selamat pagi, pak…

Posted: 22 Mei 2008 in pendidikan, renungan

“Selamat pagi, Pak…” sapa seorang anak muda. Sapaan itu ditujukan pada Pak Wagiyono, salah satu rekan saya dalam menempuh kursus bahasa di Jakarta sini, pada saat kami sedang berjalan santai menuju Goethe Institut bersama beberapa rekan lain. Pak Wagiyono ini adalah seorang guru dari Sukabumi…

Sempat bingung dan mencoba mengingat-ingat, akhirnya beliau mengenali bahwa anak muda itu adalah salah satu alumni dari sekolah tempat beliau mengabdi. Senyum Pak Wagiyono pun mengembang, saat anak muda itu mencium takzim punggung tangannya. Senyum bangga. Apalagi saat anak itu bercerita tentang dirinya saat ini. Sayang mereka tak dapat berlama-lama bertukar obrolan karena kami harus segera mencapai Goethe Institut.

Sepanjang perjalanan itu, tak habis-habisnya Pak Wagiyono bercerita tentang muridnya yang satu itu, dengan penuh kebanggaan. Tanpa diminta lho… Dan dengan penuh keceriaan serta semangat tinggi. Kondisi itu berlanjut terus sampai sore hari, waktu saya bertemu lagi dengan beliau di warung Mbak Atun (kami beda kelas, jadi tidak terus-terusan bersama).

Tak bisa tidak, saya jadi tersenyum sendiri (tentu saja, tidak ditampakkan… takut salah dipahami oleh cewek cakep yang makan di meja sebelah :mrgreen: ). Betapa sebuah sapaan sederhana dari seorang murid yang telah lulus sekian tahun yang lalu dapat menjadi obat penambah semangat bagi seorang guru untuk menjalani hari-harinya. Sapaan pendek itu, yang terdiri dari 3 kata, diikuti dengan tindakan fisik mencium tangan, mampu mengubah sebuah hari yang rutin menjadi sebuah hari yang sangat indah sekali (sebenarnya, kalau saya menulis hiperbol begini, pasti bakal dimarahi oleh guru-guru Bahasa Indonesia saya… tapi, sesekali dak pa-pa deh😀 ).

Rasa bangga yang terpancar dari sosok Pak Wagiyono saat kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan Jakarta membuat saya jadi membayangkan. Gimana ya, waktu saya nanti sudah seusia beliau dan kemudian bertemu dengan salah satu murid saya… *menerawang ke masa depan*

Ketemunya itu di sebuah seminar bertaraf Internasional, dimana saya dan dia sama-sama menjadi pembicara 😀 , atau di sebuah bandara saat kami sama-sama hendak boarding 🙂 , atau di jalan saat mobil yang kami kendarai berpapasan 🙄 , atau di sebuah rumah makan saat saya dan ibunya anak-anak sedang candle light dinner :mrgreen:

Oke, cukup menerawangnya😆

Melihat pertemuan Pak Wagiyono dengan salah satu anak muridnya itu, saya jadi nggak habis pikir. Kenapa para pemimpin Indonesia itu banyak yang tidak peduli dengan pendidikan ya???😐 . Banyak sekali kan, kasus yang menunjukkan ketidakpedulian ini. Contoh paling heboh adalah kasus pelecehan seorang guru oleh seorang kepala daerah beberapa tahun yang lalu (yang di Kampar itu, lho…), yang kemudian berujung pada demo besar-besaran.

Atau… setengah hatinya pemerintah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan para guru. Pernah saya mendapati seorang staf di kantor daerah, yang tidak mengetahui bahwa saya seorang guru, menyuarakan protes (tidak dalam sebuah forum resmi, sih) karena merasa bahwa gaji (gaji lho ya😉 ) yang diterimanya setiap bulan itu lebih kecil daripada gaji para guru. Jadi, dia iri gitu lah…

Cuma guru aja…

Begitu salah satu bagian dari ucapannya, yang sempat menyulut emosi yang, untungnya, dapat tersalur secara elegan (mengenang dengan penuh rasa puas:mrgreen: ). Bayangkan. Cuma guru…👿

Dan, sekian bukti ketidakpedulian lainnya. Padahal, waktu ketemuan langsung, mereka (para pemimpin) itu terlihat begitu takzim mencium tangan guru-gurunya.

Kenapa ya? Apakah karena kesalahan kami, para guru, dalam mendidik sehingga mereka itu jadi ingin balas dendam? Mungkinkah? Kalau iya, berarti harus ada perubahan dalam metoda mendidik dong… Tapi, yang bagaimana ya??🙄

Wah, sudah subuh. Stop dulu ah… Lanjut lain kali saja.

SEMANGAT!!!

ps:

Ah… Saya jadi teringat pada guru-guru saya sendiri. Sudah lama sekali saya ndak sowan ke rumah mereka. Maafkan saya ya, Pak… Maafkan saya, Bu… Mohon doanya ya… m(_ _)m

Komentar
  1. suandana mengatakan:

    Kalau saya menulis begini, mungkin bakal ada yang berpikiran kalau guru-guru itu (saya, dalam hal ini) gila hormat ya???😕

    Yah, terserahlah…😀

  2. suandana mengatakan:

    Ah, lupa…

    SELAMAT PAGI, dunia…😀

  3. itikkecil mengatakan:

    sayang sekali banyak yang gak rela kalo gaji guru lebih tinggi dari pns biasa. padahal tanggung jawab guru itu amat besarrr…. coba kalau misalnya anak mereka gak lulus ujian, siapa bakalan disalahin kalau bukan guru😀

  4. cK mengatakan:

    iya tuh…harusnya gaji guru dinaikin.. *ikut berharap*

    yang sabar ya jadi guru. anggap aja tabungan pahala..😀

  5. suandana mengatakan:

    # Mbak Ira
    Itu dia, Mbak… Itu… Kenapa kok bisa begitu ya???
    *dak habis pikir*

    # cK

    iya tuh…harusnya gaji guru dinaikin..

    Amiiiinnn…. *berdoa khusyuk*

    yang sabar ya jadi guru. anggap aja tabungan pahala..😀

    Insya Allah bisa sabar, kok… Kan, profesi ini pilihan hidup saya😀
    Makasih. SEMANGAT!!!

  6. stey mengatakan:

    kemaren liat Tipi, ada guru yang begitu pulang dari mengajar masih harus narik becak sampe jam 10 malam..duuh..

  7. suandana mengatakan:

    # stey
    Itu lah… Padahal tanggung jawabnya sebagai seorang guru itu gede banget, lho… Semoga saja kehidupan beliau segera berubah menjadi lebih baik. Amin😀

  8. nurma mengatakan:

    *sambil nyanyi “pahlawan tanpa tanda jasa” *
    betewe pak, saya juga ‘pendidik’ loh (sama gak ya ama guru??) tapi saya gak mau dipanggil “buk” ( saya kan msh muda 8) ) cukup “kak” atau nama depan saja. Soale fungsi saya emg cuma ngebimbing (eh ‘mengarahkan’) & share pengetahuan ama adek2 kelas aja kok:mrgreen:

  9. achoey sang khilaf mengatakan:

    murid yg hebat🙂

  10. gempur mengatakan:

    itulah kebanggaan seorang guru yang mengetahui nasib anak didiknya…. hormat pada pak guru…

  11. eMina mengatakan:

    assalamualaikum, selamat pagi pak….
    apa kabar? gimana sidang thesis nya?

    maap OOT:mrgreen:

  12. takochan mengatakan:

    ah.. jadi kangen guru sd saya…
    ngeniwei, terawang masa depannya saya aminkan deh:mrgreen:

  13. suandana mengatakan:

    # nurma
    *mendengarkan nurma menyanyi*
    Sebenarnya, saya sendiri sampai sekarang masih merasa belum pantas untuk dipanggil ‘guru’… Mungkin saya lebih pas kalau dipanggil ‘pengajar’😐

    tapi saya gak mau dipanggil “buk”

    Lah, kenapa??? takut cepat tua ya?😆

    # achoey sang khilaf
    yup…😀

    # Pak Gempur
    Iya, Pak… Masalahnya, orang-orang akhirnya cenderung menganggap bahwa dengan penghargaan seperti itu saja, para guru sudah dapat hidup dengan layak dan memberikan usaha maksimal dalam pengabdiannya😕

    # eMina
    Waalaikumsalam… Alhamdulillah baik, dan soal tesis, sudah dijelaskan dalam posting terbaru itu😀

    # takochan

    jadi kangen guru sd saya…

    Obat kangen paling mujarab itu ya… silaturahmi😀

    terawang masa depannya saya aminkan deh:mrgreen:

    Makasiih… Amiiin… *berdoa khusyuk*:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s