bumi, langit, lautan, dan awan…

Posted: 18 September 2007 in cerita

Ada yang masih ingat cerita tentang bumi dan langit? Yang dulu itu lho… Nah, ini ada hubungannya dengan cerita itu.

Teman yang sama bertanya lagi pada saya. “Gimana, masih di cakrawala?”, tanyanya sambil tersenyum penuh simpati.

“Masih…” jawab saya, pelan…

“Lah, kenapa kok lemes gitu jawabnya?”

“Ramadhan, jek…”

“Ah, nggak mungkin. Lha wong 5 menit yang lalu masih ceria penuh semangat gitu… Begitu kutanya soal cakrawala, kok langsung lemes. Pasti ada apa-apanya nih…” katanya bak seorang interogator ulung.

“…Oke… Gini… Sebenarnya, cerita bumi dan langit itu ada lanjutannya lho… Mau dengar?”

“Gimana?” dia pun duduk di bangku terdekat.

Saya pun bercerita.

Bumi dan Langit itu nggak dapat bersatu selama Bumi tidak naik untuk menemani Langit di atas sana atau Langit tidak turun mendampingi Bumi. Karena itu ada cakrawala. Ini tidak dapat dibiarkan berlanjut terus. Karena itu, hadirlah Lautan dan Awan.

Lautan selalu mendampingi Bumi, dan dia merefleksikan sifat-sifat Langit. Warna mereka sama dan memiliki sifat yang sama… Hanya saja, Lautan selalu ada di dekat Bumi. Saat Bumi menangis merindukan Langit, Lautan lah yang menampung air mata Bumi yang menjelma menjadi Sungai. Dan, Lautan pun mencintai Bumi…

Awan, memiliki sifat-sifat Bumi. Liar, setia dan tulus. Dan dia pun selalu berada di dekat Langit. Awan pun mencintai Langit. Cintanya begitu dalam serta ikhlas. Saat Langit bersedih, Awan pun ikut menangis. Saat Bumi, yang dicintai Langit, kepanasan gara-gara ulah Matahari, Awan pun menyediakan diri untuk melindungi Bumi agar Langit tidak lagi cemas. Pokoknya, dalam banget deh… Cintanya Awan pada Langit.

“Jadi, intinya, kamu sudah menemukan Lautan, nih?” tanya teman saya tidak sabar.

“Masih belum jelas toh, ceritanya?”

“Oke… Terus, kenapa Bumi nggak milih Lautan itu aja? Toh, si Langit juga sudah bahagia bareng si Awan…”

“Wei, jangan salah… Dalam cerita tadi kan nggak ada penjelasan soal Langit membalas cintanya Awan…”

“Alaahh… witte trisno jalaran soko ngglibet…”

“Belum tentu, lah…”

“Oke… Gak usah mbahas Langit dan Awan. Kamu belum jawab pertanyaan tadi. Kenapa Bumi nggak milih Lautan untuk jadi pendamping?”

“Itu karena Bumi nggak mau menjadikan Lautan sebagai bayangan Langit. Bumi, sesuai sifatnya, ingin mencintai Lautan (jika lho ya…) sebagai Lautan. Paham maksudku…”

Teman saya menggelengkan kepala…

“Gimana ya, ngejelasinnya… Susah, nih… Mmm…”

“Ngomong-ngomong…” dia memotong saya. “… yang mana sih, Lautan?”

“Heh?”

“Yang mana, yang kamu sebut Lautan itu? Kalau Bumi itu kan kamu… Trus, Langit itu kan dia… Nah, Lautan itu yang mana?”

“Nggak ada…”

“Jangan bohong…”

“Suer… Hehe… Nggak ada… Itu kan lanjutan cerita Bumi dan Langit. Nggak ada hubungannya dengan aku sebagai Bumi dan dia sebagai Langit…”:mrgreen:

“HEEEEHHHH???!!! Jadi dari tadi…” dia terus nggrundel panjang-pendek.

“Hehehe… Sori, teman…”

Jadi, begitulah, lanjutan kisah Bumi dan Langit. Sebenarnya, dalam tatanan kisah saya sebagai Bumi dan dia sebagai Langit, memang telah muncul Awan. Lautannya belum. Beneran! Belum ada Lautan dalam kisah yang ini.

Tapi, jika seandainya nanti muncul, apa yang sebaiknya saya lakukan ya? Menjadi realis? Atau tetap keras kepala menjaga cinta…?

ps:

Kepada Langit… SEMANGAT!!!

Komentar
  1. itikkecil mengatakan:

    Cinta yang bener-bener tidak terbalas… kok sayah jadi terharu dan sedih.
    pilihan yang sulit…. Kalau masih ada perasaan cinta pada langit tapi ada lautan yang hadir….
    tapi sebelum memilih, sebaiknya jujur pada diri sendiri dulu, apakah perasaan pada lautan itu tulus atau cuma pelarian saja…

  2. suandana mengatakan:

    # Mbak Ira
    Bukan, Mbak… Bukannya tidak terbalas… Tapi, kami nggak bakalan bisa bersatu dalam sebuah lembaga resmi (baca: menikah), selama tidak ada yang bersedia berubah🙂

    Dan, lautannya belum ada… Bener! Yang sudah muncul itu, Awan…

    Kalaupun ada, saya inginnya ya mencintai Lautan sebagai Lautan, bukannya pantulan Langit…

    Benar-benar mengharukan dan menyedihkan kah? Kok saya nggak merasa begitu ya?

    Mungkinkah karena saya ini orangnya kurang sensitif ya?

  3. itikkecil mengatakan:

    Mungkinkah karena saya ini orangnya kurang sensitif ya?

    mungkin😀

    iya deh saya ralat, cinta tak sampai….. *halah*

  4. suandana mengatakan:

    # Mbak Ira
    Wahahaha… Ternyata saya ndak sensitif… *bangga*:mrgreen:

  5. caplang™ mengatakan:

    kenapa mesti berubah, bro?
    bukannya lebih indah saat kita bisa menerima secara utuh?

  6. gies mengatakan:

    kenapa harus berubah untuk bersatu? jadi penasaran, apa yg harus diubah? bukankah di dunia ini adanya perbedaan adalah suatu keharusan?

    OOT: ada PR di blog saya buat kamu, hihihi

  7. Liezmaya.web.id mengatakan:

    sayamah dukung ajah hehe

  8. Takodok! mengatakan:

    Tapi, jika seandainya nanti muncul (Lautan–nambain sendiri), apa yang sebaiknya saya lakukan ya?

    Ya…nyelem, berenang, mancing:mrgreen:
    Ya gak ding, berlayar ajah kayak nenek moyang *tambah ngaco*

    Mas, dalemnya perumpamaannya. Tapi, kayaknya mas nunggu si aer laut deh. Lagian, BUmi itu kan ada lautnya, satu kesatuan. Trus bisa aja langitnya capek di atas terus, trus pengen ngaso bentar di bumi. Hayoooo… *bikin bingung*

    Hoho!:mrgreen:

  9. Takodok! mengatakan:

    Eh, tebak kalo langit+bumi nyatu, kiamat dong!:mrgreen:

  10. suandana mengatakan:

    # caplang™ & Gies
    Memang, perbedaan itu akan membuat pasangan saling melengkapi. Namun, khusus untuk perbedaan yang dimaksud di sini itu, harus ditiadakan. Harus sama… Kalau ndak, ya dak bakalan bisa bersatu…

    Bisa nebak, apa yang harus diubah? *mikir* Apa dibikin sayembara aja ya?

    # Gies
    Makasih PR-nya… Ditunggu ya…

    # Liez
    Terima kasih atas dukungannya… SEMANGAT!!!

    # Desti

    Eh, tebak kalo langit+bumi nyatu, kiamat dong!

    *mikir* mungkin juga ya… Makanya, salah satu harus ngalah… Biar yang bersatu nanti bukan Bumi dan Langit, tapi Bumi dan Bumi:mrgreen:

    *mikir lagi* berarti, Desti setujunya sama si Lautan ya…

  11. Takodok! mengatakan:

    Saya sih setujunya sama yang terbaik ajah mas, entah laut ato langit, walau menghancurkan. Kalo yang terbaik itu hancur mo gimana lagi *ngawur tingkat tinggi*

  12. suandana mengatakan:

    # Desti
    Iya juga ya… Kalau yang terbaik itu hancur… Eh, tapi nggak ah, saya belum nikah soalnya:mrgreen:

  13. gies mengatakan:

    rasanya saya bisa menebak apa ‘perbedaan’ itu, semangat!! yaa!

  14. suandana mengatakan:

    # Gies

    rasanya saya bisa menebak apa ‘perbedaan’ itu

    Benarkah? Jadi, sebaiknya gimana nih?

  15. […] dijadikan tempat tinggal. Apalagi ada embel-embel ’selamanya’… Apalagi sejak ada Awan… Sama sekali nggak nyaman tuh. Kalau tidak percaya, saya bersedia kok kalau ada yang mau […]

  16. vins mengatakan:

    i love you, bibeh

  17. flo mengatakan:

    Mmmnnnnn….
    Sma, aq ama dia juga langit dan bumi….
    Susuah disatukan, apalagi sekarang uah sangat terlambat untuk bersatu…
    Tapi kami masih yakin dan kami tetap bermimpi, walopun kalo terbangun sakit banget rasanya…
    Tapi mimpi itu ternyata bisa bikin kami hidup…

  18. Ray mengatakan:

    “Cinta (sejati) adalah pengorbanan, setia, dan tulus ikhlas” ???

    Lautan cinta Bumi, Bumi cinta Langit.
    Awan cinta Langit, Langit cinta Bumi.
    Tapi… kayaknya Bumi deh yang jadi primadonanya…

    bener-bener kisah cinta yang rumit….
    Yang satu melakukan pengorbanan. yang satunya lagi tetap setia & tulus sama pasangan. Mungkin karena kesetian & ketulusan tersebut ia tidak ingin menyakiti perasaan ia yang telah melakukan pengorbanan kepadanya. Karena ia tau ia tidak dapat mencintainya, meskipun ia telah melakukan pengorbanan. Ia tetap tidak dapat mencintainya karena ia tau ia memang tidak mencintainya & ia tidak ingin menyakiti persaannya yang jika di cintainya, ia hanya akan menjadi “cermin” dari yang benar-benar di cintainya. Karena ia tau cintanya setia & tulus kepada yang memang dicintainya.

    Hmmm….
    Cinta yang tak berbalas…. tetapi mendapat kebahagiaan yang sulit di mengerti.
    Rada aneh & rumit memang kalau membahas cinta apalagi jika harus di hadapkan dengan kesetian, ketulusan, & pengorbanan.

    Soal cinta memang hati ngak bisa bohong. Tapi kalau soal rasa, lidah ngak bisa bohong. Hehehe….

    Tapi gue salut deh… sama pengorbanaan yg ikhlas yg dilakukan oleh Awan & Lautan. Eeehh… gw juga salut sama pendirian Bumi yang setia sama Langit.

    Semuanya Muanthab…!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s