Dunia Tanpa Sekolah

Posted: 11 Juni 2007 in pendidikan, renungan

Kemarin jalan-jalan ke toko buku (liburan dikelilingi banyak buku itu menyenangkan, lho… coba aja). Di sana, sebenarnya ingin beli Senopati Pamungkas, tapi karena terbatasnya dana, akhirnya hanya membeli tiga komik (pesanan adek tersayang) dan “Dunia Tanpa Sekolah’, karangan Izza (seorang penulis muda yang pernah bikin heboh Indonesia karena memutuskan untuk keluar sekolah pada waktu UAN kurang 3 bulan).

 Dalam buku itu, Izza menceritakan proses keluarnya dia dari sekolah (salah satu SMP favorit di Salatiga). Izza mengklaim bahwa dia tertekan di sekolah, dan tidak bisa belajar dengan baik. Salah satu pernyataannya adalah

“…tentang guru yang mempermalukan muridnya di muka umum, tentang guru yang menggunakan jangka sebagai alat untuk menghajar, dan guru yang membuat kelas jadi sesunyi kuburan dengan dalih menciptakan suasana kondusif…”

Jadi kepikiran… Bagaimana anak-anak saya (sekarang ada 1200-an), ya? Apa yang sebenarnya mereka rasakan saat saya mengajar? Bosan? Asik? Atau sudah putus asa menghadapi sekolah, sehingga nrima begitu saja apapun yang diberikan, tidak peduli itu baik atau buruk?

Pernyataan lain dari Izza adalah

“…kenapa masyarakat menganggap aneh orang yang ingin belajar tapi tidak sekolah, sementara orang yang sekolah tapi tidak belajar itu wajar…”

Ah, bagaimana ini?

Komentar
  1. TakodokGila! mengatakan:

    Eh, bgs gak buku na? Wktu ke Gramed, liat buku ini jg. Sptnya menarik. Sempet bolak-balik buku ini sebentar, liat di bag.blkg, ktnya yg menulis itu bapak nya Izza, atau saya salah baca ya? Tuing!

    Quote yg terakhir itu lho, miris…😦

  2. suandana mengatakan:

    # Mbak Desti
    Lumayan… lumayan… Yang nulis itu Izza-nya sendiri, dan bapaknya ikut memberikan komentar di bagian depan. Ayo… beli… beli… (provokasi nih)

  3. cya mengatakan:

    anak yang kritis.. jd penasaran sm bukunya.
    kl gag salah di salatiga ada beberapa anak yang memilih mengganti ujian akhir dengan proyek kreatif gitu kan ya?
    coba aja, bagiin kuesioner ke murid-muridmu.
    tanya pendapat mereka ttg apa yang mereka rasakan saat kamu mengajar ^^

    salamkenal!

  4. suandana mengatakan:

    # Mbak Cya
    Salam kenal juga, Mbak Cya… (Tapi, saya kan sudah beberapa kali berkunjung ke tempatnya Mbak). Eh, saya baru mendengar soal mengganti ujian akhir dengan proyek kreatif. Asik juga itu, jadi mirip TA di perguruan tinggi (eh, maaf… menyinggung wilayah sensitif nih).
    Idenya menarik nih, mulai rancang pertanyaan buat kuesioner, ah…
    Terima kasih banyak…

  5. Rifu mengatakan:

    Ayo… beli… beli… (provokasi nih)

    kalau pinjem langsung ke Mas Adit boleh ga?🙂

    hmmm, kalau dengan pengalaman Mas Adit sebagai guru, suasana yang kondusif itu kaya apa? saya pernah dulu waktu SMA “ngajar” di kegiatan ekskul. wuih, capeknya minta ampun, soalnya suasana nya “tidak terkontrol”, anak-anak pada nanya terus tanpa henti. padahal itu cuma sama sekitar/gak nyampe 10 orang. apakah ini termasuk suasana tidak kondusif?

  6. suandana mengatakan:

    # Rifu
    hehehehe… Bukannya saya pelit (*kenapa selalu diawali kalimat ini ya? ah, ngikut saja…*), tapi nanti sore bukunya mau diserahkan kepada Bunda, sekalian mau menengok anak-anak di kampung sana🙂
    Kalau saya sih, justru ingin suasana kelas yang seperti itu. Anak-anak bertanya, penuh perhatian, penuh minat akan topik yang dibahas… Wah, jarang-jarang saya menemukan kelas yang seperti itu (**ini berarti saya belum bisa menyampaikan topik dengan menarik**😦 , masih harus belajar banyak**).
    Wah, pernah jadi guru juga nih?

  7. Rifu mengatakan:

    huhuhu, cari pinjaman lain deh. btw, Mas Adit, saya pasang link ke sini dari blog saya yah?

    Wah, pernah jadi guru juga nih?

    jadi “guru”, hihihi… ngajarnya waktu itu di diklat ekskul soalnya. bukan ama murid beneran tapi sama adek kelas.

    Kalau saya sih, justru ingin suasana kelas yang seperti itu. Anak-anak bertanya, penuh perhatian, penuh minat akan topik yang dibahas… Wah, jarang-jarang saya menemukan kelas yang seperti itu (**ini berarti saya belum bisa menyampaikan topik dengan menarik** , masih harus belajar banyak**).

    hmmm, mungkin karena didukung oleh jumlah “murid” yang sedikit kali ya? jadi lebih ga malu gitu “murid-murid” nya. hal yang mungkin juga biasa ditemukan di kelas privat (makanya kelas privat itu mahal, capek soalnya). selain itu, karena itu klas ekskul, yang ikut jelas punya minat, soalnya ekskul kan ga wajib. begitu…

  8. suandana mengatakan:

    Oke, boleh… Saya masih berkutat dengan teknik untuk membuat blogroll **belum sukses, masih belajar nih😦 **

    Yup, seharusnya kelas yang ideal itu memang tidak terlalu besar (jumlah siswanya). Semakin sedikit, semakin baik…

    Pernah mentransfer ilmu, berarti sudah jadi guru tuh…🙂

  9. hy.noor mengatakan:

    di satu sisi terharu. ternyata ada anak yang secara umur kalender masih kecil, tapi terkesan matang. bahkan berani, kalau bagi saya. saluut! pasti ada sesuatu nech dengan anak ini. dia punya lingkungan belajar yang luar biasa???

    tapi mirisnya… jangan2 dia mendapatkan bukan di lingkungan sekolah… atau malah lingkungan sekolah “mengkrangkeng”.
    duuh…selaku guru, bagaimana nech wajah sekolah sekarang ini???

  10. suandana mengatakan:

    # hy.noor
    yup… memang begitu. kalau lingkungannya sih, orang tuanya kebetulan adalah seorang guru🙂

  11. yui mengatakan:

    REPOT DENGAN URUSAN SEKOLAH

  12. yui mengatakan:

    SEMOGA SEKOLAH BISA DIBUBARKAN. BIAR GAK NGABISIN DUIT.

  13. bambang mengatakan:

    ya ini buku sensasional. pertama kali baca buku ini hanya bagian belakangnya uda kerasa dalemnya… memang aku merasa ada sih kekurangannya, rasanya waktu baca buku ini keseluruhan masih ada kurang gregetnya, atau emosi yang dimainkan di buku ini masih naik turun… mungkin kalao di mainkan dari mulai adem ke yang mainkan emosi tinggi bisa lebih asyik…
    tapi di luar itu, crita yang perjuangan Izza itu yang menjadi point plusnya… sungguh perjuangan yang kalau diliat dari usia Izza, jauh dari pemikiran anak seusianya… perjuangan yang hebat….
    Oh ya… aku Bambang mahasiswa tingkat akhir fakultas psikologi lagi menyekesaikan TA… nah ada dilema buat aku sebenarnya, tapi akhirnya aku putuskan akan mengangkat buku ini dan menganalisisnya….
    aku ingin mengangkat topik ini langsung di lembaga pendidikan formal….
    lagi butuh bantuan comment serta alasan teman-teman mengenai buku ini… mohon bantuannya….
    thx bgt atas perhatian teman-teman… bagi saya anda lebih baik dan memiliki pemikiran kritis untuk kemajuan arti pendidikan sebenarnya dari pada yang mengatakan mereka pemerhati pendidikan, tetapi hanya memanfaatkan untuk kepentingan pribadi…. thx atas bantuan commentnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s