ribet

Posted: 20 Maret 2008 in pendidikan, serius

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang rekan sesama penerima Beasiswa Unggulan Depdiknas. Beliau dari jurusan yang berbeda (Desain), namun masih dalam koridor yang senada. Beliau juga seorang guru, yang mengajar di SMK Seni.
Pertemuan kami itu, berlangsung di sebuah warung nasi. Warungnya itu berlokasi di depan BNI, di pojokan jalan Ganesha. Lumayan murah… Lah, ini malah membahas soal warung…👿 Oke, balik ke topik utama!!

Nah, sambil makan, kami ngobrol ngalor-ngidul. Membahas macem-macem, mulai dari tesis, tugas-tugas kuliah, sampai uang beasiswa yang agak tersendat. Sampai akhirnya, waktu lele di piring beliau tinggal tersisa kepala dan tulang belulang berserakan, obrolan kami sampai ke topik tentang awal keberangkatan ke Bandung ini.

Beliau : “Heh? Jadi, sampeyan dulu itu dikirim oleh sekolah toh?”
Saya : “Iya, Pak… Loh, memangnya Bapak ndak dikirim sama sekolah?”
Beliau : “Walah, kalau saya itu ndak begitu… Harus berjuang sendiri, bahkan sedikit dipermasalahkan. Katanya dak boleh berangkat lah… administrasinya belum beres lah… heh, susah…”

Dan, begitulah… Ada banyak cerita sejenis yang pernah saya dengar. Intinya adalah, rekan-rekan guru itu mengalami kesulitan dalam usaha meningkatkan kualitas dirinya. Minimnya publikasi beasiswa, ruwetnya proses perijinan yang harus dilalui (Alhamdulillah, saya tidak sampai mengalami hal ini), dan beratnya meninggalkan keluarga merupakan 3 alasan yang paling sering saya dengar dari teman-teman yang menahan diri untuk mengajukan beasiswa.

Ruwetnya proses perijinan berada di peringkat kedua. Padahal, pemerintah telah menetapkan pendidikan sebagai salah satu sektor yang mendapat perhatian khusus. Alokasi 20% dari APBN di luar gaji merupakan salah satu bukti (yang masih belum terbukti sampai saat ini) akan keseriusan pemerintah terhadap hal ini. Namun kenapa proses perijinan untuk meninggalkan tugas selama belajar itu masih saja ruwet?

Padahal ada banyak rekan guru yang benar-benar serius dalam usaha meningkatkan kualitas dirinya…😦

Ah, ribet! Jadi pusing mikirin hal ini…

ps:

Alhamdulillah, saya tidak mengalami keruwetan ini karena pemerintah daerah di kota tempat asal saya itu begitu concern dengan urusan pendidikan sehingga sangat mendukung setiap kali ada tenaga pendidik yang mengajukan beasiswa, bahkan pada beberapa kesempatan, mengalokasikan dana dari APBD untuk kepentingan peningkatan kualitas tenaga pendidik. Selain itu, urusan perijinan juga dipermudah.

Komentar
  1. suandana mengatakan:

    Tapi, banyak yang tidak seberuntung saya…😦

  2. Sawali Tuhusetya mengatakan:

    beruntung sekali kalo pemda punya komitmen utk melakukan reedukasi bagi guru. Pak adit termasuk guru yang beruntung punya pemda yang bagus dan visioner, hehehehe😆

  3. parbutaran mengatakan:

    hello

  4. suandana mengatakan:

    # Pak Sawali
    Alhamdulillah, Pak… Semoga teman-teman yang lain juga mendapatkan hal yang sama dengan saya… Amiin:mrgreen:

    # riza broker & parbutaran
    hello juga…🙂

  5. Resi Bismo mengatakan:

    Satu hal yang kuran mendapat perhatian pemerintah sekarang adalah reformasi birokrasi. Tanpa hal tersebut dunia pendidikan akan berjalan ditempat, semangat melanjutkan sekolah bisa habis gara2 energi banyak terpakai untuk mengurus tetek bengen yang gak penting.
    Buat boss darma, ente beruntung banget punya pemda yang concern dgn peningkatan kualitas pendidikan. sukses selalu.

  6. suandana mengatakan:

    # Resi Bismo
    Itu lah… Reformasi Birokrasi. Sayangnya, banyak yang tidak peduli dengan hal tersebut😦

    Yah, saya memang wajib bersyukur… Sukses juga untuk bos Ario!😀

  7. dewipus mengatakan:

    halo mas,

    saya juga ingin mengajukan beasiswa unggulan dari diknas, tapi saya bukan guru… kemaren syarat2nya apa aja mas?

    makasih lho sebelumnya.

  8. suandana mengatakan:

    # dewipus
    walaupun bukan guru, juga boleh kok… di angkatan saya, yang benar-benar berprofesi sebagai guru itu hanya 4 orang saja, lainnya dari LPMP, P4TK, dan bahkan banyak yang freelance…

    kalau waktu jaman saya sih, persyaratan yang utama itu adalah TOEFL minimal 475, dan TPA minimal 500 (kalau dak salah ingat), kemudian juga ada tes dari STEI sendiri.

    untuk beasiswa unggulan di jurusan lain, saya kurang tahu…
    😀

  9. dewipus mengatakan:

    Mas, maaf nanya lagi… saya sudah sampai ke tahap TPA, tapi, masya Allah sussaaaah banggggeeeeeeeettttt!!!!!!! saya jadi gak yakin nih, tapi pengen banget dapet beasiswa. Dulu angkatannya Mas yang ikut sampai tahap TPA lolos semuanya nggak? terus nunggu pengumumannya berapa lama jaraknya dari waktu tes?
    he he… makasih lagi ya…

  10. suandana mengatakan:

    # dewipus

    yang ikut sampai tahap TPA lolos semuanya nggak?

    Nggak… Ada beberapa orang yang tidak lolos. Nunggu pengumumannya dak terlalu lama, kok.. Kalau dak salah ingat, dak sampai satu bulan, tapi lebih dari satu minggu. (maaf, sudah lupa:mrgreen: )

    saya jadi gak yakin nih, tapi pengen banget dapet beasiswa

    Yang terpenting ada niat, pasti ada jalan…:mrgreen:
    Tenang aja. Perbanyak doa, tuh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s