pemburu rumah di surga (baca: mak comblang)

Posted: 17 Juni 2008 in narsis

Beberapa tahun yang lalu, waktu saya masih kos di Gebang Lor, Surabaya, pernah ada seorang kawan yang berkata…

Kalau kamu sukses membuat dua orang jadi menikah, maka akan dibuatkan rumah di surga…

Redaksionalnya ndak seperti itu sih🙄 , tapi inti kalimatnya seperti itu. Nah (terlepas dari apakah ucapannya itu benar atau tidak), karena ucapannya itu, beberapa orang kawan akhirnya memutuskan untuk berprofesi sebagai pemburu rumah di surga a.k.a. mak comblang (saya juga…:mrgreen: ). Tidak sampai serius banget sih… Paling hanya men-courage beberapa orang teman yang sedang berusaha mengakhiri masa lajang dan mencoba bergabung dengan klub Under 25 (maksudnya, menikah di bawah atau pada umur 25 tahun). Lumayan sukses loh… Sampai ada terbersit pikiran gokil untuk mendirikan sebuah biro jodoh:mrgreen:

Menjadi seorang pemburu rumah di surga, ada suka dan dukanya. Sukanya tuh, kalau provokasinya sukses. Reward dari kawan yang berbahagia itu, lumayan loh… Waktu itu, minimal ditraktir mi pangsit di warungnya Pak Jali (tukang jualan mi di kampus TF). Kadang juga, lebih elit sedikit, ditraktir nasi sambel Wonokromo (yang bisa bikin orang yang dak biasa pedes sampai tipus). Apalagi kalau sampai menikah… Wah, nama sang pemburu bakal ada di deretan paling atas daftar undangan.

Tapi, ada juga dukanya… Kalau pasangan yang dibidik itu ternyata tidak dapat bersatu karena satu dan lain hal, biasanya para pemburu bakal menjadi tempat buang sampah curhat yang pertama. Karena itulah, salah satu syarat untuk menjadi seorang pemburu adalah harus memiliki kemampuan mendengar dan empati yang baik.

Alhamdulillah, ada cukup banyak kawan satu angkatan saya yang bergabung dengan klub Under 25. Saya tidak mengklaim bahwa itu adalah hasil kerja para pemburu lho ya… Karena kami tidak tahu, apakah provokasi-provokasi yang kami lancarkan waktu itu menjadi bahan pertimbangan pada saat kawan-kawan itu memutuskan untuk bergabung ke dalam klub, atau apakah provokasi itu dapat dihitung sebagai suatu pahala yang layak mendapatkan hadiah berupa rumah di surga🙂 .

Oke. Begitu. Lucunya, sampai sekarang, saya malah masih belum menikah😐 . Sehingga justru menjadi target bidikan pemburu yang lain:mrgreen: . Di kampus sini (ITB), ada beberapa kawan yang mencoba menjodohkan saya dengan seorang teman yang juga masih melajang. Walaupun provokasinya masih kurang sukses, namun saya harus berterima kasih pada mereka. Terima kasih banyak kawan, atas perhatiannya *membungkuk dalam-dalam penuh rasa terima kasih*. Saran ya, kalau ingin menjadi pemburu yang sukses, yang dibidik itu jangan hanya yang cowok (baca: saya) dong. Tapi, calon pasangannya juga… Oke?😉😆

Di sekolah tempat saya mengajar juga begitu. Ada banyak senior dan rekan yang memprovokasi saya untuk menjalin hubungan dan mengakhiri masa lajang. Ada yang mencoba menjodohkan saya dengan anak murid di kelasnya. Ada yang mencoba menjodohkan saya dengan santriwati di pesantrennya. Ada juga yang mencoba mendekatkan saya dengan beberapa rekan guru perempuan yang belum menikah. Dan, ada yang mengenalkan saya pada teman yang beliau temui pada saat menjalani pelatihan. Terima kasih banyak semuanya, atas perhatian yang telah diberikan pada saya. *membungkuk dalam-dalam penuh rasa terima kasih*

Dari banyak pemburu itu, ada beberapa yang kemampuannya itu outstanding. Salah satunya adalah Pak Sandy, guru Bahasa Jerman di sekolah saya. Provokasinya mantep betul. Yang di-provokasi itu tidak hanya saya, namun juga gadis yang coba dijodohkan dengan saya itu. Saya sampai kehilangan kata-kata saat mengetahui kegigihan beliau. Terima kasih banyak, Pak… Mohon bantuannya terus, ya. Maklum lah, walaupun saya ini mantan pemburu, namun kalau disuruh berurusan sendiri dengan seorang gadis itu, jadi grogi (lugunya keluar lagi :oops: ).

Terus, bagaimana tips untuk menjadi pemburu yang baik? Apa saja persyaratannya (selain punya kemampuan mendengar dan empati yang bagus)? Mungkin ada yang bertanya seperti itu. Terus terang, saya tidak dapat menjawab. Karena pengalaman saya sebagai pemburu masih sedikit. Maaf… m(_ _)m

ps to Pak Sandy:

Makasih banyak lho, Pak… Jangan marah kalau saya buat tulisan seperti ini ya. Met liburan (sebentar lagi, sekolah libur kan?), dan titip salam buat Bu April🙂 . Du bist ein guten Lehrer und Freund.

ps zu Meine Liebe (soll ich dich ‘Meine Schaetzi’ rufen?):

Hast du diesen Aufsatz gelesen? Wenn ja, nicht wuetend werden, bitte… Ich habe gesagt dass ich hier mehr expressiv lerne. Oke? ^_^

ps to all:

I am sorry for making another unimportant post. But, I need to express this feeling… Oke? ^_^

ps buat semuanya:

Ada yang mau bergabung dengan korps Pemburu Rumah di Surga?😆

Komentar
  1. suandana mengatakan:

    SEMANGAAT!!!

  2. itikkecil mengatakan:

    resiko disumpah serapahi kalo gagal itu yang bikin saya ngeri.

  3. edy mengatakan:

    saya kurang berbakat untuk jadi pemburu
    kuatir yg diburu malah balik memburu saya😳

  4. takochan mengatakan:

    Jadi, mana undangannya nih? Udah Liebe2 segala tuh kan😛
    *disambit*

    Saya kapok jadi katalis alias matchmaker ini, lebih pusing daripada dua yg bersangkutan, apalagi kalo keduanya jadi musuhan, parah ah😦

  5. sez mengatakan:

    ikutan si kodok..
    he..eh… he..eh.. tanggung jawabnya besar…
    mana seringannya yang mau dijodohin malah ngecengin sayah… (hahahaha….diperbuas :p)

    mau ngajuin pertanyaan iseng yang nyebelin ah…
    “jadi… kapan nich????”
    hihihihihi

  6. suandana mengatakan:

    # Mbak Ira
    Iya sih, tapi itu kan resiko yang sebanding dengan imbalan yang bakal diterima kalau sukses (rumah di surga gitu loh…:mrgreen: )

    # bro edy
    Jah… Itu mah pemburu yang tidak profesional atuh…😀

    # takochan

    Jadi, mana undangannya nih? Udah Liebe2 segala tuh kan😛

    Iya sih, tapi, Liebe itu kan tidak berarti bahwa dia itu sudah bersedia jadi pasangan hidup saya…😀
    Manggil teman pun, boleh menggunakan ‘Liebe’ kok…

    Saya kapok jadi katalis alias matchmaker ini, lebih pusing daripada dua yg bersangkutan, apalagi kalo keduanya jadi musuhan, parah ah😦

    Sama seperti balasan komentar untuk Mbak Ira… Resiko yang sebanding dengan imbalannya, kan?😀

    # sezsy

    mana seringannya yang mau dijodohin malah ngecengin sayah…

    😆

    jadi… kapan nich????

    Errr… May…😈

  7. dnial mengatakan:

    Rumah di bumi aja masih ngontrak😀

  8. suandana mengatakan:

    # daniel😆

  9. panji mengatakan:

    Mudah2an sukses beriringan gelar dapat, jodoh dapat. Amien. Liebe macht unseres Leben bunt und frohlich.

  10. suandana mengatakan:

    # panji
    Amiiinn..

    Liebe macht unseres Leben bunt und frohlich

    Yup… Richtig…

  11. kholis mengatakan:

    mau dong diprovokasi :p
    hehe…

  12. suandana mengatakan:

    # kholis
    wah, sayangnya, saya sudah pensiun jadi provokator😛😆

  13. enimun mengatakan:

    wah saya baru saja jadi matcmaker…

  14. Kakmoly mengatakan:

    Udah nikah kan tapi mas sekarang? 😂😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s