bagian 4 : pilihan itu…

Posted: 1 Desember 2007 in cerita

lanjutan  dari bagian 3 : suatu malam di atas Pottre Koneng

disclaimer : tulisan ini  inspired by true story, jadi bukan true story sepenuhnya… *********************************************************

Aku mengangkat gagang telpon setelah mengucapkan terima kasih pada Rizal yang sudah berbaik hati memberitahu kalau ada telpon untukku. “Assalam…”

“Hei..!” dia langsung memotong sebelum aku sempat menyelesaikan salam. “…I need to talk… Kutunggu di depan kosku… Cepet ya!” dan dia langsung menutup telpon. Dasar orang aneh!!!

Sepuluh menit, aku sudah berada di depan kos-nya. Begitu melihatku, dia langsung bangkit dari duduknya dan menyambutku.

“Bicaranya di warung Pak Yoko aja ya… Aku lapar, nih…”

Kami menuju warung Pak Yoko [1]. Itu bukan nama sebenarnya. Itu hanya nama panggilan yang kami berikan, karena sebelah tangannya cacat (tidak ada maksud buruk dalam pemberian nama tersebut, malah sepertinya beliau sudah mengetahui itu kok) . Warungnya lumayan terkenal karena masakannya enak.

Dia duduk di depanku setelah memesan dua porsi lele goreng. Kemudian diam. Matanya lekat memandang televisi di pojok ruangan. Aku biarkan saja dia begitu. Mungkin dia sedang merangkai kata yang tepat untuk menjabarkan masalah yang dihadapinya secara gamblang, efektif, dan efisien, seperti yang selama ini selalu dia lakukan. Aku tak perlu menunggu lama…

“Pernah nggak, kamu berada di persimpangan jalan?”

“Sering, tiap hari kan aku lewat pertigaan itu…”

“Woi… Aku lagi nggak mood guyon nih…”

“Lah, kamu tanyanya persimpangan jalan… Pertigaan kan juga termasuk persimpangan jalan toh?”

“Bukan yang itu… Yang kumaksud itu, pilihan dalam menentukan jalan hidup selanjutnya…”

“Tentu saja pernah … Kamu sekarang berada di persimpangan kah?”

Dia mengangguk. Dan kemudian kalimat demi kalimat meluncur keluar. Bercerita tentang kebutuhan hidup yang terus meningkat, tentang sedikitnya reward yang didapat dari pekerjaan yang ditekuninya sekarang, dan tentang beberapa penawaran yang diterimanya. Pergi ke ibukota untuk jadi management trainee di sebuah perusahaan nasional, memenuhi panggilan saudaranya untuk bekerja di Kalimantan, mengikuti tes PNS di kampung halamannya sana, atau tetap menjadi guru di kota ini…

“Kamu sudah siap dengan konsekuensinya?” tanyaku setelah dia menyelesaikan cerita panjangnya. “Jika kamu memilih pergi ke ibukota, orang-orang, terutama keluargamu, akan mengharapkanmu menjadi matahari, dan… seperti yang pernah kamu katakan… itu berat!”

“Itu lah…”

“Bagaimana dengan anak-anakmu? Tega kah kamu tinggalkan mereka sekarang? Ujian akhir sudah dekat… Kamu juga pernah bilang kalau kamu mencintai profesimu itu…”

“Aku tahu itu… Itu juga masuk dalam pertimbanganku… Dan…” dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Dan apa…”

“Tentang kita…”

“Kenapa dengan kita?” tanyaku.

bersambung ke bagian 5… 😛

[1]. Berlokasi di jalan Gebang Wetan (kalau belum pindah/tutup), hanya buka dari sore hingga malam. Jam 9, biasanya sudah mulai beres-beres karena persediaan makanannya sudah habis.

Komentar
  1. qzink666 mengatakan:

    Pertamax ya, pak?
    Mengutip kata yg sering di ucapkan pak guru; SEMANGAT

  2. gempur mengatakan:

    Tak nyana tak disangka, ada juga to yang bikin novel di blog?! hehehehehehehehehe

    semangat, pak! – minjem istilah dari Pak Suandana – hehehehehe

  3. eMina mengatakan:

    orang aneh ya?
    hm…..

  4. suandana mengatakan:

    # qzink666
    Yaa… SEMANGAT!!!

    # Pak Gempur😳 Sekedar iseng kok, Pak… Dan, sepertinya, masih lebih bagus yang dibuat sama Pak Gempur… SEMANGAT!!!:mrgreen:

    # eMina
    Iya… aneh…:mrgreen:

  5. eMina mengatakan:

    tapi saya melihat cerita2 bersambung ini kok seperti pengalaman pribadi penulisnya ya.. ‘>_>

    lho, wanitanya udah menikah toh?😯

    wah..klo iya, sya jadi malas baca lagi kelanjutannya -_-

  6. suandana mengatakan:

    # eMina

    saya melihat cerita2 bersambung ini kok seperti pengalaman pribadi penulisnya ya.. ‘>_>

    😆 Jangan terlalu mudah men-judge sebuah cerita seperti itu lah… Memang ada, pengalaman pribadi yang menjadi inspirasi, namun ada juga yang bersumber dari pengalaman ‘pasien-pasien’ yang sering ‘buang sampah’-nya (baca: curhat) di tempat saya:mrgreen:

    lho, wanitanya udah menikah toh?😯

    😯 Eh? Mengambil kesimpulan dari mana tuh? Gara-gara nyebut anak-anak itu kah? Maksudnya kan, murid-murid dari si wanita?😕

  7. takochan mengatakan:

    Jadi, yang mana yang tewas? *dilempar spidol*:mrgreen:
    *masih nunggu sampe bag.7*

  8. suandana mengatakan:

    # takochan

    Jadi, yang mana yang tewas?

    Lihat aja nanti…😈

  9. adeksetiawati mengatakan:

    ga mau comment, baca dulu ampe selesai:mrgreen:

  10. suandana mengatakan:

    # adeksetiawati
    Oke… silahkan…😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s