Di balik kata magister

Posted: 18 Juli 2007 in pendidikan

Saya dihajar!

Apa sih maknanya S2 itu? Kenapa dia diberi gelar magister/master? Apa bedanya dengan S1 atau level sarjana? Apa pula yang membedakan dengan tingkatan S3 atau doktor? Kenapa Anda bersedia susah-susah belajar lagi, jadi mahasiswa lagi, jadi anak kos lagi? Padahal dengan gelar sarjana pun Anda sudah mendapatkan penghasilan yang cukup untuk mewujudkan impian-impian Anda?

Saya jadi terdiam agak lama… Bingung harus menjawab bagaimana. Tapi pertanyaan demi pertanyaan terus menghambur dari Bapak itu, seperti rentetan senapan mesin Browning M2 .50 cal.

Apa Anda sudah merasa pantas menyandang gelar sarjana sehingga dengan sombongnya PD-nya datang ke tempat ini untuk memperoleh gelar magister?

Berkunang-kunang rasanya, mata ini… Emosi mulai naik, tapi masih bisa ditahan walaupun harus mengerahkan segenap daya upaya. Sampai pada suatu titik, dimana suara Bapak itu tidak lagi terdengar. Waktu seolah berhenti (bukti kebenaran teori Einstein simultaneous relativity). Gemuruh mesin otak yang sedang bekerja keras begitu jelas terdengar (hiperbola nih, tidak usah dipercaya:mrgreen: ). Kesadaran pun datang menyapa (ini juga hiperbola).

Bapak itu tidak sedang ingin berantem. Lha iya lah… Kalau beliau memang ingin berantem, bakal hancur dia dihajar 32 pasang tangan-tangan kokoh nan kuat yang sekarang terkepal itu. Beliau ingin memberikan sebuah pencerahan kepada saya kami.

Sarjana itu, adalah orang yang mampu melakukan pemecahan masalah menggunakan suatu metoda. Analisa dari suatu kasus, yang diwujudkan dalam bentuk skripsi atau TA atau apapun itu namanya. Itulah yang dilakukan oleh seorang sarjana. Jadi, tidak masuk akal jika seorang sarjana tidak memahami prinsip-prinsip analisa!!

Saya diam saja. Entah kenapa kok mulut ini seperti terkunci…

Magister itu, semestinya berada di level yang lebih tinggi dari seorang sarjana. Metoda pemecahan masalah yang dipahami dan dikuasai, tidak hanya satu. Seorang magister mampu mengetahui dengan cepat, metoda mana yang lebih baik untuk memecahkan suatu masalah. Magister memahami alasan apa yang membuat metoda A lebih baik daripada metoda B. Nah! Itu adalah ciri seorang magister!

Nah! Kalau doktor, mereka adalah orang-orang yang mampu mengembangkan metodanya sendiri, dan mampu menunjukkan perbedaan serta keunggulan dari metoda itu. Bagaimana doktor mampu mengembangkan dan mempertahankan metodanya sendiri? Ya dengan mempelajari metoda-metoda lain yang sudah ada lebih dulu! Apa keunggulannya… Apa kelemahannya…

Saya masih terdiam mendengar penjelasan beliau. Tapi tangan ini sudah tidak terkepal lagi (entah dengan 31 pasang tangan yang lain). Api yang menyala dalam dada tadi sudah mengecil… Keinginan untuk berdebat sudah hampir hilang.

Saya tidak akan mempermasalahkan alasan Anda datang ke tempat ini… Itu adalah urusan pribadi masing-masing. Yang saya inginkan adalah Anda semua memahami bahwa yang tadi saya sampaikan itu adalah mind set yang harus terpatri dalam alam pikiran Anda semua… bla… bla….

Fiuh… Tanpa sadar, pada akhir kuliah itu, baju saya basah oleh keringat. Bukan… Bukan karena dihajar sama Bapak itu, tapi karena AC di ruangan tersebut mati, dan waktu itu Bandung sedang panas, dalam artian sebenarnya. Sumuk! Sebenarnya, masih banyak yang disampaikan oleh Bapak itu, dan layak untuk diangkat jadi bahan posting di lain kesempatan. Tapi untuk sekarang, saya merasa apa yang beliau sampaikan sudah cukup ‘berat’ (bagi saya setidaknya). Karena itu, supaya tidak menular kepada yang lain, saya cukupkan sampai di sini dulu cerita tentang beliau…

Mendapatkan tambahan magister di belakang nama (ada nggak ya, gelar S2 yang diletakkan di depan?)… Ternyata tidak semudah apa yang saya bayangkan selama ini. Oke, mungkin ada yang menertawakan. Yah, pak guru ini gimana sih? Ngambil S2 kok ndak paham konsekuensinya… 😆 . Dak pa-pa, saya terima kok diketawain karena itu *sok sabar, padahal sudah nyiapkan senapan sniper Magnum di dekat meja komputer*👿

Yang pasti, setelah dihajar habis-habisan begini, saya harus berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kriteria sarjana dan magister yang sebenarnya. SEMANGAT!!!

ps: sebenarnya, kata SEMANGAT itu ingin diucapkan keras-keras sambil mengepalkan tangan dengan penjiwaan penuh, tapi gak jadi karena ada beberapa akhwat di dalam ruangan tempat saya menulis posting ini. Sungkan nih…:mrgreen:

Komentar
  1. itikkecil mengatakan:

    sekarang ini banyak orang yang sekolah lagi (ngambil gelar magister) cuma untuk gelarnya saja…. Jadi, bagus juga sih bapak itu kasih tau ke para mahasiswanya, biar gak buang duit sia-sia…
    Jadi…. AYO SEMANGAT……….

  2. Takodok! mengatakan:

    Sepertinya kata SEMANGAT!!! sudah melekat sama mas adit ya?🙂
    Tapi iya, smangat!
    Si Bapak itu sepertinya berniat baik, tinggal niat ditanggapin baik ato tidak. Sepertinya bisa jadi “cambuk”, untuk mahasiswa parasit seperti saya juga tentunya.

    ps: sebenarnya, kata SEMANGAT itu ingin diucapkan keras-keras sambil mengepalkan tangan dengan penjiwaan penuh, tapi gak jadi karena ada beberapa akhwat di dalam ruangan tempat saya menulis posting ini. Sungkan nih…

    Hehe😉 :mrgreen:

  3. az&fa mengatakan:

    sekarang kayaknya udah gak da siapa-saiap kahn??
    ayo teriak!

    SEMANGAT

    sambil kepalkan tangan…🙂

  4. deking mengatakan:

    Yah asal jangan seperti istilah yang dipopulerkan Pak Urip-Helgeduelbek
    Jangan jadi masterbasi😀

  5. ninoy mengatakan:

    hemm…baca postingan ini mbikin saya malu sendiri….soalnya saya juga berkeinginan kuliah-kuliah-kuliah…terus sampe dapet doktor, tapi pas udah baca postingan ini, jadi mikir apa saya ngerti konsekuensi dari mau saya itu ? hehe

  6. suandana mengatakan:

    # Mbak itikkecil
    Iya, Mbak… Memang begitu alasan beliau (dikonfirmasi setelah selesai kuliah).
    SEMANGAT!!!

    # Mbak Desti
    Kalau dilihat dari penampilannya, Bapak itu memang pantas menjadi pembawa ‘cambuk’ kemana-mana…
    SEMANGAT lagi!!!:mrgreen:

    # az&fa
    SEMANGAT!!!!!

    # Mas Deking
    Nauzubillah tuh Mas… Jangan sampai itu terjadi
    *pasang tampang serius, sambil mengepalkan tangan penuh tekad dan semangat*😀

    # ninoy
    Ah, dak perlu malu… Sekarang kan sudah bisa mereka-reka konsekuensi dari keinginan tersebut?

    never give up on the dreams of your heart, no matter how far off they seem at the start

    Paling juga mengalami seperti saya… Dihajar:mrgreen:

  7. cya mengatakan:

    iyaa semangaaaaat!!
    *meneriaki diri sendiri*

    lalu bertanya apa krn aku masih belum memahami prinsip2 analisa makanya ndak lulus-lulus ya? wkwkwkw

  8. suandana mengatakan:

    lalu bertanya apa krn aku masih belum memahami prinsip2 analisa makanya ndak lulus-lulus ya? wkwkwkw

    Loh, bukannya skripsinya sudah disetujui? Tinggal wisuda kan?

  9. Kangguru mengatakan:

    Gelar ya gelar ilmu ya ilmu, ngak harus beriringan kan

  10. suandana mengatakan:

    # Kangguru
    Iya, memang begitu, Pak… Tapi, sayangnya, sekarang banyak orang yang memandang bahwa gelar dan ilmu itu ‘harus’ beriringan. Ini juga disetujui oleh Bapak itu (konfirmasi setelah kuliah berakhir). Akhirnya, kata beliau, ya sekalian saja dibuat definisi yang senada dengan anggapan umum itu…

  11. mina mina mengatakan:

    duh jdi ingin kuliah lagi T_____________________T

    semangat!!!

  12. uwie mengatakan:

    Gambate kudasai ya Mas Adit.. !!🙂

  13. suandana mengatakan:

    # Bu Mina & Mbak Uwie
    SEMANGAT! SEMANGAT!! SEMANGAT!!!😀

  14. Domba Garut! mengatakan:

    Ayo, yang ngaku-nya pemecah masalah – coba datang kesini agar bis ambantuin kita mecahin masalah di negeri si bau kelek ini..

    Disadari atau tidak kita sebenernya juga menjalani kuliah [kehidupan] setiap harinya – life is a long-lasting learning process..

    Semoga kita2 bisa jadi sarjana [kehidupan] yang berhasil yah😀

  15. suandana mengatakan:

    # Domba Garut
    University of Life memang tidak akan pernah berakhir, Pak…

    Semoga kita2 bisa jadi sarjana [kehidupan] yang berhasil yah😀

    AMIN!!! SEMANGAT!!!
    *meng-amin-i dengan penuh semangat😀 *

  16. cakmoki mengatakan:

    mau ikut neriakkan semangat gak jadi, nunggu 17 agustus aja🙂
    Katanya sih, setelah dapat tambahan gelar, trus menggelar shooting foto berdua, hahaha
    Amin

  17. chiw imudz mengatakan:

    terinspirasi, dan jadi pengen bikin postingan “di balik kata sarjana”

  18. suandana mengatakan:

    # Cak Moki
    Amiiiiiiinnnn *dengan berlandaskan semangat 17 Agustus*
    😀

    # Siwi
    Tak tunggu…

  19. suandana mengatakan:

    # Cak Moki
    Amiiiiiiinnnn *dengan berlandaskan semangat 17 Agustus*
    😀

    # Siwi
    Ditunggu lho ya…

  20. sezsy mengatakan:

    aduh…baru mau mulai s2, baca postingan kaya’ begini…
    jadi malu…
    soalnya begitu lulus s1 aja masih harus banyak belajar supaya bisa gawe…eeee, ini gawe belun bener udah mau s2.. beda jurusan pula….
    aduuu…semangatin dooonkkkk :p

  21. suandana mengatakan:

    Pengalamannya sama tuh…

    Katanya tetap di penerbangan, kan?

    aduuu…semangatin dooonkkkk😛

    Sepertinya ada yang lebih berkompeten untuk melakukan itu deh…😉

  22. za mengatakan:

    Kunjungan kali pertama, salam kenal. Memang ngambil apa di Magister STEI-nya?

  23. suandana mengatakan:

    # Mas Za
    Salam kenaaaaaal… Ngambilnya Game Technology, sebuah jurusan baru

  24. wedulgembez mengatakan:

    Magis = Magic = Sulap

    Ter = bahan pelapis jalan yang warnanya hitam

    Magis+ter = Sulap Hitam

    wah salah ya?

  25. suandana mengatakan:

    # wedulgembez
    Magister = sulap hitam? Hehehe… Boleh juga tuh!
    *nyiapin telor plus jarum buat praktek sulap hitam…
    target: wedulgembez*:mrgreen:

  26. nrkhlsmjd mengatakan:

    wah ngambilnya gametech ya…
    ngapain jauh2… di its (elektro) juga buka…😀
    *ngiler pengen s2 juga*

  27. suandana mengatakan:

    # nrkhlsmjd
    Sebenarnya, usul ke Kasek dulu di ITS aja… Tapi, kata beliau, “Pak Adit kan sudah pernah di ITS, ngapain di sana lagi? Lihat yang lain dong…”

    ngiler pengen s2 juga

    Ayo, SEMANGAT!!!

  28. Andra mengatakan:

    Mustinya yang layak ngelola program s2 N s3 ADALAH :

    UGM
    ITB
    UI
    N PTN LAINNYA..

    BIAR BERKUALITAS

    • Jefri Makassar mengatakan:

      Misi gan numpang bercelote juga yeah… heeheh

      Kalau menurut saya, sebagai generasi muda hendaknya kita tidak muda untuk menyerah dan jatu semangat,,, apalagi bila kesempatan untuk meraih impian itu masi sangat besar. Intinya, Setiap orang punya Hak untuk berpendapat, tinggal kitalah yang “syukur-syukur” suda memiliki sedikit bekal ilmu pengetahuan serta moral yang baik, yang bertindak untuk memposisikan diri “pada kondisi tertentu”. ayo!! mencoba untuk belajar “memandang setiap permasalahan tidak hanya dari satu sudut pandang”

      “””Tidak bermaksud menggurui namun hanya sekedar mencurahkan Isi hati”””

      Semangat!!!!… Do your Best.

  29. nendar mengatakan:

    sekolah itu bukan saja mencari gelar tapi lebih dari itu, kita bisa belajar secara langsung dari ahinya. banyak hal yang kita bisa dapat dari sebuah perkuliahan. bukan hanya ketemu dosen, kita juga akan bertemu teman-teman yang mempunyai ide,pengalaman,bertukar pikiran,memperluas persaudaraan sehingga bisa mengembangkan ide-ide cemerlang yang kita punya. maaf, jika belum melakukan jangan mengira-ngira dan berprasangka terlebih dahulu,karena prasangka datangnya dari saeton. perlu diketahui, pendidikan adalah investasi peradaban.

  30. indra mengatakan:

    saya suka artikel ini. terima kasih

    indra
    seorang sarjana yg msh merasa di level diploma 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s