Dolanan Masa Silam

Posted: 4 Juli 2007 in pendidikan, renungan

Beberapa hari terakhir, salah satu teman saya mengajak dua putrinya ke kampus. Dua putri kecil yang senang sekali bermain dan penuh rasa ingin tahu. Salah satu dari dua anak kecil itu, begitu senang bermain tanpa takut pada yang namanya kotor. Yang selalu mengundang emosi dari ibunya. Padahal kan ada R***o ya? Yang mencuci sendiri itu lho…😀

Kemarin, sambil menunggu datangnya dosen (yang akhirnya ketahuan kalau sedang ada urusan di Jakarta), saya dan beberapa teman, termasuk ibunya Via dan Putri, ngobrol panjang lebar tentang anak-anak dan dolanan. Kami membandingkan apa yang dimainkan anak-anak jaman sekarang dengan apa yang kami mainkan waktu kecil dulu. Konkritnya, kami membandingkan P*2 dengan Dakon, membandingkan softball dengan kasti. Juga membandingkan gelanggang remaja dengan lahan sawah yang baru dipanen tempat kami bermain dulu.

Menariknya, mayoritas dari kami yang berdiskusi sepakat bahwa dolanan yang kami mainkan di masa kecil itu memiliki lebih banyak manfaat daripada mainan anak-anak jaman sekarang. Gobak sodor melatih kemampuan olah fisik, olah strategi, dan kejelian membaca situasi serta menciptakan sebuah kesempatan. Dakon melatih kemampuan berhitung dan kejelian mengatur strategi. Petak umpet melatih kreatifitas, kesabaran serta keberanian (coba bayangkan; waktu main petak umpet dulu, teman-teman saya itu ada yang bersembunyi di bawah jembatan bambu yang melintang di atas sungai besar depan rumah, bahkan ada yang bersembunyi di balik tembok kompleks makam di seberang sungai). Di atas semua itu, dolanan-dolanan masa silam itu juga mengajarkan satu unsur penting. KEBERSAMAAN.

Kalau tidak percaya, coba diingat. Adakah di antara dolanan-dolanan masa silam itu yang dapat dimainkan seorang diri? Adakah di antara dolanan-dolanan masa silam itu yang tidak melibatkan interaksi dengan anak-anak lain? Kalau seingat saya sih, tidak ada. Semuanya memerlukan partner. Semuanya memerlukan lawan atau rekan yang memiliki kepribadian masing-masing, sehingga perlu dikembangkan manajemen psikologi dalam menangani konflik-konflik yang mungkin akan muncul. Pada waktu dolan itulah, biasanya mulai terlihat bakat dan potensi yang tersimpan dalam diri seorang anak.

Diskusi itu membuat saya jadi teringat pada masa kecil dulu. Waktu itu, anak-anak satu RW sering kumpul di halaman rumah saya yang terbilang paling luas walaupun terletak di pojok desa dan ‘mewah’ (mepet sawah). Tapi justru karena mewah itu, di malam-malam yang hangat di musim kemarau, rumah saya menjadi lokasi paling ideal untuk bermain sambil menikmati sinar bulan. Mulai turun ngaji sampai jam 9 sembilan malam (waktu itu, acara TV sama sekali tidak bisa menyaingi asiknya bermain kejar-kejaran, dan me-nembang rame-rame), dan akhirnya harus mandi lagi karena gatal-gatal akibat keringat bercampur debu😀 . Ah, it was fun.

Dalam diskusi itu juga terungkap kekecewaan kolektif yang kami rasakan. Kami sama-sama kehilangan dolanan-dolanan itu. Sudah jarang kami melihat sekelompok anak yang bermain gobak sodor. Sudah lama kami tidak menemukan alat permainan dakon. Sudah lama pula kami (saya, lebih tepatnya) tidak mendengar suara-suara kecil yang menembangkan dur…salendur…salendurra noro’ bunte’… . Padahal manfaat dari dolanan-dolanan itu begitu besar. Bandingkan dengan bermain Age of Empire, Final Fantasy series, atau Counter Strike dan Ragnarok yang hanya meningkatkan keterampilan jari dan justru membuat anak-anak sekarang terasing dari dunia nyata. I know, because I’ve played them all.🙂

Kadang saya jadi kepikiran untuk membuat ‘sesuatu’ (bisa berupa web atau buku manual dolanan atau sesuatu yang lain yang belum pernah terpikirkan) yang dapat digunakan untuk melestarikan dolanan-dolanan masa silam itu. Sayang kan, kalau sesuatu yang memiliki begitu banyak manfaat bagi anak-anak, hilang begitu saja. Ada ide?

Komentar
  1. chiwimudz (ga login) mengatakan:

    whaaa…jadi inget masa kecil sayah…

    dulu, teman2 saa yang sering banget maen rumah – rumahan…ada ibunya, ada ayah, dan ada anak – anaknya.
    semuanya berperan seolah – olah mereka adalah bapak, ibu dan anak sungguhan.

    dan peran saya apa?tentu saja destroyer…saya ini tukang rusak permainan, terutama yang kayak rumah – rumahan ato pasaran.
    ada kepuasan tersendiri saat pemain2 tersebut pulang diiringi tangisan meskipun semua berakhir dengan jeweran di kupingku oleh Ibuku tercinta.

    Tapi aku setuju, permainan jadul lebi seru n bermanfaat serta gak perlu ngeluarin duit banyak (duitnya aja dari bungkus permen or daun)

    hehe5005x…

  2. mybenjeng mengatakan:

    kalo tempat saya masih ndeso banget, jadi dolanan seperti itu masih ada, walaupun bersaing sama Playstation…

  3. Nayz mengatakan:

    wah kangen juga sama dolanan masa silam.

    pengen main gundu !!

  4. suandana mengatakan:

    # Siwi
    Ooo… Jadi dari situ toh, asal muasalnya kamu belajar jadi destroyer? Tuh, banyak kan manfaat dari permainan jadul? Coba kalau belajar jadi destroyer di rental PS atau game online, bisa-bisa malah di-destroyed sama orang kan…😀

    # Pak mybenjeng
    Wah, asik dong Pak… Di tempat saya sudah jarang banget. Kalah sama PS dan sebangsanya…😦

    # Nayz
    Kalau dibuat MMORPG tentang gundu, gimana ya?
    *bergaya mikir*

  5. cakmoki mengatakan:

    beruntung saya tinggal di desa, jadi masih bisa melihat dolanan warisan leluhur …
    pingin ikut main, malu😛

  6. suandana mengatakan:

    Saya jadi iri nih, Cak…

  7. Ifa mengatakan:

    Dulu paling seneng kalo hari Minggu, diawali dengan abis subuh jalan-jalan sampe seberang desa, trus dilanjutkan dengan main kasti kalau udah puas main kasti pulang kerumah masing-masing untuk mandi dan sarapan, ndak berapa lama ngumpul lagi di rumah salah satu temen untuk nonton Unyil hehehe.. trus main lagi sampai Ibu manggil nyuruh mandi sore. Menyenangkan sekali.

  8. suandana mengatakan:

    *membayangkan… jalan-jalan rame-rame di hari minggu*

    Iya… Asik banget tuh…

  9. bumisegoro mengatakan:

    “Kadang saya jadi kepikiran untuk membuat ’sesuatu’ (bisa berupa web atau buku manual dolanan atau sesuatu yang lain yang belum pernah terpikirkan) yang dapat digunakan untuk melestarikan dolanan-dolanan masa silam itu. Sayang kan, kalau sesuatu yang memiliki begitu banyak manfaat bagi anak-anak, hilang begitu saja. Ada ide?”

    kite dukung ide mengupayakan pelestarian dolanan bocah. ayo kamu bisa😀

  10. suandana mengatakan:

    # bumisegoro
    Terima kasih atas dukungannya *terharu*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s