dia mati…

Posted: 21 November 2007 in cerita, renungan

Bangsa kita itu kejam, kasar, dan jauh dari yang namanya simpati… Coba lihat berita-berita lama soal konflik-konflik sosial yang pernah terjadi. Aceh, Situbondo, Maluku, Sambas, dan tempat-tempat lainnya… Lihat foto-foto dan film-film dokumentasi yang ada. Itukah hasil kerjaan orang-orang yang ramah? Coba lihat para pencuri kelas teri yang tertangkap dan ditampilkan di televisi… Rata-rata muncul dalam keadaan menyeramkan. Gak rupo menungso… kata nenek saya.

Kadang jadi terpikir… Bagaimana bisa begitu? Apakah keramahan yang dikatakan sebagai sifat bangsa Indonesia itu merupakan sesuatu yang palsu? Yang muncul semata karena kita merasa minder di hadapan bangsa lain sehingga bersikap seramah mungkin… Ataukah karena kita itu memiliki jiwa pengecut, sehingga terpaksa menekan sifat asli kita yang kasar, kejam, dan sadis, agar tidak ada konflik dengan bangsa lain? … Ataukah karena kita itu munafik?

Beberapa kali saya menemukan orang-orang yang begitu kejam terhadap bangsa (saudara)-nya sendiri sampai layak dijuluki raja tega, namun menyembah-nyembah menunduk-nunduk di hadapan orang dari luar negeri.

Apakah itu karena tidak ada pendidikan budi pekerti dalam kurikulum pendidikan kita, ataukah karena terlalu banyaknya produk cerita/film yang mengandung nilai-nilai kekerasan, atau karena memang itu lah sifat dasar kita?

Tidak, saya tidak mencoba menganalisa penyebab maraknya kekerasan di Indonesia. Saya juga tidak sedang mencoba menawarkan sebuah solusi yang tokcer. Tulisan ini hanya merupakan sebuah curhat saja. Saya belum dapat lepas dari kebiasaan membuat tulisan yang bersifat curhat nih…😐 *lirik eMina*.

Inspirasi tulisan ini adalah sebuah kejadian yang terjadi di kos saya kemarin. Tetangga kamar saya memelihara seekor kelinci berwarna putih bersih dan bermata merah. Lucu dan menggemaskan (walaupun sering buang kotoran sembarangan… T_T). Nah, kelucuan kelinci itu mengundang minat anak-anak tetangga untuk bermain dengannya. Mereka itu sering masuk halaman rumah kos dan kemudian membawa si kelinci ke depan untuk bermain kejar-kejaran.

Awalnya, dak ada masalah. Walaupun waktu istirahat saya yang sedikit itu jadi semakin sedikit gara-gara suara tawa mereka yang ramai. Belum lagi suara derap langkah kaki mereka saat berlari mengejar si kelinci. Cukup untuk membangunkan saya dari sebuah mimpi (untung mimpinya buruk😈 )…

Masalah bermula saat saya hendak keluar dari rumah kos, dan melewati tempat mereka bermain. Salah satu anak kecil itu, dengan tertawa-tawa gembira, ditimpali tawa teman-temannya, mengangkat si kelinci kecil dan kemudian melemparkannya sekuat tenaga ke dinding rumah sebelah. Suara benturan itu demikian kerasnya, membuat saya terkesima dan untuk beberapa saat tidak dapat melakukan sesuatu apa. Sesaat setelahnya, barulah saya dapat menegur anak-anak itu…

Waktu kembali ke kos, saya melihat nenek mereka ada di situ, mengomentari si kelinci kecil yang tidak banyak bergerak, sementara anak-anak itu mengelus-elus si kelinci dengan lembut. Kemudian saya berangkat ke kampus (tidak untuk kuliah😛 ). Pulangnya, saya tidak melihat kelinci itu di depan kamar tetangga saya. “Kemana si kecil itu?” tanya saya.

“Mati, Mas… Kayaknya, ada sesuatu yang patah deh…”

Nah, itulah kejadiannya. Sampai sekarang, saya masih dapat mengingat dengan jelas saat anak itu memegang salah satu kaki si kelinci dan kemudian melemparkannya sekuat tenaga ke dinding. Dan tawa mereka saat melihat si kelinci menghantam tembok dan kemudian jatuh di atas tanah. Sorak kegirangan mereka saat berhasil menangkap kembali si kelinci kecil yang berusaha kabur. Momen saat mereka mengelus-elus dengan lembut si kelinci yang terkapar diam pada saat nenek mereka datang mengawasi juga masih terbayang dengan jelas.

Bagaimana? Melihat ada yang menarik dari kejadian tersebut?

Kalau saya sih, ada tiga hal. Pertama, kejamnya anak-anak itu. Menyakiti mahluk lain sambil tertawa, tertawa melihat perjuangan sia-sia mahluk yang tidak berdaya… Bagi saya sih, itu sudah level cold blooded murderer

Kedua, perubahan sikap mendadak yang ditunjukkan oleh mereka. Mereka langsung anteng di hadapan nenek mereka dan menunjukkan kasih sayang yang begitu besar terhadap si kelinci… Karena apa tuh? Takut kepada nenek, atau karena benar-benar menyayangi si kelinci?

Ketiga, sikap permisif yang ditunjukkan oleh orang-orang (terutama dari keluarga mereka sendiri) dengan berkata, “Ah, mereka itu kan masih anak-anak, belum paham kalau salah…”. Oke, tapi, kapan mereka akan paham? Bagaimana mereka akan paham kalau mereka salah jika tidak ada yang mengingatkan atau memberi tahu?

Ini tugas besar bagi kita semua. Bukannya saya berusaha mengelak dari tugas saya sebagai guru, namun waktu kebersamaan saya dan rekan-rekan bersama anak-anak itu sangat terbatas… Orang tua dan lingkungan merupakan faktor yang memiliki peran lebih besar dalam pembentukan karakter anak-anak. Dari karakter anak-anak, dapat dilihat karakter orang tua dan masyarakat tempat mereka menghabiskan waktu… Juga karakter gurunya🙄

Anyway, si kelinci kecil itu sudah mati. Semoga saja kematiannya memberikan pelajaran bagi tiga orang calon penerus bangsa. Pelajaran tentang kasih sayang, paling tidak… Kalau bisa, juga pelajaran tentang bersikap apa adanya. Yah, semoga… Amin.

 ps:

Gies dan para pecinta kelinci yang lain, jangan terlalu bersedih ya…

Komentar
  1. caplang™ mengatakan:

    bused😯 kejem amat…

  2. rozenesia mengatakan:

    Bagiku, anak-anak adalah awal dari semuanya. Jika sedari kecil terbiasa dengan kekerasan, baik secara ngak langsung…kukira akan mempengaruhi perkembangannya.

    Ah, nanti disambung..

  3. itikkecil mengatakan:

    waduh… kalo dari kecil sudah biasa nyiksa binatang, nanti gedenya bakalan nyiksa orang tuh….

  4. suandana mengatakan:

    # caplang™
    Begitulah… Padahal mereka itu masih kecil banget lho…

    # rozenesia
    Iya… Sepertinya, hampir semua orang menyadari itu. Namun, mereka berharap para guru membuat sebuah keajaiban dengan menghapus semua efek buruk dari kekerasan yang mereka tunjukkan… guru juga manusia!

    # Mbak Ira
    Itu lah yang paling ditakutkan, Mbak…😦

  5. eMina mengatakan:

    ..”lirik emina”

    lha? bapak kok lirik lirik saya…
    genit amat:mrgreen:

    *dihajar*

    ah, komennya saya pending dulu. ditulis dulu di word. akan panjang soalnya.

    dan saya lagi sibuk nih..juga kesal ma orang..
    duh gimana ya..

  6. suandana mengatakan:

    # eMina
    menunggu komennya yang bakal panjang….

  7. phiy mengatakan:

    Di warent tuh ya..
    aduh!!
    Saya suka usep2 dada kalo ngeliat anyak2 imut main game kasar.

    Apa sih itu judulnya?
    Pokoknya yg jadi kek preman2 gitu deh..
    “Grand Theft….” argh! Poho..Lupa XP

    Saya heran knp game ini pasti ada di setiap warnet.
    Bahkan warnet yg baru diri di deket rumah pun ikut2an install game begituan.

    Ga kasian apa sama generasi sendiri.
    Moso disodorin game yg isinya bantai2an.
    Ugh!

  8. abeeayang mengatakan:

    apa masih mao ngaku orang timur?

  9. suandana mengatakan:

    # afiy
    Grand Theft Auto, maksudnya? Game itu memang ‘keras’, terutama yang keluaran baru… Tapi, dulu, saya juga sering main game itu😳

    Tapi, sekarang ndak lagi lho… Bener! *pasang tampang serius, acungkan dua jari tangan*

    # abeeayang
    Iya, bener… Sepertinya, bangsa kita kehilangan identitas nih😦

  10. adeksetiawati mengatakan:

    prihatin, sedih, kesal membayangkan cerita diatas.
    mental dan jiwa seseorang terbentuk dari kecil, dibentuk oleh keluarga, lingkungan sekolah dan pergaulan
    kalo dari kecil udah salah, bisa pengaruh ampe gede tuh
    “bahaya…”

  11. suandana mengatakan:

    # adeksetiawati
    Nah, itu lah… Susahnya, lingkungan pergaulan tempat anak-anak itu bermain sudah parah banget, kacaunya…😦

    Dan, sebagian besar orang itu berharap agar para guru membuat perubahan..! Namun mereka terus saja membuat kekacauan di lingkungan tempat tinggal masing-masing, meracuni anak-anak mereka sendiri…👿
    *curhat ON*

  12. phiy mengatakan:

    Grand Theft Auto, maksudnya? Game itu memang ‘keras’, terutama yang keluaran baru… Tapi, dulu, saya juga sering main game itu😳

    Tapi, sekarang ndak lagi lho… Bener! *pasang tampang serius, acungkan dua jari tangan*

    Tuh kan..
    nyahahaha…
    kamu ketauan..

    Smoga adik2 lainnya bisa tobat seperti Anda
    *angkat dua tangan sembari komatkamit*

  13. ika mengatakan:

    wadoh,,sadis bener,,saya baca sambil meringis nyeri sendiri ngebayanginnya.. maklum bro,saya pecinta binatang, kucing saya aja ada banyak.. *loh kok gak nyambung* ;p

  14. suandana mengatakan:

    # afiy
    Aaamiiiiinn…. *dengan penuh semangat*

    # ika
    begitu lah… super sadis, kalau menurut saya sih… sambil tertawa-tawa itu lho…

  15. gies mengatakan:

    sudah sudah saya tidak tega untuk membaca sampe selesaiii…huuuuuuuuuuuuaaaaaaa kok tega siiihhhh…apa dosa si kelinci?!!!!!

  16. suandana mengatakan:

    # gies
    *ngasih tisu*
    Itulah… Saya juga heran sama kejamnya anak-anak itu…😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s