bagian 5 : memburu pelangi

Posted: 3 Desember 2007 in cerita

Aku dan dia duduk berdampingan di peron Stasiun Semut [1] yang tidak terlalu penuh. Beberapa menit lagi, dia akan naik Argo Anggrek kembali ke Jakarta. Dia terlihat sedikit capek. Wajar lah… Datang pagi tadi, langsung njujug ke tempatku menjalani seremoni wisuda, keliling kota seharian bersama keluargaku, kemudian setelah istirahat sebentar di tempat kosku untuk mandi dan makan malam, langsung berangkat menuju stasiun. Untung besok hari Minggu, sehingga dia bisa istirahat.

Dia menyandarkan kepalanya ke dinding. Matanya terpejam…

“Keluargamu baik banget ya…” gumamnya pelan.

“Yah, begitulah…”

“Kira-kira… Apa pendapat mereka tentangku?” dia membuka mata dan menatapku, tapi kepalanya masih tetap bersandar ke tembok.

“Aku belum tahu. Tadi Bunda sama sekali tidak menyinggung soal kamu… Kenapa?”

“Nggak, cuma penasaran aja…” dia kembali memejamkan mata.

“Kalau menurutku sih… Bunda senang berkenalan denganmu…”

Dia menegakkan posisi duduknya. ” Benarkah?”

“Dari gelagatnya sih…”

“Apakah…” dia terlihat ragu. “… apakah… beliau tahu… tentang perbedaan antara kita?”

“… Aku nggak tahu…”

“Kamu nggak memberi tahu?”

Aku menggelengkan kepala. “Mana sempat, lha wong tadi kami dak sempat ngobrol berdua gitu lho… Insya Allah besok aku bakal cerita lebih lengkap tentang kita… Tenang aja…”

Dia kembali menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Ada senyum di bibirnya. Senyum pahit. “… saat kita mendekat ke pelangi, kita akan melihatnya semakin jauh… bener juga ya… ucapan itu…”

Aku menatapnya. “…”

**PERHATIAN! PERHATIAN! KERETA ARGO ANGGREK DENGAN TUJUAN AKHIR STASIUN GAMBIR JAKARTA…**

Dia membuka mata. “Well, keretaku sudah mau berangkat tuh…” Kami bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu gerbong no 4, sesuai dengan yang tertera di tiket yang dipegangnya.

“Hei…” kupanggil dia. Dia berhenti di pintu dan membalikkan badan. “…apa maksudmu mengatakan soal pelangi itu..?”

Dia tersenyum. Half-hearted. “Tak usah dipikirkan lah… Aku akan tetap berjalan menuju pelangi… Itu lanjutannya…” Aku berusaha tersenyum.

“…”

“Hei…” kali ini, dia yang memanggil.

“Kenapa kamu tidak memeluk dan menciumku?”

“Kamu pengen?”

“Yah, kalau di film-film itu kan biasanya…”

“Cinta tidak ditunjukkan lewat banyaknya kontak fisik yang terjadi… It’s in your heart…” dia tergelak mendengarnya.

“…terserah kamu lah…” tiba-tiba kereta mulai bergerak. “…kutunggu di Jakarta…” katanya sebelum jarak antara kami terlalu jauh.

bersambung ke bagian 6…

[1]. Stasiun tua di dekat Pasar Turi, Surabaya.

Komentar
  1. caplang™ mengatakan:

    saya tunggu juga di jakarta🙂
    mmm boleh minta no tlp n alamat dia?

    *ditimpuk*

  2. suandana mengatakan:

    # caplang™
    Siapkan akomodasinya ya, bro…😀

    mmm boleh minta no tlp n alamat dia?

    😯 nanti boncengernya itu gimana?

  3. eMina mengatakan:

    “Kenapa kamu tidak memeluk dan menciumku?”

    😯
    ampun…

  4. eMina mengatakan:

    yah,
    i love the rainbow
    i love the rain
    i love the snow
    i love the motorcycle

    itu hal2 yang romantis ‘><

  5. suandana mengatakan:

    # eMina
    Kan, si “Aku” dak mau melakukan itu…😛

    i love the motorcycle… itu hal2 yang romantis ‘><

    😯 motorcycle? romantis? how come?

  6. pencinta pelangi mengatakan:

    lha…belum tau ya?
    coba deh cek di blog saya, tulisan ttg motor,judulnya romantisme motor:mrgreen:

    “Kenapa kamu tidak memeluk dan menciumku?”

    *tetap saja merinding*

  7. almascatie mengatakan:

    cinta kereta, motor, dan alat2 elektronik lain😆

  8. suandana mengatakan:

    # pencinta pelangi a.k.a eMina
    Ngecek nanti ah…

    *tetap saja merinding*

    😆
    eh, tapi… itu beneran lho… saya pernah mendengarnya langsung…😕

    # almascatie
    maksudnya pencinta pelangi itu ya?😆
    atau bung almas sendiri?😆

  9. rima mey mengatakan:

    romantisme ala klasik, tapi akan lebih seru lagi kalau peluk dan cium itu terjadi…

    ehhm, seperti nya jangan lah. ntar jadi ga klasik lagi…

  10. rara mengatakan:

    wow..
    *komen gag penting*
    😀

  11. suandana mengatakan:

    # rima mey
    Kalau peluk dan cium terjadi, bisa-bisa nanti dilaporin ke pengawas blog ini…:mrgreen:

    # rara

    wow..

    Eh? Kenapa❓

  12. adeksetiawati mengatakan:

    kok bersambung lagi sih??????
    cuma mo mastiin lagi nih mas…ini semua kisah nyata mas adit ya??
    aku baca cerbung ini kok hatiku agak miris ya? he..he..he..jadi teringat sesuatu

    *dengan tampang penasaran dan memaksa*

  13. suandana mengatakan:

    # adeksetiawati

    kok bersambung lagi sih??????

    Sebenarnya… dak pengen panjang-panjang, tapi kok ternyata jadi gini…

    ini semua kisah nyata mas adit ya??

    😀 sebagian sih… tapi, dak semuanya…😳

    aku baca cerbung ini kok hatiku agak miris ya? he..he..he..jadi teringat sesuatu

    😆 teringat pengalaman pribadi ya? *menatap curiga*

  14. raddtuww tebbu mengatakan:

    wow,,
    *menatap takjub*

  15. […] 7, 2007 oleh suandana lanjutan dari bagian 5 : memburu pelangi disclaimer : tulisan ini  inspired by true story, jadi bukan true story sepenuhnya… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s