cinta antara guru dan murid…

Posted: 23 November 2007 in cerita

another curhat…

Menjadi seorang guru muda, bujang (single and available), dan berpenampilan menarik (seperti saya, gitu loh… :oops: )di sebuah sekolah menengah atas memiliki nilai plus dan minus. Perbedaan usia yang tidak terlalu jauh, membuat sang guru dapat menjalin hubungan yang lebih dekat dengan anak-anaknya. Sang guru akan lebih mudah memahami jalan pikiran anak-anak, sehingga dapat menerapkan metoda pembelajaran yang lebih menarik dan membuat anak-anak memahami sepenuhnya apa yang hendak disampaikan oleh sang guru. Faktor perbedaan usia yang sama akan membuat anak-anak tidak terlalu merasakan hambatan mental yang besar saat hendak curhat tentang masalah yang mereka alami, sehingga masalah itu akan lebih cepat terpecahkan dan membuat mereka dapat lebih fokus pada pelajaran.

Oke, itu adalah nilai plus-nya. Terus, nilai minus-nya apa?

Nilai minus akan muncul pada saat salah satu di antara kedua pihak yang terlibat dalam hubungan itu salah mengartikan hubungan mereka… Agar lebih jelas, saya akan coba mengilustrasikan nilai plus dan minus menjadi seorang guru muda, bujang (single and available), dan berpenampilan menarik (seperti saya :D ) di sebuah sekolah menengah atas dalam cerita berikut …

***
Alkisah, di sebuah kota kecil yang terletak di sebuah lembah nan subur yang dikelilingi oleh pegunungan namun tidak terkucil dari wilayah luar sehingga pertukaran informasi dan budaya serta perdagangan berlangsung lancar, berdirilah sebuah sekolah menengah kejuruan yang sebagian besar siswanya berjenis kelamin perempuan. Sekolah tersebut merupakan sebuah sekolah yang terkenal karena merupakan sekolah kejuruan pertama dan terbesar yang ada di kota kecil itu. Lulusannya menguasai banyak sektor kehidupan kelas menengah ke bawah di kota kecil itu. Cobalah bertanya pada seorang penjaga toko secara acak, tentang sekolahnya. Ada 80 persen kemungkinan sang penjaga toko akan menjawab bahwa dia merupakan alumni dari sekolah kejuruan yang kampusnya terletak di daerah pinggiran itu. Demikianlah keadaannya…

Waktu itu, tahun pelajaran baru dimulai. Seorang pemuda lulusan sebuah sekolah tinggi terkemuka di Indonesia memutuskan untuk menjadi seorang guru di sekolah kejuruan yang masih terus berkembang tersebut. Dengan penuh semangat, sang guru muda menyapa anak-anaknya, berkenalan dengan mereka, dan kemudian mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk membimbing anak-anak itu, mendorong mereka untuk membangun mimpi-mimpi yang belum pernah terbayang sebelumnya, membangkitkan motivasi mereka untuk berjuang keras agar dapat mewujudkan mimpi-mimpi itu, dan mempersiapkan mereka untuk meninggalkan kota kecil itu dalam rangka mewujudkan mimpi-mimpi indah itu.

Para siswa sekolah kecil itu menyambut sang guru muda dengan baik. Anak-anak itu belajar dengan sungguh-sungguh. Mereka rela bermandi keringat dan air mata demi menguasai ilmu serta keterampilan yang diajarkan oleh sang guru muda. Mereka mati-matian mengatur waktu yang mereka miliki agar dapat mengikuti sesi tambahan di luar jam sekolah namun tetap dapat membantu orang tua mereka dalam menjalani hidup yang tidak mudah. Mereka mulai berani bermimpi, sesuatu yang sebelumnya mereka anggap hanya menjadi hak bagi para siswa sekolah umum saja. Dan, beberapa di antara mereka telah siap untuk meninggalkan kota kecil tempat kelahiran mereka dalam rangka mewujudkan mimpi-mimpi yang telah mereka jalin di benak masing-masing.

Allah berfirman bahwa sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan dan di dalam kemudahan itu ada kesulitan. Demikianlah yang terjadi di sekolah kejuruan di kota kecil itu. Setelah kerja kerasnya mulai menampakkan hasil, sang guru muda dihadapkan pada sebuah masalah yang tidak kecil. Tidak semua anak-anaknya memiliki pemahaman yang sama akan cinta yang telah diberikannya kepada mereka. Sang guru muda menganggap bahwa cinta yang diberikannya kepada anak-anak itu adalah seperti cintanya pohon kepada burung-burung yang memberikan perlindungan dan penghidupan tanpa mengharap balasan agar burung-burung itu dapat terus mewarnai langit. Namun, beberapa di antara anak-anaknya itu mengartikan cinta yang tumbuh di antara mereka dan sang guru muda sebagai cinta antara sepasang merpati.

Sang guru muda jadi bingung menghadapi masalah ini. Jika dia, sebagai seorang guru, menerima cinta (ala merpati) yang diberikan beberapa anaknya itu, maka hubungannya dengan anak-anak yang lain akan jadi bermasalah. Dia akan kehilangan wibawanya di dalam kelas. Namun, jika dia dengan tegas menolak cinta (ala merpati), maka anak (yang ditolak)-nya itu akan patah hati dan level hubungan mereka akan kembali ke masa awal tahun pelajaran, padahal saat kelulusan sudah sedemikian dekat.

***

Bagaimana? Dapat melihat gambaran nilai plus dan minus dari menjadi seorang guru muda, bujang (single and available), dan berpenampilan menarik (seperti saya :mrgreen: ) di sebuah sekolah menengah atas? Kejadian dalam cerita itu dapat terjadi pada siapapun… termasuk saya juga -_- . Tidak, bukannya saya menyatakan bahwa cinta ala merpati yang terjalin antara guru dan murid (bahkan sampai berlanjut ke level yang lebih tinggi) itu adalah sesuatu yang salah. Sama sekali tidak. Saya menghormati pilihan banyak rekan guru yang melanjutkan mendidik anak muridnya untuk seterusnya. Mereka telah membuat pilihan, dan itu adalah sesuatu yang harus dihargai. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah pengaruhnya terhadap proses belajar mengajar.

Seperti yang menjadi bahan pertimbangan sang guru muda… Jika seorang guru menjalin cinta ala sepasang merpati dengan salah seorang anaknya (saya tidak menyebutkan gender karena hal ini dapat terjadi pada guru lelaki dan guru perempuan), maka kewibawaannya di kelas akan terganggu. Anak-anak akan cenderung tidak menganggap sang guru sebagai seorang guru. Apalagi jika sang guru menjalin cinta ala sepasang merpati itu dengan primadona kelas atau primadona sekolah. Kemungkinan terjadinya aksi ‘balas dendam’ dari mereka yang patah hati sangatlah besar…

Saya tidak punya data riil tentang hal ini, *ada yang punya?* namun saya pernah mewawancarai beberapa anak saya dalam beberapa kesempatan santai. Hasilnya, mereka cenderung lebih menyukai guru-guru yang tidak menjalin hubungan cinta ala sepasang merpati dengan anaknya. Bagaimana jika sudah lulus? tanya saya lagi. “Itu lain cerita, Pak” begitu jawab mereka dengan kompaknya.

Semua yang saya sampaikan di atas :roll: merupakan pemikiran pribadi saya sendiri. Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi panjang dengan seorang rekan yang juga masih melajang, padahal usianya sudah hampir 30 tahun, namun teguh berpendirian untuk tidak menikah dengan salah satu dari anak-anak kami. “Mereka itu anak-anak kita, Pak…” demikian katanya saat saya bertanya kenapa beliau tidak memilih salah satu dari 1000-an lebih siswi sekolah tempat kami mengajar. “… masak saya akan tega melakukan hal itu…” lanjutnya. Menariknya, pendirian beliau itu sama dengan pendirian kedua orang tua saya.

Yah, begitu lah… Ini merupakan pendapat pribadi. Namun, membuat sebuah pilihan adalah hak masing-masing individu. Dan, saya juga tidak setuju jika nanti ada aturan (tertulis) bahwa seorang guru tidak boleh menjalin cinta ala sepasang merpati dengan muridnya. Karena, sekali lagi, itu adalah hak asasi…

SEMANGAT!!!

About these ads
Komentar
  1. qzink666 mengatakan:

    Keduax.. :P
    selama sang guru tetap profesional (tidak memberikan nilai lebih pada ulangan, raport dan lain-lain karena faktor kedekatan itu) menurut saya gak masalah.. Tapi sepertinya susah ya? Bukankah setiap laki-laki/perempuan selalu pengen nyenengin pacarnya? Dan apalagi yg paling di senengi siswa/siswi kalo bukan nilai yg di atas rata-rata.. :)

  2. Calon Guru mengatakan:

    pada dasarnya (menurut saya sebagai orang yang baru berkecimpung dalam dunia pendidikan anak, meskipun blm jadi guru), tidak ada yang salah dalam suatu hubungan laki2 dan perempuan (meskipun itu guru-murid) asalkan tidak melanggar koridor yang sudah ditentukan agama.

    memang dilematis. biasanya; dalam hal ini dari sisi seorang guru; dia akan merasa “guilty” karena walaubagaimanapun seharusnya dia memposisikan diri sebagai seorang panutan, ayah, dan teman bagi siswanya. juga pandangan orang luar yang biasanya negatif terhadap guru yang menjalin cinta dengan muridnya.

    sejatinya, sebagai manusia yang sudah dewasa, guru harus bisa memposisikan diri sesuai kondisi dimana dia harus bertindak sebagai guru dan sebagai laki2 pada umumnya. tidak apa2 jika mereka (guru dan murid) itu jatuh cinta. tapi sebaiknya -karena lingkungan dan budaya masyarakat yang bisa saja menjudge jelek -maka tempatkanlah perasaan itu sesuai tempatnya. dan menahan diri.

    dan kalau memang sudah saling suka, menikah saja. tentunya kalau si murid sudah lulus :D

    eh,
    itu kata -kata:
    “guru muda, bujang (single and available), dan berpenampilan menarik (seperti saya :mrgreen: )”

    sampe diulang tiga kali :shock:
    pamer ya !!! :twisted:

  3. adeksetiawati mengatakan:

    mas suandana, yang masih muda, bujang (single and available) mendingan nikah aja biar ga bingung lagi :mrgreen:
    kalo tertarik sama salah satu murid? ditahan dulu sampe sang murid tamat he..he..he…
    apakah anda mengalami cerita diatas dalam kehidupan pribadi anda ? he..he..he..

  4. suandana mengatakan:

    # Calon Guru a.k.a eMina

    kalau memang sudah saling suka, menikah saja. tentunya kalau si murid sudah lulus :D

    Banyak kok, rekan guru yang memilih jalan tersebut… Dan, itu wajar saja. Namun, kalau menurut pendapat saya pribadi (dari hasil pengamatan), ada hambatan mental yang besar yang harus dihadapi oleh pasangan tersebut. Murid yang menikah dengan gurunya itu, terkadang menemui kesulitan dalam bergaul dengan teman-teman dari suami/istrinya (yang juga gurunya itu…). Bisa membayangkan? :)

    Kemudian, dari komen ketiga itu, kok saya melihat kalau Bu Mina ini men-judge bahwa gurunya itu adalah laki-laki ya? Dari pengalaman pribadi, ada rekan guru perempuan yang juga menikah dengan muridnya lho ;) … hanya saja, suaminya itu tidak dapat mengatasi hambatan mental yang saya sebutkan di atas itu :roll: , sehingga ada masalah dalam hubungan pertemanan dengan rekan-rekan istrinya…

    sampe diulang tiga kali :shock:
    pamer ya !!! :twisted:

    Bukannya pamer, tapi sekedar menyampaikan fakta saja :mrgreen:

    # qzink666
    Itu juga termasuk salah satu alasan kenapa saya berpendapat bahwa guru sebaiknya tidak menjalin hubungan cinta ala merpati dengan muridnya :D … Dan, itu juga salah satu alasan yang dikemukakan oleh anak-anak yang saya wawancarai tentang hal tersebut. Mereka cenderung menganggap bahwa guru bersangkutan tidak fair

    # adeksetiawati
    Anoo… Ada yang kurang… Kalimat berpenampilan menarik-nya jangan dilupakan dong… :mrgreen:

    mendingan nikah aja biar ga bingung lagi :mrgreen:

    Pengennya sih segera… Apalah daya, belum ada yang bersedia… T_T

    apakah anda mengalami cerita diatas dalam kehidupan pribadi anda ?

    Yah, itu sudah merupakan resiko menjadi seorang guru muda, bujang (single and available), dan berpenampilan menarik :mrgreen: di sebuah sekolah menengah atas. Dan, sampai saat ini, saya berusaha untuk tidak menjalin hubungan cinta ala sepasang merpati dengan anak-anak saya itu…

  5. takochan mengatakan:

    Kayak cerita komik aja. Trus..jgn2 pengalaman pribadi nih *curiga* :mrgreen:

    Pernah kejadian begitu, guru dgn salah seorang adik kelas. Parah, soale itu guru nyolot dan kurang disukai sebagian dari kami. Tapi… ya hubungan mereka gak berlanjut padahal gosip pertunangan sdh berhembus (halah!). Si guru skrg telah berumahtangga dgn org lain. Si murid? cari pacar baru dong! :mrgreen:

    Kesimpulannya: Sama aja. Mo guru-murid, senior-junior, teman sekelas, hub SLJJ, kalo jodoh ya jadi jg. Kalo gak jodoh, ketemu hambatan ya bubar jg.

    Moral cerita: guru muda, single, available, baik hati, tidak sombong, tidak nyolot, rajin menabung, nyebrang di zebra cross itu langkaaaaaa sekali! Makanya, museumkan mas Adit (krn sdh ngaku2)! :mrgreen:

  6. suandana mengatakan:

    # takochan

    jgn2 pengalaman pribadi nih *curiga* :mrgreen:

    :lol: Sudah saya jawab di komen untuk Mbak Adek kan? :lol:

    Kesimpulannya: Sama aja. Mo guru-murid, senior-junior, teman sekelas, hub SLJJ, kalo jodoh ya jadi jg. Kalo gak jodoh, ketemu hambatan ya bubar jg.

    Yup… Kesimpulan yang pas sekali… :D

    museumkan mas Adit (krn sdh ngaku2)! :mrgreen:

    E-lho… Saya ini dak ngaku-ngaku… Saya ini sekedar menyampaikan FAKTA! :lol: Dan, kalau saya di-museum-kan, jumlah guru muda, single, available, baik hati, tidak sombong, tidak nyolot, rajin menabung, dan nyebrang di zebra cross itu kan bakal semakin sedikit… :mrgreen:

  7. takochan mengatakan:

    Tanpa skrinsyut itu hanyalah HOAX! :lol:

  8. suandana mengatakan:

    # takochan
    Maksudnya, harus ngasih skrinsyut KTP bertuliskan ‘belum menikah’, skrinsyut waktu sedang menolong menyeberangkan nenek-nenek yang dak bisa nyeberang jalan, skrinsyut waktu masukkan uang ke bank, dan skrinsyut waktu sedang nyeberang jalan, begitu kah? Uhh, berat nian persyaratan itu… :?

    Kalo skrinsyut penampilan menarik kan dulu sudah pernah? Yang pake baju biru bergaris-garis itu lho… :mrgreen:

  9. takochan mengatakan:

    Oh, yg lagi ngambek itu :lol:
    Kurang akurat, tidak up to date, tdk berkorelasi apalagi monopoli :mrgreen: *ngaco, ngotorin blog org* :lol:

  10. suandana mengatakan:

    # takochan
    tidak berkorelasi dan monopoli? maksudnya?

    kalau soal up to date-nya, dak terlalu jauh beda kok… malah jadi lebih cakep :mrgreen:

  11. nieznaniez mengatakan:

    dosen saya ganteng. saya suka. tapi ternyata dy adalah ayah teman sekelas saya. ahahhaaaa…patah hati lah saya.

  12. suandana mengatakan:

    # nieznaniez
    Jadi, seandainya beliau itu bukan ayah dari teman sekelas, bagaimana?

  13. eMina mengatakan:

    —-suandana—-
    gurunya yang wanita???? :shock:

    jadi si wanita itu lebih tua banget? :shock:

    *pingsan*
    <— ga suka pasangan yang wanitanya lebih tua

    —-nieznaniez—-
    masalah dosen ganteng ya….
    saya jg pernah mengagumi dosen sih, tapi bukan krn beliau ganteng ,tapi krn cara mengajar beliau.
    bagi sy, beliaulah pengajar sejati….
    sampai saya pernah menangis di kelas waktu di ajar beliau saking terharunya..

    but, beliau itu umurnya 40-an dan sudah menikah.. :(

    yah…tetap semangat untuk beliau !!!!

  14. itikkecil mengatakan:

    ini pengalaman pribadi ya….
    *dirajam*
    beberapa bulan yang lalu di sini ada kasus murid yang diperk*sa gurunya sendiri. Hal seperti ini yang harusnya dihindari.
    IMO, sebaiknya kalau memang masih berinteraksi sebagai guru dan murid, kedekatan personal semacam ini dihindari.

  15. suandana mengatakan:

    # eMina
    Nggak lebih tua banget, sih… Yah, sekitar 6-7 tahun lebih tua gitu… :P

    # Mbak Ira
    *rajam Mbak Ira pakai brosur kamera D 80*

    Wah, :shock: :( Nah, itu juga termasuk efek negatif dari hubungan guru dan murid yang kebablasan…

    IMO, sebaiknya kalau memang masih berinteraksi sebagai guru dan murid, kedekatan personal semacam ini dihindari.

    *dukung Mbak Ira*

  16. eMina mengatakan:

    –suandana—
    jadi intinya…anda menjalin hbubungan dengan murid anda sendiri, dan akan menikahinya?

    selamat !!!!

    *ngeloyor kabur*
    *berlalu*

  17. baliazura mengatakan:

    temen saya juga ada yang menikah dengan muridnya dan itu karena resiko jadi guru muda,lagian guru muda lebih enak ngajarnya mungkin lebih releks dari pada guru udah galak tua,dan menyebalkan

    lanjutkan perjuangan anda
    semangattt

  18. alief mengatakan:

    jodoh sudah diatur oleh-Nya jadi gak perlu diatur tertulis… :)

  19. suandana mengatakan:

    # eMina
    HAAH???!!! :shock: Bagaimana caranya, sehingga dapat menarik kesimpulan seperti itu??? :shock: Pembunuhan karakter, nih!!! :shock:

    # baliazura
    Memang, banyak guru yang menikah dengan muridnya, namun saya berusaha untuk tidak melakukannya. Mereka itu anak-anak saya sendiri… SEMANGAT!!!

    # alief
    Iya, makanya saya menentang upaya membuat aturan tertulis yang melarang guru menikah dengan muridnya… :)

  20. eMina mengatakan:

    absolutely not.
    tidak bermaksud begitu.

    …………………

    *salah omong lagi ya..*

  21. suandana mengatakan:

    # eMina
    Oo… tidak bermaksud begitu toh… Ya sudah lah…

  22. amel mengatakan:

    jodoh emang dah ada yang ngatur tapi kalo g usaha? dan salah satu usaha (mungkin) dengan cari di lingkungan sendiri ;)
    btw, kalo pak adit-yang konon menurut ceritanya guru muda, bujang (single and available), dan berpenampilan menarik :mrgreen: )- disukai muridnya gimana?
    surveynya ke diri sendiri ya? ;)

  23. suandana mengatakan:

    # amel

    …salah satu usaha (mungkin) dengan cari di lingkungan sendiri ;)

    Iya sih… Tapi… *jadi speechless*

    kalo pak adit-yang konon menurut ceritanya guru muda, bujang (single and available), dan berpenampilan menarik :mrgreen: )- disukai muridnya gimana?

    Lah… Kok pake’ konon sih? Itu kan FAKTA! :twisted:
    Kalo saya disukai sama murid, ya ALHAMDULILLAH… Karena, rasa suka itu harus ada, agar proses belajar mengajar berjalan asik. Namun, saya berusaha agar ‘suka’-nya itu tetap dalam koridor guru-murid. Murid itu, bagi saya, sama seperti anak saya sendiri (walaupun beda umurnya tidak terlalu jauh)… :)

    surveynya ke diri sendiri ya? ;)

    … Sebagian, sih… :lol:

  24. cloud mengatakan:

    sore pak gulu…
    saya seorang murid dan dah menjalin sama mantan guru…
    dan, gak ada salahnya sih, kan dia gk terkait dengan lembaga skul…
    but, tetep aja…
    dipisahkan dan sangat ditentang ortu n orang sekitar.
    Hiks…
    haruskah,,,…

  25. suandana mengatakan:

    # cloud
    sore…

    dipisahkan dan sangat ditentang ortu n orang sekitar.

    Mungkin ortu punya pendapat lain, berdasarkan pada pengalaman hidup mereka… Iya, kan? :)

  26. cloud mengatakan:

    alsannya ortu…..sebagai berikut:
    1. dia itu guru,harusnya mendidik, bukan macarin
    2. beda umur 13 tahun
    3. beda agama
    4. beda suku
    5. prioritas sebagai anak 14 tahun ialah sekolah, emang dah mo nikah besok???

  27. suandana mengatakan:

    # cloud
    Alesannya standar n normal kok… Sebagian besar orang tua juga akan memberikan alasan yang sama seperti itu.

    Kalau menurut saya… Kecuali yang nomor 3, semua alasan itu masih dapat di-nego-kan… Apalagi alasan yang nomor 4. Sudah ndak jaman lagi, tuh.

    Tapi, sebagai seorang guru, saya ya harus mendukung alasan yang nomor 5. Dengan beda umur segitu, apakah ‘dia’ itu mau menunggu sampai cloud lulus SMU? Batas bawah menikah (yang diijinkan di Indonesia) adalah 20 tahun CMIIW lho…

    Well, you know what’s best for you… Iya kan? :)

  28. Rain_h34rt mengatakan:

    saya juga seorang guru n mungkin seperti suandana. Terkadang resiko seorang guru muda itu adalah bagaimana supaya persepsi anak terhadap kita itu tetap pada jalur rasa suka sebagai guru. Apalagi di kota – kota besar yang notabene pemikiran murid – muridnya yang lebih aktif terkadang menganggap perlakuan kita berlebihan. Namun satu yang pasti, pada awalnya siswa itu hanya kagum terhadap kita, perasaan itu lama – kelamaan akan stagnan di posisi suka sebagai guru. Paling hanya beberapa murid saja yang masih berpendirian lebih. Contoh ada seorang siswi kelas 2 yang menggagumi saya. Jadi setiap saya ultah n hari valentine, dia selalu memberi saya sesuatu. Kegiatan saya selalu di monitor dan sering sms saya. Namun jarang saya gubris. Pada akhirnya yach lama – kelamaan perasaan itu akan hilang dan akan berubah dgn org lain yang lebih sepadan dengan dia.

  29. Aan mengatakan:

    kalau menurut sya tdk da mslh slma tdk menyalahi undang2 asusila yg da dan yg plg ptg gru tu sndri hrs tau kpn dia jd pcr atau kpn dia jd muridnya intinya hrs tau sikon

  30. ari firmansyah,S.Pd mengatakan:

    saya termasuk guru yg memilih murid sbg istri…….
    awalnya gk kepikiran atau berencana…namun tuhan berkata lain…….. pada awal mengajar+jadi wali kelas anak tsbt…biasa saja namun setelah empat bulan berlangsung karena hasil istikhoroh….musyawarah dg kiai perpengaruh di daerah sekolah tsbt…dan minta ijin kepala sekolah akhirnya dg keputusan tekan bulat bahwa dia pilihan terbaik versi isthikhoroh dan juga siap menanggung segala resiko maka saya melamar ank tsbt sbg tunangan kels 2 sma dan akhirnya menikah setelah lulus kelas 3 sma.dan alhamdulillah perjalanan hidup lebih bahagia,melimpah dan tambah sukses….karna yg awlnya guru honorer skrng menjadi pn plus px usaha swalayan dan onderdir otomotif…itulah berkah px istri hasil istikhoroh siapapun pilihannya…..saya tidak ragu….karna yakin dia pembawa keberkahan hidup…..salam sukses tuk semua..

  31. Bang Uddin mengatakan:

    SELAMAT LEBARAN DALAM BERBAGAI BAHASA DI DUNIA

    Indonesia : Selamat Lebaran, Selamat Idul Fitri
    Banjar : Salamat Bahari raya
    Jawa : Sugeng Riyadin
    Padang : Selamet Idul Fitri
    Sunda : Wilujeng boboran siyam
    Afghanistan : Kochnay Akhtar
    Arab : Aid Mubarok
    Bangladesh : Rojar Eid
    Belanda : Eigendom Mubarak
    Bosnia : Ramazanski Bajram
    Bulgaria : Pritezhavani Mubarak
    Chech : Vlastnictvi Mubarak
    Cina : Guoyou Mubalake
    Denmark : Ejet Mubarak
    Finladia : Omistama Mubarakiin
    Inggris : Happy Eid El Fitr
    Israel : Bebe’lanat Mawba’rak
    Itali : Proprieta Mubarak
    Jepang : Chuuko Mubaraku
    Jerman : Besitz Mubarak
    Korea : Junggo mubarakeu
    Kroasia : Vlasnistvu Mubarak
    Kurdishtan : Cejna Remezanê
    Malaysia : Salam Aidilfitri
    Mesir : Ed Karim atau Eid Sahid
    Nigeria : Sallah
    Perancis : Fete de l’aid
    Persia Iran : Eid-e-Sayed Fitr
    Polandia : Wlasnosia Mubarak
    Portugis : Mubarak propriedade
    Rumania : Mubarak aflate in proprietatea
    Rusia : Prinadlezhashchikh Mubarakj
    Senegal : Korite
    Spanyol : Mubarak, de propiedad
    Swedia : Agda Mubarak
    Turki : Ramazan Bayrami
    Urdu India : Choti Eid
    Yunani : Aneekoeen Moeemparak

  32. Guru_muda_yg_terlanjur_ganteng mengatakan:

    Sip.Saya terus terang saja pernah seperti itu.Dan itu salah satu kenekatan saya yg amat sangat saya sesali.Solusi nya? Tunggu lulus ja.Hehehe

  33. tri mengatakan:

    tpi kisah cintaku sma guruku itu beda. aku malah dicuekiun trus. dia tu memperlakukan aku berbeda sma murid lain

  34. Wonnnnnnnn mengatakan:

    Kalo anak murid nyatain cinta sama guru gimana ?

    • Pierre Pattiselanno mengatakan:

      Tolak sekeras-kerasnya rasa cinta itu !!! Saya pernah dinyatakan suka oleh murid dan pada akhirnya murid itu saya hukum sekeras-kerasnya !!! Mendingan jadi guru keras (tapi untuk hal yang benar) daripada guru genit yang tidak profesional dan amat sangat tidak terpuji !!! Berdoa agar raa cinta itu (dari guru dan/atau murid) dihilangkan oleh Tuhan/Allah. Doa untuk maksud yang baik (profesionalisme) amat pasti dikabulkan, Amin.

  35. Pierre Pattiselanno mengatakan:

    Seorang guru itu adalah panutan dan orang tua kedua bagi murid-muridnya. Saya seorang guru, seorang guru harus menjaga etika profesionalisme. Jadi menurut saya, kalau guru memiliki rasa cinta/suka dengan murid itu hukumnya HARAM dan itu merupakan perbuatan yang AMAT SANGAT tercela !!! Kalau rasa itu sampai ada, berdoalah sekuat-kuatnya agar Tuhan/Allah menjauhkan rasa itu dari hati para guru dan murid. Memang di luar dunia pekerjaanmu (lembaga pendidikan) apakah tidak ada cewe/cowo lain lagi? Dunia ini luas, tidak selebar daun kelor !!!

  36. kinan mengatakan:

    suami saya seorang guru muda di sekolah menengah atas.. dari kami msh pacaran dia sudah berselingkuh dengan salah satu murid di sekolah tempat dia mengajar.. lalu saat ketahuan saya mereka pun putus lalu kami pun menikah..
    tapi ternyata suami saya masih tetap melanjutkan hubungan lebih itu dgn murid tersebut pdhl kondisi saya sedang hamil..
    sampi saya nelahirkan pun mereka diam2 masih menjalin hubungan..
    suami saya selalu membela selingkuhannya itu dan murid itu pun semakin tidak menghargai saya..
    sampai akhirnya suami saya meninggalkan saya..
    menurut saya hubungan itu buk hak asasi..
    tapi hubungan itu merusak rumah tangga..

  37. Pierre Pattiselanno mengatakan:

    Sebenarnya tidak ada aturan umum dalam hal ini dan saya (seorang guru) takkan menceramahi kalian semua para pembaca. Saya hanya sharing saja.

    Saya (Pierre Xaverius Pattiselanno) memiliki aturan
    1. dari “diri saya sendiri”
    2. untuk “diri saya sendiri”
    3. oleh “diri saya sendiri”
    bahwa, saya TIDAK AKAN MENIKAHI MURID-nya “diri saya sendiri” hehehe ALIAS takkan menikahi murid dengan berbagai alasan:

    1. Guru bagaikan orangtua bagi murid (yah at least se-lichting orangtua/om/tante/encang/encing dll kita) thus, guru satu level di atas murid (sedekat apapun beda usia mereka) jadi GURU JANGAN MENURUNKAN LEVEL dan/atau MURID JANGAN MENAIKKAN LEVEL. Maksudnya status kekeluargaan dalam dunia pendidikan gitu.

    2. Guru (apalagi jaman sekarang) harus bersikap profesional dengan menempatkan diri sebagai seorang yang sedang menjalankan tugas yang didapatnya dari TUHAN. Guru bisa hidup dari iuran para muridnya, terus terang saja.

    3. Guru adalah tenaga pendidik (mengenai attitude dan behavior) dan pengajar (mengenai skill dan knowledge). Ok, kembali ke poin “pendidik”. Bagaimana guru bisa MENDIDIK MURID DENGAN BENAR kalau saling naksir seperti itu?

    Poin ini tetap berlaku sampai muridnya sudah puluhan tahun lulus. Profesi guru adalah MULIA jangan di-CEMAR-kan dengan rasa naksir2an yang TIDAK BAIK dan TIDAK BENAR.

    Saya (jujur tidak munafik) pernah juga naksir satu/beberapa murid. Tetapi, saya ber-DOA dan ber-SERU kepada TUHAN ALLAH dengan se-KUAT2-nya: agar rasa naksir itu di-CABUT SAMPAI KE AKAR2NYA, supaya dedikasionisme dan profesionalisme tetap bercokol dalam hati.

    Sekian pendapat/share dari saya, mohon maaf kalau ada yang tersinggung; terimakasih, salam sejahtera. AMIN

  38. lia azha mengatakan:

    it bisa aja terjdi,krna kbaikan dan ktulusan guru bsa membuat si murid jatuh hati

    emang ga etis dnger murid suka ama guru apalagi udah menikah

    tapi..namanya cinta,yaah tanpa pandang lg
    saya sbg murid jg merasakan hal it

  39. guru muda mengatakan:

    Usia q 27th q seorg gru d sbuah SMP negeri ddaerah,krn suami q mninggal 1,5th yg lalu otomatis stat q mnjadi single parent dg 1 ank,,q ga tau q trmsauk gru muda atw bkn,tp skrg q lg dlm mslh dilema tngkat tinggi ada seorg siswa kls 9 yang mnyatakan cinta’a,,q ingin mnolak’a krn apa kta dunia klu q smpai ada hub dg laki2 yg usia’a 12th dibwah q,,tp bbrpa tmn q mnyarankan utk tdk mnolak’a dg alasan takut ank itu down krn ank seusia’a msh dlm msa transisi,msh labil jd tkut mmpengaruhi prestasi bljar’a krn sbentar lg UN,,kira” mas pnya sran g q hrz ky gmn???

  40. ahmad mengatakan:

    saya pernah ,engalami hal itu,,
    nice closing, “cinta adalah hak asasi”

  41. kowor kamen mengatakan:

    inilah sistem pendidikan yang tidak di syar,iy,, yg mana di situ terjadi ikhtilat campur baur laki2 dan wanita yg bukan mahrom,, sekolah secara umum kebanyakan isinya iktilat,,,yang mana ini termasuk penyimpangan dalam islam,, dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan dalam sekolah umum,,, cinta yg di benarkan adalah cinta setelah terjalin pernikahan,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s