…*

Jadi deh… Filmnya…