bagian 2 : 5 liter itu…

Posted: 28 November 2007 in cerita

lanjutan dari dia yang seperti bintang nih… 

Pagi itu, aku bertemu dengannya untuk pertama kali. Dandanan yang aneh, itu komentar pertamaku saat melihatnya. Jelas sekali bahwa dia memiliki obsesi atas bintang. Betapa tidak… Berbagai macam bentuk bintang bertaburan di pakaian, rambut, dan tas yang disandangnya. Terlalu gemerlap jika dipakai untuk menyepi ke pedalaman seperti yang kami lakukan sekarang ini.

Malam itu, sambil menghirup coklat hangat di dekat api unggun, aku bertanya kepadanya. “Kenapa bintang?”

“Karena aku suka…” jawabnya santai. Matanya lekat memandangi purnama yang merajai langit malam.

“Heh?”

Dia tersenyum dan kemudian menatapku. “Seseorang pernah bercerita padaku tentang matahari, bulan, dan bintang. Mereka itu adalah simbol dari diri kita. Matahari melambangkan kekuatan fisik dan akal, bulan melambangkan kebeningan hati, sementara bintang menunjukkan jalan untuk menjadi matahari atau bulan…”

“Bagaimana bisa?”

“Kalau ndak salah, dalam agamamu ada anjuran untuk bangun tengah malam dan kemudian berdoa kepada Tuhan, bukan? Sama dengan bintang… Dia beraktivitas di malam hari. Belajar untuk melatih akal dan berdoa untuk menjaga kebeningan hati. Tahajjud itu selalu ditemani oleh bintang, kata orang itu. Karena itu lah, dia mengatakan kalau bintang menunjukkan jalan… Selain itu, bukankah orang-orang telah menggunakan bintang sebagai penunjuk arah sejak jaman baheula?”

Aku manggut-manggut mendengar ceritanya itu. “Lalu, kenapa kamu menyukai bintang?”

Dia tertawa. “Aku tidak mungkin menjadi matahari. Bebannya terlalu berat. Menjadi matahari, berarti aku harus dapat menjadi pusat kehidupan bagi keluargaku. Matahari itu, laki-laki banget! Kalau bulan, memang identik dengan perempuan… seorang ibu, tepatnya… Dan, aku belum menjadi seorang ibu. Karena itu lah, aku memilih sang penunjuk jalan saja…”

“Jadi, kamu menyukai bintang karena tidak ada pilihan lain? Dengan kata lain, terpaksa?”

Dia diam. Menghirup habis coklatnya sebelum menatapku kembali. “Tidak juga… Aku memilih bintang karena aku melihat kalau peran sebagai penunjuk jalan itu keren banget! Heheheh…”

“Hah?”

“Sudah malam nih, aku ngantuk…”

Dia melangkah menuju tenda. Aku menatap langit… Tidak ada bintang di sana, setidaknya di sekitar sang bulan. Pancaran sinar mereka terkalahkan oleh bulan yang menampakkan bentuk sempurnanya. Bunder sesser, kata orang-orang tua di kampungku.

“Hei..!” panggilnya. Aku menoleh ke arah datangnya suara itu. “…kau harus bertanggung jawab…”

“Heh? Kenapa?”

“Kau telah membuatku mengingat orang itu… Aku nggak bakalan bisa tidur nyenyak malam ini… Karena itu, besok aku bakalan capek…”

“Heh? Tapi…”

“Karena itu…” dia memotong kalimatku. “…besok kamu harus membawakan jatah airku yang 5 liter itu!”

“Tapi…”

“Met tidur…” Tanpa mempedulikan aku lagi, dia langsung masuk tenda. Dan, tinggallah aku nggremeng sendirian…

“Cewek aneh…”

bersambung ke bagian 3…

Komentar
  1. phiy mengatakan:

    Bintang..
    Iya sih, leih enak liat bintang,
    matahari terlalu panas, bulan terlalu romantis.

    Jago ya bikin cerbung..
    iri sayah (- . -)

  2. itikkecil mengatakan:

    “Cewek aneh…”

    anehnya di mana? kalo cuma sekadar minta bawain air, itu bukan aneh. Cuma menggunakan asas manfaat😆

  3. suandana mengatakan:

    # afiy

    matahari terlalu panas, bulan terlalu romantis

    Wah, saya malah dak kepikiran ke sana tuh…😀

    Jago ya bikin cerbung..

    Ah, tidak juga… Belum bisa dibilang jago…😳
    Terima kasih ya…😳

    # Mbak Ira

    anehnya di mana?

    Lah, dak ada angin dak ada hujan kok tahu-tahu minta dibawain air…👿

    Cuma menggunakan asas manfaat😆

    Sering melakukan ya…😈

  4. qzink666 mengatakan:

    (OOT)
    sekedar mengundang pak guru untuk ruwatan di rumah saya..

  5. eMina mengatakan:

    baca dulu, komen belakangan..
    komentar nanti
    nantiiiiiiii bgt:mrgreen:

  6. caplang™ mengatakan:

    saltum tapi tetep cantik kan😛

  7. suandana mengatakan:

    # qzink666
    *berangkat ke rumahnya qzink*

    # eMina
    Hohohoho… Mau nunggu sampai ceritanya selesai ya?

    # caplang™

    saltum tapi tetep cantik kan😛

    Iya… 😳

  8. Sawali Tuhusetya mengatakan:

    Pada bagian ini pesan moral dan spiritualnya terkesan kuat banget, Pak Aditya –boleh menyapanya demikian, kan? — mengingatkan kita untuk selalu dekat dengan alam dan Sang Pencipta.
    *Menunggu bagian berikutnya dengan tidak sabar😆 *

  9. eMina mengatakan:

    –pak guru—
    bukan karena itu sih.

    i always jealous👿

  10. suandana mengatakan:

    # Pak Sawali

    Pak Aditya –boleh menyapanya demikian, kan? —

    Boleh saja kok, Pak… Di sekolah saya memang selalu dipanggil seperti itu…🙂

    *Menunggu bagian berikutnya dengan tidak sabar 😆 *

    Walah… Sampai sebegitunya… Saya jadi malu😳

    # eMina

    i always jealous👿

    😯 Kenapa? Apa yang menjadi sasaran jealous-nya kali ini?

  11. […] November 30, 2007 oleh suandana lanjutan dari bagian 2 : 5 liter itu… […]

  12. amel mengatakan:

    pak adit, aku boleh link pak adit kan? ni baru aja bikin blog.
    saling nge-link ya pak….:)

  13. suandana mengatakan:

    # amel
    Oke… Tapi, link ke tempatmu mana tuh?😕

  14. amel mengatakan:

    amel23.wordpress.com –> ni blog saya pak. pak adit dah saya link lo….

  15. suandana mengatakan:

    # amel
    Oke, nanti tak masukkan blogroll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s